Waspada
Waspada » Peran Guru Makin Penting Di Era Global
Aceh Pendidikan

Peran Guru Makin Penting Di Era Global

Kadisdik Aceh Rachmat Fitri HD. Peran guru makin penting di era global. Waspada/Ist
Kadisdik Aceh Rachmat Fitri HD. Peran guru makin penting di era global. Waspada/Ist

KOTA JANTHO (Waspada): Pemerintah Aceh terus bersemangat untuk melaksanakan pengembangan dan pembangunan di sektor pendidikan melalui payung Qanun Aceh Nomor 9 tahun 2015 tentang penyelenggaraan pendidikan.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, H. Rachmat Fitri HD, mengatakan peran guru semakin penting dalam era global. Melalui bimbingan guru yang profesional, siswa dapat menjadi sumber daya manusia berkualitas, kompetitif dan produktif sebagai aset nasional dalam menghadapi persaingan yang ketat di masa datang.

“Dalam melaksanakan tugas profesinya guru Indonesia menyadari perlu ditetapkan kode etik guru Indonesia sebagai pedoman bersikap dan berperilaku yang mengejewantah dalam bentuk nilai-nilai moral dan etika dalam jabatan guru sebagai pendidik putera-puteri bangsa,” ujarnya.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Aceh, saat membuka pelatihan instruktur guru SMA dan pelatihan pendalaman materi pelajaran umum bagi guru SMA dan SMK Tahun 2020, yang berlangsung Kamis (05/11) malam, di Batoh, Aceh Besar.

Mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2008 tentang guru, sebut Rachmat, mengamanatkan guru wajib memiliki kualifikasi akademik minimal S1 atau D-1V, kompetensi, dan sertifikasi pendidik.

“Selain itu, sesuai perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, guru harus meningkatkan kompetensinya secara berkelanjutan. Guru pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, memfasilitasi, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada satuan pendidikan jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah,” terangnya.

Itu sebabnya, kata Kadisdik Aceh, definisi guru bersifat kompleks, bukan hanya transfer pengetahuan kepada murid, melainkan bertugas mendidik murid, yakni memberikan seluruh pengalamannya kepada murid, agar murid memiliki banyak pengalaman, sehingga mampu membedakan benar dan salah.

Dikatakannya, guru memiliki kewajiban membimbing murid, dari yang tidak tahu menjadi tahu, dan dari yang tidak bisa menjadi bisa, serta dari yang salah menuju benar. “Jadi guru tidak boleh memvonis seorang murid tertentu karena nakal, tidak sopan, kurang cakap menangkap ilmu, dan sebagainya. Melainkan guru harus mampu membimbing dan mengarahkan muridnya menjadi lebih baik,” imbuhnya.

Kata Rachmat, seorang guru juga harus menilai dan mengevaluasi muridnya, baik secara kognitif, afektif, maupun psikomotoriknya. apa-apa yang kurang baik, hendaknya diperbaiki, dibimbing dan diarahkan menjadi lebih baik.

Kata ia, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) wadah kegiatan profesional para guru mata pelajaran yang sama pada jenjang, SMA/MA/SMALB, dan SMK/MAK secara bersama-sama melakukan kegiatan meningkatkan kapasitas dan mengatasi masalah yang berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan.

Terutama, ungkapnya, permasalahan perangkat pembelajaran, materi, model, penilaian dan pengelolaan kelas serta alat peraga pembelajaran terutama media pembelajaran berbasis TIK.

Pelatihan yang pesertanya guru-guru SMA/SMA ini adalah salah satu upaya Pemerintah Aceh mengembangkan kapasitas guru-guru untuk menjadi seorang instruktur profesional, di samping kompetensi lain yang wajib dimiliki guru yaitu kompetensi pedagogik dan akademik.

Panitia pelaksana yang juga Plt Kepala Bidang GTK Disdik Aceh, Teuku Miftahuddin, mengatakan kegiatan tersebut berlangsung 5-8 November 2020.

Peserta pelatihan instruktur bagi guru SMA dan pelatihan pendalaman materi pelajaran umum bagi guru SMA dan SMK tahun 2020 itu, sebutnya, berjumlah 120 orang yang terdiri dari guru-guru SMA dan SMK dari Kabupaten/Kota se-Aceh. (b05)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2