SIGLI (Waspada) : Kabupaten Pidie memiliki banyak potensi, mulai dari pertanian, perkebunan, pariwisata, kuliner, bahkan pada sektor kelautan.
Disektor kelautan, para nelayan Kabupaten Pidie berharap pemerintah pusat dapat membangun kolam labuh di Kota Sigli. Dengan adanya kolam labuh, selain dapat mendukung kesejahteraan nelayan, juga akan terwujut sentra perikanan lebih terpusat di Kabupaten Pidie yang berdampak pada pertumbuhan positif sektor perikanan.
Sekretaris Panglima Laot,Kabupaten Pidie, Marfian, Kamis (3/4) mengungkapkan lembaga Panglima Laot Kabupaten Pidie sudah beberapa kali menyampaikan aspirasi para nelayan kepada Pemkab Pidie, agar pemerintah pusat dapat membangun kolam labuh yang dirancang sebagai pusat kegiatan terpadu atau one-stop business.
Kolam labuh ini kata dia dapat dibangun di bekas pelabuhan lama Kota Sigli. Kata Marfian, berdasarkan data pihaknya, Kabupaten Pidie memiliki 120 unit kapal penangkap ikan ukuran 10 GT, sehingga butuh kolam labuh terpadu agar memudahkan operasional nelayan.
Selain itu, dikawasan pantai Kabupaten Pidie, terpaut 30 mil laut Kota Sigli terdapat terumbu ikan alami. Yaitu, berupa karang atau daratan dangkal yang terletak di dasar laut. Terumbu alami ini secara otomatis kata Marfian menjadi tempat berkumpulnya ikan.
Di daerah itu pula sekarang kapal kapal nelayan dari berbagai daerah dari Aceh dan Sumatra, seperti kapal dari Pidie Jaya, Sibolga, Langsa, Idi, Lhokseumawe, Bireun, Banda Aceh, Aceh Besar, dan boat boat dari wilayah Pantai Barat Selatan datang melempar rumponya.di daerah tersebut.
Marfian, menuturkan dengan adanya fasilitas Kolam Labuh tersebut, kemudahan lain bagi nelayan adalah bisa mengurus segala keperluan administrasi dan legalitas di satu tempat tanpa harus bolak balik ke berbagai instansi. Kolam labuh juga akan menyasar kebutuhan nelayan pasca melaut.
Sekarang ini, ungkap Marfian slah satu kendala besar yang sering dihadapi nelayan di Pidie adalah kesulitan dalam memasarkan hasil tangkapan, terutama saat tangkapan sedang melimpah.
Kabupaten Pidie yang memiliki 2 PPI dan 22 TPI tersebar diberbagai kawasan, kata Marfian membutuhkan biaya angkut yang cukup besar.
Dia mencontohkan biaya angkut dari PPI Kuala Tari, Kembang Tanjong ke Kota Sigli membutuhkan biaya sekira Rp120.000/ fiber. Belum lagi dari TPI Laweung, Kecamatan Muara Tiga, nelayan harus mengeluarkan biaya angkut ke Kota Sigli sekira Rp200.000/fiber.
Karena jaraknya yang jauh, sehingga para nelayan terkadang terpaksa menjual ikan dengan harga yang murah, karena sulit menemukan pasar yang tepat. Untuk mengatasi masalah ini, sehingga perlu dibangun kolam labuh yang terpadu dan terpusat di Kota Sigli.
Selain itu dengan adanya Kolam labuh terpadu tersebut proses jual beli ikan bisa lebih transparan dan nelayan bisa mendapatkan harga yang lebih kompetitif.
Marfian, mengungkapkan dengan adanya Kolam Labuh, pemerintah Kabupaten Pidie juga dapat pendapatan daerah (PAD) melalui sektor pariwisata.
Dengan hadirnya kolam labuh, pengembangan dan peningkatan sektor pariwisata bahari Kota Sigli akan menarik minat wisatawan lokal, maupun internasional sebagai langkah peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Dan sebut dia Kota Sigli, khususnya Kabupaten Pidie memiliki sejumlah potensi objek wisata yang menjanjikan sehingga pemerintah pusat perlu mendukung pembangunan Kolam Labuh di Kota Sigli.
Tentu saja, ujar dia pemerinta perlu melakukan pembangunan dengan metode pengembangan objek wisata berkelanjutan yang dapat memberikan dampak jangka panjang bagi lingkungan sosial, budaya, ekonomi yang berpengaruh bagi seluruh masyarakat Kabupaten Pidie dari wisatawan yang berkunjung.
Sebagaimana diketahui, Kabupaten Pidie yang memiliki jumlah penduduk 444.8898 jiwa (data penduduk 2023), ini merupakan salah satu daerah terbanyak penduduk kedua di Provinsi Aceh setelah Kabupaten Aceh Utara.
Karena itu pemerintah pusat perlu memperhatikan pembangunan daerah ini agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya, dengan memanfaatkan potensi potensi alam yang ada.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Pidie Safrizal kepada Waspada mengatakan terkait dengan aspirasi para nelayan Pidie, pihaknya telah melakukan survey untuk rencana pembangunan Kolam Labuh di Kota Sigli.
Pemkab Pidie dibawah kepemimpinan Bupati Pidie Sarjani Abdullah dan Wabup Alzaizi, akan memperjuangkan cita cita dan harapan para nelayan Pidie hingga tingkat pusat.
Merespon aspirasi masyarakat nelayan Pidie tersebut kata Safrizal, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pidie telah membuat usulan Rencana Induk Pelabuhan. nasional (RIPN) ke pemerintah pusat, namun sebut dia proses hadirnya Kolam labuh itu masih panjang dan masih perlu perjuangan sama sama.
“Kami sangat berharap seluruh elemen masyarakat agar mendukung Pemkab Pidie dalam menghadirkan kolam labuh di Kota Sigli sesuai harapan dan cita cita masyarakat nelayan Pidie semua,” pintanya.(b06)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.