Pembangunan PLTA Peusangan Didominasi Pekerja Lokal - Waspada

Pembangunan PLTA Peusangan Didominasi Pekerja Lokal

- Aceh
  • Bagikan

 

BANDA ACEH (Waspada): Pengerjaan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Peusangan yang diperkirakan rampung pada tahun 2023 mendatang, didominasi oleh tenaga kerja lokal.

General Manager PLN Unit Induk Wilayah (UIP) Aceh, Abdul Mukhlis, mengatakan, dari total pekerja berjumlah 742 orang, 717 orang diantaranya merupakan pekerja lokal. Sedang sisanya 25 orang adalah tenaga kerja asing.

“Ini berarti, dominasi pekerja lokal mencapai 96,6 persen. Sedangkan pekerja Alasing hanya tenaga ahli dan kontraktor,” terang Mukhlis, di Banda Aceh, Jumat (9/4).

lokasi pembangunan PLTA di Desa Remeson, Kecamatan Sili Nara, Takengon, Aceh Tengah.

Progres pembangunan PLTA dengan dua power house yang berlokasi di Desa Remeson, Kecamatan Silih Nara, Aceh Tengah, tersebut saat ini sudah mencapai 84,96% dengan total anggaran mencapai Rp5 Triliun. Kedua power house tersebut akan menghasilkan 88 MegaWatt (MW) dari kedua power housenya.

Dikatakan, PLTA Peusangan sudah dikerjakan mulai tahun 90-an, namun sempat terhenti karena berbagai faktor, termasuk konflik serta bencana alam.

Namun, kontrak pekerjaan baru dilakukan ulang pada 2 Mei 2011 (lot I- Main Civil works Hyundai- PT.PP J/V) dengan durasi 134 bulan. Sementara di Lot II- Metal works WIKA- Amarta J/O dilaksanakan pada 8 Mei 2012, dengan durasi 126,8 bulan.

Dilanjutkan kontrak dengan Andritz Hyrdo selama 108,4 bulan, pada 21 Oktober 2013, disusul dengan TL 150kV& SS PT BBS & PT KBI J/O dengan durasi 78,4 bulan.

Sedangkan anggaran sebesar Rp5 Triliun untuk pembangunan PLTA Peusangan adalah pinjaman dari Jepang yang mencapai angka lebih dari 60%, sedangkan sisanya merupakan anggaran PLN sendiri.

Abdul Muklis mengatakan PLTA merupakan pembangkit listrik dengan biaya konstruksi termahal karena prosesnya memang sulit.
“Kalau sudah jadi nanti biaya paling murah”, katanya.

Lanjut Muklis, PLTA berbeda dengan pembangkit listrik tenaga lainnya, PLTA tidak menghabiskan kekayaan alam lain, hanya menggunakan air yang kemudian air itu kembali ke alam. “Ini anugerah Tuhan yang harus kita manfaatkan, kita patut bersyukur”, imbuh Muklis.

Terkai dengan Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hydro II (PLTMH II) yang berlokasi di Desa Pepayungan, Kecamatan Silih Nara, Aceh Tengah, Abdul Muklis menyebutkan PLTMH yang dibangun pada tahun 1962 dan resmi beroperasi pada tahun 90-an, ini memiliki daya mampu sebesar 175 Kilo Watt (KW). (b03)

General Manager PLN Unit Induk Wilayah (UIP) Aceh, Abdul Mukhlis. Waspada/Ist

  • Bagikan