Pelecehan Seksual Marak, HMI Desak Seluruh Rektor Bertindak

  • Bagikan
Mahasiswi yang tergabung dalam Korps Himpunan Mahasiswa Islam-Wati (Kohati) melakukan unjuk rasa di depan Taman Riyadah, Kota Lhokseumawe, Kamis (9/12), mendesak pihak rektor yang memimpin setiap kampus perguruan tinggi agar dapat bersikap lebih tegas. Waspada/Zainuddin Abdullah
Mahasiswi yang tergabung dalam Korps Himpunan Mahasiswa Islam-Wati (Kohati) melakukan unjuk rasa di depan Taman Riyadah, Kota Lhokseumawe, Kamis (9/12), mendesak pihak rektor yang memimpin setiap kampus perguruan tinggi agar dapat bersikap lebih tegas. Waspada/Zainuddin Abdullah

LHOKSEUMAWE (Waspada): Menyikapi maraknya kasus pelecehan seksual terhadap perempuan Indonesia, khususnya Aceh, mahasiswi yang tergabung dalam Korps Himpunan Mahasiswa Islam-Wati (Kohati) melakukan berunjuk rasa di depan Taman Riyadah, Kota Lhokseumawe, Kamis (9/12).

Salah satu tuntutan yang diteruskan adalah mereka mendesak pihak rektor yang memimpin setiap kampus perguruan tinggi agar dapat bersikap lebih tegas dalam memberikan sanksi terhadap pelaku kejahatan seksual di lingkungannya.

Aksi itu digelar untuk memperjuangkan nasib perempuan yang dan menyampaikan aspirasi dari kaum perempuan terkait kekerasan dan pelecehan seksual yang marak terjadi belakangan ini terutama dalam lingkungan kampus, instansi penegakan hukum dan lingkungan lainnya.

Para mahasiswi itu menetapkan titik kumpul di Kantor Sekretariat HMI Lhokseumawe-Aceh Utara di Jalan Pase. Lalu melakukan long march ke Tugu Rencong, menuju ke Taman Riyadah sambil melakukan orasi secara bergantian.

Ketua Umum Kohati Cabang Lhokseumawe – Aceh Utara Ainun Nabilah Rahmanita, mengatakan, aksi tersebut dilakukan bertujuan agar kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan Indonesia khususnya Aceh dihentikan.
Pasalnya, selama ini kasus kekerasan dan seksual makin marak terjadi dan dialami oleh kaum wanita yang lemah. Bahkan para korban juga sulit mendapatkan perlindungan hukum dan keadilan.

“Banyak kasus yang kami fokuskan saat ini, diantaranya, mahasiswi yang dicabuli oleh dosennya, anak-anak yang dicabuli keluarganya, dan terakhir kasus viral Novia yang diperkosa oleh oknum polisi,” katanya.

Ainun menilai untuk saat ini, di Negara Indonesia sendiri perempuan seperti sudah tidak lagi memiliki rumahnya atau, tiada tempat untuk pulang. Sehingga kaum perempuan benar-benar telah kehilangan tempat untuk berlindung dari kejahatan seksual.

Karena kenyataannya di lapangan, nasib perempuan yang berada dalam kampus perguruan tinggi atau di rumah sendiri pun kini sudah tidak mendapatkan lagi perlindungan. Apalagi di luar sana yang berada di tempat asing lainnya tentu nasib perempuan akan lebih termarginalkan.

“Perempuan Indonesia saat ini benar-benar tidak ada tempat perlindungan yang benar-benar melindungi. Apalagi peraturan juga terkesan dibuat hanya sekedar untuk formalitas saja,” ujarnya.

Mengingat kondisi memprihatinkan itu, maka pihaknya akan terus memperjuangkan hak-hak perlindungan hukum terhadap perempuan harus benar-benar ditegakkan secara serius serta tidak sebatas formalitas semata.

“Sejauh kami menilai penyelesaian kasus terhadap perempuan hanya sekedar formalitas saja, karena ketika kasus mencuat langsung di proses, dan prosesnya hanya sekedar formalitas semata, tidak benar-benar dituntaskan,” ungkapnya.

Selain itu, pihaknya juga meminta kepada Kapolri agar menerapkan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana terhadap oknum kepolisian yang telah menewaskan Novita Aji Syahputri.

“Bagi kami itu bukan hanya sebatas tersangka aborsi tapi sudah masuk ke dalam pembunuhan berencana, karena ketika disuruh aborsi, pelaku pasti tau efek akan ditimbulkan oleh korban,” pungkasnya.

Aksi para mahasiswi itu juga berjalan lancar dengan adanya pengamanan dari personil Polres Lhokseumawe yang mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan terjadi. (b09)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *