Pasca Napi Kabur, Sipir Rutan Singkil Diperiksa Kanwil Kemenkumham

Pasca Napi Kabur, Sipir Rutan Singkil Diperiksa Kanwil Kemenkumham

- Aceh
  • Bagikan
Suasana lokasi Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Aceh Singkil pada siang hari, Selasa (14/9). Waspada/Arief H
Suasana lokasi Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Aceh Singkil pada siang hari, Selasa (14/9). Waspada/Arief H


SINGKIL (Waspada): Buntut kaburnya tiga narapidana (Napi) di Rutan Kelas II B Aceh Singkil, para pegawai sipir saat ini sedang menjalani pemeriksaan oleh Petugas Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Provinsi Aceh.

Pemeriksaan dilakukan terhadap pegawai sipir regu penjagaan malam dan siang di Rumah Tahanan (Rutan) Aceh Singkil, menyusul kaburnya tiga napi yang diduga akibat kelalaian dan lemahnya pengawasan petugas.

Ludin , Napi yang melarikan diri agar segera menghubungi polisi jika melihat keberadaannya. Waspada/Ist

Kepala Rutan Aceh Singkil Azwir yang dikonfirmasi Waspada.id, Selasa (14/9) di Rutan setempat mengatakan, pegawai Kanwil Kemenkumham Aceh sudah berada di Rutan Singkil sejak kemarin.

Sejumlah petugas sipir regu penjagaan malam dan siang sedang menjalani berita acara pemeriksaan (BAP). “Mereka di BAP untuk menginput semua kejadian yang menyebabkan Napi melarikan diri,” ucap Azwir.

Dijelaskannya, pasca kejadian kaburnya tiga napi tersebut, pegawai sipir sudah melakukan penyisiran hutan di sekitar Rutan, hingga ke afdeling perumahan perkebunan Nafasindo. Termasuk menyisir tempat tinggal mereka masing masing. “Akan kita terus kejar, kemungkinan mereka masih mengendap disekitaran sini. Biasa, jika mereka sudah merasa aman baru keluar dari persembunyian. Karena ini sedang diperiksa pencarian sementara dihentikan,” ucapnya

Azwir juga mengakui jika minimnya petugas penjagaan di Rutan tersebut. Sebab pegawai sipir yang ada hanya sebanyak 19 orang. Sementara Napi sebanyak 154 orang. Sementara petugas yang berjaga saat kejadian hanya dua orang. Termasuk malam hari. “Jam 3 pegawai kantor pulang, yang hanya tinggal 2 orang penjaga, bergantian dengan shift malam 2 orang juga,” terangnya.

Agus Januaryanto, Napi yang melarikan diri agar segera menghubungi polisi jika melihat keberadaannya. Waspada/Ist

Pihaknya juga sudah menyebar foto para Napi yang kabur, termasuk meminta bantuan dengan petugas Kepolisian untuk memburu mereka. Sebelumnya, kronologis kejadian kaburnya napi tersebut, seperti biasa para Napi diajak berkebun memanen kacang.

Diperkirakan usai Sholat Ashar para napi ini kabur dengan menggali lubang dari bawah pondasi tembok beton Rutan. Kemungkinan sehari sebelumnya mereka membersihkan lokasi. Baru saat hari itu juga mereka langsung menggali dan kabur.

Karena pondasi pagar beton hanya sekitar dua jengkal dan cakar ayam besi agak lebih dalam sedikit. Apalagi tanah gambut, sehingga mereka bisa dengan cepat menggali. Begitupun Azwir sempat membantah adanya Napi yang kabur di Rutan tersebut dengan memanfaatkan kain sarung, seperti diberitakan Waspada.id sebelumnya. “Sudah 4 tahun saya di sini, baru ini kejadian kabur. Kalau yang pakai kain sarung tidak ada,” ucapnya.

Sukardi, Napi yang melarikan diri agar segera menghubungi polisi jika melihat keberadaannya. Waspada/Ist

Untuk diketahui, dari data yang dihimpun Waspada.id, sebelumnya Juni 2017, enam Napi masing-masing Muhamad Tarigan, Romi Putra, Tar Ali, Heri Ala Dingin, Sahrial, dan Eki Sahputra dilaporkan kabur, dengan membobol tembok bagian belakang kamar tahanan, menggunakan alat perkakas bangunan, sendok makan dan soda api.

Setelah berhasil keluar dari ruang tahanan, keenam napi langsung memanjat pagar tembok sebelah luar dengan menggunakan ranting kayu yang dipergunakan untuk membuat kandang ayam dan pada saat turun menggunakan kain sarung sambungan untuk turun dari pagar lapas.

Lantas Azwir baru mengakui jika Napi yang kabur dengan menjebol tembok penjara dengan soda api dan setelah itu memanfaatkan kain sarung untuk turun dari pagar penjara, bukan di masa jabatannya. Tapi jabatan Karutan sebelum dia, ujarnya.

Sebelumnya klarifikasi identitas tiga Napi pelaku tindakan asusila masing-masing, Sukardi, 66, Warga Desa Tunas Harapan Kec. Gunung Meriah. Mendapat hukuman penjara 14 tahun lebih. Dan baru dijalani sekitar 1 tahun 3 bulan.
Kemudian Agus Januaryanto, 34, warga Dusun Jati Desa Bukit Alim Kecamatan Longkip Pemko Subulussalam. Masa hukuman 14 tahun 2 bulan dan baru dijalani sekitar 2 tahun. Kemudian Ludin, 47, warga Desa Sidodi Kecamatan Simpang Kanan. Mendapat hukuman 13 tahun lebih, dan baru dijalani sekitar 5 tahun. (b25)

  • Bagikan