Waspada
Waspada » Pasangan Ikhtilath Dicambuk 24 Kali
Aceh Headlines

Pasangan Ikhtilath Dicambuk 24 Kali

Algojo melaksanakan 24 kali hukuman cambuk bagi terpidana Ikhtilath, Kamis (5/3). Waspada/Abdul Mukthi Hasan
Algojo melaksanakan 24 kali hukuman cambuk bagi terpidana Ikhtilath, Kamis (5/3). Waspada/Abdul Mukthi Hasan

BIREUEN (Waspada): Kejaksaan Negeri Bireuen, melaksanakan uqubat cambuk, kepada dua terpidana perbuatan ikhtilath (bermesraan-red), di halaman Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen, Kamis (5/3) siang.

Dua terpidana dihukum masing-masing 24 kali cambuk itu yakni MMS dan NAFaradila Bt AS. Eksekusi cambuk tersebut dilakukan algojo laki-laki dan perempuan.

Algojo melaksanakan 24 kali hukuman cambuk bagi terpidana Ikhtilath, Kamis (5/3). Waspada/Abdul Mukthi Hasan
Algojo melaksanakan 24 kali hukuman cambuk bagi terpidana Ikhtilath, Kamis (5/3). Waspada/Abdul Mukthi Hasan

Kepala Kejaksaan Negeri Bireuen, M Junaedi, SH, MH melalui Kasi Pidum Teuku Hendra Gunawan, SH ditanyai Waspada, mengatakan, keduanya beberapa waktu lalu diamankan Polisi, Satpol PP dan WH dari kamar losmen di Kota Bireuen.

Sedangkan uqubat cambuk dilaksanakan itu untuk menjalankan putusan Mahkamah Syari’ah Bireuen nomor 1/JN/2020/MS.Bir tanggal 11 Februari 2020.

Dijelaskan, para terpidana itu terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana perbuatan ikhtilath.

Sebagaimana diatur dalam Pasal 25 ayat (1) Qanun Aceh Nomor 6 tahun 2014 tentang hukum jinayah, dengan cara menghukum para terpidana oleh karena itu dengan Uqubat Ta’azir Cambuk masing-masing 28 kali.

Dikurangi selama para terpidana dalam tahanan selama 104 hari, uqubat ta’zir cambuk terhadap terpidana dikurangani 4 kali berdasarkan Pasal 23 ayat (2) dan ayat (3) Qanun Nomor 7 tahun 2014 tentang hukuman acara jinayat sehingga terpidana dicambuk 24 kali.

“Kedua terpidana dikenakan hukuman 28 kali cambuk dan setelah dipotong selama masa tahanan 4 kali, masing-masing jalani 24 kali cambuk dan setelah itu bebas,” jelas Teuku Hendra.

Upaya Edukasi

Plt Bupati Bireuen, Dr H Muzakkar A Gani, SH, MSi diwakili Staf Ahli Bupati, Husaini, SH, MM, mengatakan, hukum cambuk bukan hanya hukuman fisik semata terhadap pelanggar, tapi untuk kita semua, bahwa Ikhtilat dilarang dan diharamkan dalam ajaran Agama Islam.

“Adapun pengertian ikhtilath adalah perbuatan bermesraan antara laki-laki dan perempuan yang bukan suami istri, baik pada tempat tertutup maupun terbuka,” jelasnya.

Hukuman dilakukan bukanlah merupakan sebuah penzhaliman kepada saudara, akan tetapi sebagai upaya edukasi bagi masyarakat agar meninggalkan segala bentuk kejahatan yang merugikan, serta memelihara keluarga dan keturunannya dari perbuatan yang tercela.

Selanjutnya dengan adanya Qanun Aceh No 6 Tahun 2014 tentang hukum jinayat, kami harapkan kepada penegak hukum dan instansi terkait terus mengintensifkan pengawasannya dan menindak siapapun melanggar qanun tentang Syariat Islam.

“Harapan kami semoga dengan adanya pelaksanaan hukuman cambuk ini, dapat menjadi pelajaran bagi kita semua untuk tidak melakukan pelanggaran terhadap Syariat Islam di Provinsi Aceh khususnya di Kabupaten Bireuen,” imbuhnya. (cb02/B)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2