Pantai Lhokseumawe Terancam Abrasi

- Aceh
  • Bagikan

LHOKSEUMAWE (Waspada): Kawasan pesisir sepanjang pantai Lhokseumawe terancam abrasi, akibat sering dihantam gelombang pasang. Kondisi tersebut semakin parah, akibat hutan mangrove telah musnah sepanjang pantai.

Demikian penjelasan Wali Kota Lhokseumawe Suadi Yahya pada kegiatan penanan 1.000 mangrove di Pantai Seumadu, Kecamatan Muara Satu, Pemko Lhokseumawe, Kamis (27/1).

Penanaman pohon bakau sepanjang pantai dilakukan secara simbolis oleh Panglima Komando Daerah Militer Iskandar Muda (Pangdam IM), Mayjen TNI Mohamad Hasan, bersama unsur Muspida Plus Pemko Lhokseumawe.

Sejumlah 1.000 batang pohon ditanami sepanjang pantai wisata tersebut. Dalam kesempatan itu, Pangdam menyerahkan secara simbolis, seluruh bibit mangrove kepada Pemko Lhokseuamwe, diterima lansung Wali Kota Suaidi Yahya.

Menurut Suaidi, Kota Lhokseumawe berada di kawasan pesisir pantain yang rawan terjadi pengikisan. Abrasi tejadi karena ombak besar ketika terjadi angin Timur Laut. “Setiap tahunnya gelombang di Kota Lhokseumawe sangat aktif. Dalam setahun dipengaruhi angin Barat Laut selama empat bulan dan angin dari arah Timur Laut selama delapan bulan,” jelas Suaidi Yahya saat menyampaikan sambutannya.

Angin Barat Timur Laut langsung berhadapan dengan pesisir Kota Lhokseumawe. Kondisi ini mengakibatkan tingkat abrasi pantai sangat dominan. Sehingga Lhokseumawe telah kehilangan daratan.

Abrasi pantai meluas, sejak hutan bakau musnah sepanjang pantai. Sebelumnya, tanaman mangrove mampu membendung hataman ombak, ketika terjadi angin Timur Laut.

“Seperti ditahun 90-an, pantai Lhokseumawe masih dipenuhi hutan mangrove yang sangat rapat dan terpancang sebagai jangkar, mampu menangkap sendimen dan menahan partikel tanah serta memiliki kemampuan meredam energi pasang surut dan gempuran gelombang,” tambah walikota. Sementara tanggul pemecah gelombang yang dibangun ketika terjadi abrasi, hanya sebagai seolusi jangka pendek.

Suaidi Yahya juga menceritakan, ketika terjadi tsunami, hutan mangrove telah mampu mengurangi kerusakan. “Kita juga dapat belajar dari peristiwa tsunami Aceh pada tahun 2004, ternyata kehebatan mangrove mampu meredam setengah energi dari gelombang tsunami sampai 50 persen, hingga meminimalisir kerusakan,” sebutnya.

Perkampungan yang berada di belakang hutan mangrove yang lebat, selamat dari terjangan tsunami. Sebaliknya keruskan berat, serta korban nyawa banyak terjadi pada perkampungan yang berhadapan langsung dengan laut yang hutan mangrovenya rusak atau hilang sebelum tsunami.

Penanaman manggrove sepanjang pantai Seumadu ikut melibatkan pelajar dan relawan dari perbagai lembaga di Wilayah Kodim 0103/Aceh Utara. Diantaranya, Pramuka, Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM) Aceh Utara, Gemantara, Badan Advokasi Indonesia (BAI) dan sejumlah komunitas masyarakat.

Relawan Mendukung Penyelamatan Pantai

IPSM Aceh Utara mengharapkan, ke depan seluruh perusaha vital ikut membantu kegiatan penanaman mangrove sepanjang pantai. “Ya, kita sudah berkoordinasi dengan PT.PIM untuk membantu kegiatan penanaman mangrove di Aceh Utara,” jelas Ketua IPSM Aceh Utara Muktarrudin.

Sejumlah perusahan lainnya yang berada di Lhokseumawe dan Aceh Utara, diharapkan juga dapat mengalokasi dana CSR untuk kegiatan tersebut. IPSM menegaskan, ratusan relawan IPSM yang berada di setiap desa akan mendukung kegiatan penyelamatan pantai melalui penanaman Mangrove.

Dewan Pimpinan Daerah (DPD) BAI H.H.Yusuf Hasan yang juga ikur hadir pada acara tersebut mengharapkan, penanaman mangrove yang dilakukan Pangdam IM, akan mendorong semua pihak untuk lebih peduli kepada hutan bakau sepanjang panti. “Kita harus menjaga tanaman mangrove yang telah ditanam sepanjang pantai Lhokseumawe,” tegas Yusuf Hasan.(b08)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.