Mursidah Pengidap Kanker Payudara Butuh Uluran Tangan

  • Bagikan

SIANG itu mentari sangat cerah hingga terasa membakar kulit, namun tak menyurutkan niat untuk mengunjungi sebuah rumah warga dibilangan Gampong Matang Seulimeng.

Tak lama langkahpun terhenti persis dirumah wanita paruh baya itu, tak lain adalah Mursidah, 39, wanita yang mengidap kanker payudara stadium tiga yang tercatat warga Lorong TPI, Gampong Matang Seulimeng, Kec. Langsa Barat, yang kini penyakit yang dideranya kian parah.

Ketika ditemui wartawan, Rabu (8/12) siang dengan duduk bersila beralaskan kasur kumuh serta mengenakan baju seadanya menceritakan kepedihan hidupnya yang hingga saat ini butuh operasi lanjutan, namun apa daya uangpun ianya tak punya.

“Saran dari dokter saya harus dioperasi di RS Cut Meutia-Kota Lhokseumawe, namun jangankan untuk biaya keberangkatan untuk menyambung hidup saja saya berharap belah kasih sayang para tetangga,” ucap Mursidah dengan nada lirih.

Lalu, tumor ganas yang mengerogoti tubuhnya itu sebelumnya sudah pernah dioperasi pada medio Juni 2021, tapi ternyata tumbuh kembali benjolan dibagian atas payudara (maaf —red) sebelah kanannya lagi.

Lantas, upaya chemoterapy juga sudah pernah ia jalani sekali, begitu dilakukan pemeriksaan ulang ke dokter di Langsa disarankan agar melakukan operasi lanjutan ke RS Cut Meutia, namun apa daya keterbatasan dana menjadi penghalang untuk berangkat berobat.

Mursidah, dengan nada terbata-bata begitu berharap kiranya ada ukuran tangan para dermawan yang tergugah hatinya untuk membantu keberangkatan dan menjalani hidup saat ini.

Terkait bantuan, Mursidah, menyatakan bahwa sudah pernah dibantu oleh Walikota Langsa begitu juga dengan Geuchik Gampong pada saat operasi yang pertama, namun untuk kelanjutan operasi yang selanjutnya ia tak tahu harus mengadu kemana.

“Meskipun biaya operasi ditanggung oleh BPJS tapi untuk berangkat dan biaya hidup belum tahu cari darimana,” ujar Mursidah sembari sesekali merasakan sakit yang dideranya.

Kehidupan Mursidah yang ditinggal menjada oleh suaminya itu kini ditemani oleh sang anak tertuanya yang bernama Intan Putri Nuraini, 14, sedangkan anak kedua yang masih berusia 3 tahun bernama Ahmad Musidiq harus dititipkan kepada sang neneknya.

Karena jangankan untuk menjaga anaknya yang kecil untuk sekedar bangun dari duduknya saja terkadang butuh bantuan sang anak tertuanya yang terkadang bisa dilakukan sendiri pada saat-saat tertentu.

Sejauh saat ini yang dirasakan Mursidah adalah lemas, lutut terkadang tidak bisa gerak, meskipun ketika ditemui penulis dirinya mampu bangun dari duduk bersilanya.

Sebelum sakit yang dideranya Mursidah mampu bekerja sebagai tukang cuci dan mengosok pakaian pada rumah tetangga, tetapi ketika kanker payudara menderanya secara otomatis dirinya tak mampu berbuat banyak.

“Beginilah kondisi saya saat ini, jangankan untuk bekerja menafkahi hidup kedua anak saya untuk bangun saja terkadang susah,” keluh Mursidah dengan jilbab lusuhnya yang menutupi rambutnya yang telah gugur akibat chemoterapi itu.

Dengan kondisi yang menahan sakit kanker ganas stadium tingkat tiga itu, Mursidah bukanlah wanita cengeng akan takdir hidupnya, segala upaya dan keterbatasannya ia terus berupaya melawan sakitnya dan tak melupakan doa untuk kesembuhannya.

Semoga, Mursidah mendapatkan uluran tangan dari para dermawan yang tergugah hatinya untuk membantu biaya hidup serta bisa berobat kembali ke Rumah Sakit. (Rapian).

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *