Waspada
Waspada » Mengenang Sejarah Kerajaan Islam Pertama
Aceh

Mengenang Sejarah Kerajaan Islam Pertama

Waspada/Ist Para pelajar ziarah ke bekas Kerajaan Samudera Pase, Sabtu (10/4) di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Aceh Utara. 

 

BERBAGAI kegiatan dilakukan menjelang masuk bulan suci Ramadhan 1442 H.

Membagikan paket sembako, membersihkan rumah ibadah, dan berbagai aktifitas lainnya dilakukan warga di Lhokseumawe.

Generasi milenial di Wilayah Pasai ini, punya cara tersendiri menyambut Ramadhan. Ratusan pelajar berziarah ke bekas Kerajaan Samudera Pase, Sabtu (10/4) di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Aceh Utara.

Pasai merupakan kerajaan pertama yang menyebarkan Islam ke nusantara, sampai Asia Tenggara.

Dari kunjungan ini, mereka bisa mengetahui tentang Nazimuddin Al Kamil (pendiri kerajaan), Meurah Silu (raja pertama) dan hubungan Pasai dengan Gujarat (India).

Generasi milenial ini, merupakan pelajar yang bergabung dalam Bazla Institut. Yaitu, lembaga pendidikan yang dibentuk untuk mendidik generasi emas selama Bulan Ramadhan.

Para generasi ini terlalu akrab dengan berbagai tekhnologi IT, sehingga memasuki Ramadhan tahun ini dinilai perlu mengenal kerajaan pendahulu yang telah menerapkan syariat Islam secara kaffah.

Kegiatan ziarah, dihadiri pengurus Bazla Institut, peserta didik program spesial Ramadhan Bazla Institut, serta didampingi para orangtua wali. Dalam kegiatan itu mereka ikut berdzikir dan doa bersama.

Usai membacakan doa bersama, para peserta didik Bazla Institut mendengarkan kupasan sejarah singkat tentang Sultan Malikussaleh dari pengkhadim makam (juru kunci), Tgk. Saiful Bahri.

“Malikussaleh merupakan sultan pertama kerajaan Islam pertama di nusantara, yaitu Samudera Pasai. Ia memerintah mulai tahun 1267. Sultan Malikussaleh satu-satunya raja yang bisa membaca Al-quran pada abad 13 dahulu,” jelas Saiful.

Dia melanjutkan, Kerajaan Samudera Pasai didirikan oleh Nazimuddin Al Kamil pada abad ke-13. Nazimuddin Al Kamil adalah seorang Laksamana Laut dari Mesir.

Beliau diperintahkan pada tahun 1238 M untuk merebut Pelabuhan Kambayat di Gujarat, yang tujuannya untuk dijadikan tempat pemasaran barang-barang perdagangan dari timur.

“Beliau mengangkat Meurah Silu sebagai Raja Pasai pertama. Setelah naik tahta, Meurah Silu berganti nama dan bergelar Sultan Malik As-Saleh. Masa akhir pemerintahan Sultan Malik As-Saleh sampai beliau wafat pada tahun 696 Hijriah atau 1297 Masehi,” sebut Tgk. Saiful.

Sementara itu Direktur Bazla Institut, Ustad Al Fadil Muhammad dalam kesempatan itu mengatakan, “saat ini anak-anak kita para generasi milenial masih sangat kurang pengetahuannya terkait sejarah-sejarah lama. Bahkan muncul kekhawatiran kita mereka lupa dengan sejarah nenek moyangnya”.

“Kita sangat khawatir anak-anak melupakan sejarah, kita hidup di negara yang penuh dengan sejarah. Kalau generasi milenial hari ini tidak peduli dengan sejarah, saat dewasa mereka nanti, datang orang-orang yang tidak bertanggung jawab merobah sejarah-sejarah yang ada,” pungkas Al Fadil.

Direktur Al Fadil melanjutkan, Kita harus saling bahu-membahu memberikan pengetahuan tentang sejarah kepada anak-anak, terutama terkait sejarah Sultan Malikussaleh.

“Peserta didik Bazla Institut kita bawa untuk ziarah ke makam Sultan Malikussaleh agar mereka paham tentang sejarah yang ada di daerah kita. Tidak hanya belajar materi saja, tapi mereka bisa melihat langsung bukti-bukti sejarahnya,” kata Al Fadil.

Usai mengunjungi Makam Sultan Malikussaleh, rombongan Bazla Institut berkunjung ke Museum Islam Samudera Pasai (Malikussaleh) yang terletak tidak jauh dari makam Sultan Malikussaleh.

Zainal Abidin

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2