Waspada
Waspada » Masjid Me Meu Aneuk, Saksi Sejarah Yang Terlupakan
Aceh Features

Masjid Me Meu Aneuk, Saksi Sejarah Yang Terlupakan

Beginilah kondisi Masjid Me Meu Aneuk yang sekarang fisik lamanya telah dipindahkan dalam komplek Masjid Al Ihsan Kecamatan Grong-grong, Kabupaten Pidie. Foto diambil, Senin (26/4) siang. Waspada/Muhammad Riza
Beginilah kondisi Masjid Me Meu Aneuk yang sekarang fisik lamanya telah dipindahkan dalam komplek Masjid Al Ihsan Kecamatan Grong-grong, Kabupaten Pidie. Foto diambil, Senin (26/4) siang. Waspada/Muhammad Riza

Aceh sebagai salah satu daerah yang mayoritas penduduknya pemeluk agama Islam memiliki banyak peninggalan sejarah berbentuk bangunan masjid.

Salah satunya masjid tua Me Meu Aneuk, Kecamatan Grong-grong, Kabupaten Pidie. Masjid tua yang sebelumnya berada di Gampong Me Meu Aneuk, sekarang telah dipindahkan di komplek halaman Masjid Al-Ihsan, Kecamatan Grong-grong.

Sayang, situs sejarah berupa masjid tua berkonstruksi kayu yang dibangun di era pemerintahan kerajaan Islam Aceh Darussalam, itu sekarang kurang mendapat perhatian.

Lantainya terlihat dipenuhi kotoran hewan ternak kambing. Ironisnya, puncak Kubah bulan bintang, ditambah penunjuk arah kiblat, kini berubah arah, berputar ke timur.

Ketua Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Nanggroe Aceh Darussalam, PRM. Dato’ Dr. (HC) Drs Maimun, M.Si Bin H. Ibrahim Daud, Senin (26/4) mengatakan, pada masa kesultanan Aceh sekira abad ke-16 M, Sultan Iskandar Muda, ketika itu banyak membangun masjid, termasuk sejumlah alim ulama seperti Teungku Chik Dipasie. Masjid-masjid itu kata dia, banyak tersebar di Kabupaten Pidie yang dulunya disebut Pedir.

Kata PRM. Dato’ Dr. (HC) Drs Maimun, M.Si Bin H. Ibrahim Daud, beberapa masjid itu yang dibangun jauh di masa lampau masih kokoh berdiri hingga sekarang. Salah satunya Masjid Tua Me Meu Aneuk, Kecamatan Gorong-grong yang saat ini masih bisa dilihat berdiri di halaman Masjid Al-Ihsan, Kecamatan Grong-grong, Kabupaten Pidie.

“Masjid tua ini banyak kita dapatkan di Kabupaten Pidie. Semisal di Gampong Puuk, Kecamatan Kembang Tanjong. Lalu, di Kambuek, Busu, Gampong Pineung, Kecamatan Indrajaya, di Kecamatan Tiro. Selanjutnya ada juga di Gampong Pasi Lhok, Kecamatan Kembang Tanjong dan Kandang, Kecamatan Kota Bakti dan Mesjid Guci Rumpong, Kecamatan Peukan Baro,” sebutnya.

Menurut dia, masjid-masjid tua tersebut pada masa pemerintahan kesultanan Aceh dibangun untuk memperkuat pertahanan kerajaan dari serangan penjajah bangsa-bangsa penjajah, seperti Portugis, dan Belanda.

Ketika itu, Sultan Iskandar Muda yang disebut dengan julukan Po Teumeureuhom membangun masjid pada setiap daerah yang dikunjunginya. Beliau menghimpun rakyat membangun masjid, yang kemudian masjid-masjid itu dijadikan sebagai tempat multi fungsi. Selain dijadikan sebagai tempat ibadah, masjid-masjid itu juga dijadikan sebagai benteng pertahanan.

“Jadi kalau mau menelusuri sejarah masjid tua di Pidie, ini sangat banyak. Kemudian, sekarang tidak semua masjid itu dibiarkan terbengkalai, tetapi banyak juga masjid itu yang masih dirawat oleh pemerintah. Diantaranya Masjid Po Teumeu Reuhom dan Masjid Rumpong Kecamatan Peukan Baro,” katanya.

Dua jamaah Masjid Al-Ihsan Kecamatan Grong-grong sedang berbincang-bincang sambil duduk berlatar belakang Masjid Me Meu Aneuk, tua, Senin (26/4). Waspada/Muhammad Riza
Dua jamaah Masjid Al-Ihsan Kecamatan Grong-grong sedang berbincang-bincang sambil duduk berlatar belakang Masjid Me Meu Aneuk, tua, Senin (26/4). Waspada/Muhammad Riza

Sedikit Orang Peduli Situs Sejarah

Ketua Majelis Pemuda Indonesia (MPI) DPD KNPI Kabupaten Pidie, Zuhkri Mauluddinsyah Adan, mengungkapkan saat ini sangat sedikit orang mau perhatikan dan peduli terhadap masjid yang merupakan situs kebesaran sejarah kerajaan Aceh di masa lalu.

Jadi Zuhri berharap pemerintah Aceh bisa memberikan perhatian serius terhadap sejarah ini, dan bisa menggerakkan lembaga Wali Nanggroe khususnya pemerintah Aceh di tingkat kemukiman. Hal ini penting untuk memberikan kewenangan dan fungsi mengurus tempat tempat yang menjadi cagar budaya.

Kerajaan Pedir

Terkait dengan Kerajaan Pedir yang sekarang disebut Kabupaten Pidie, dulu cerita Zuhkri, sebelum bergabung dengan Kerajaan Aceh Islam Darussalam, Pedir adalah suatu kerajaan yang tidak memiliki tampuk pemerintahan secara turun temurun berdasarkan dinasti.

Ini kata dia disebabkan Kerajaan Pedir ketika itu dibangun dengan kekuasaannya berdasarkan koalisi federasi.

“Jadi siapa raja paling kuat dalam federasi, dialah yang memimpin Kerajaan Pedir. Setelah bergabung dengan Kerajaan Aceh Islam Darussalam, bala tentaranya kebanyakan berasal dari Kerajaan Pedir dan Pidie Jaya sekarang,” katanya.

Lanjut dia, sedangkan logistik lebih besar disuplai dari Kerajaan Indrapuri, Indrapatra dan Indra Purwa (Biheu-red). Kekuasan Kerajaan Islam Aceh Darussalam sampai menguasai lautan, daratan dan sebagian Asia Tenggara. Ini kata Zuhkri, menjadi bukti dan banyak ditulis oleh bangsa- bangsa besar di dunia termasuk, Belanda, Jepang dan Turki serta Saudi Arabia. WASPADA/Muhammad Riza

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2