Waspada
Waspada » Mahasiswa Diminta Tidak Gegabah Dan Latah
Aceh Pendidikan

Mahasiswa Diminta Tidak Gegabah Dan Latah

Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Fakutas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Langsa, Dr Amiruddin Yahya Azzawy MA, Senin (23/11) saat menjadi narasumber Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Langsa di Fish Coffee. Mahasiswa diminta tidak gegabah dan latah. Waspada/dede
Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Fakutas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Langsa, Dr Amiruddin Yahya Azzawy MA, Senin (23/11) saat menjadi narasumber Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Langsa di Fish Coffee. Mahasiswa diminta tidak gegabah dan latah. Waspada/dede

LANGSA (Waspada): Dalam menyikapi fenomena dan isu yang berkembang, baik di media sosial maupun media massa, mahasiswa diminta untuk tidak boleh gegabah, latah, dan ikut-ikutan. Perlu analisis mendalam dan telaah komprehensif sebelum bersikap sesuai karakter mahasiswa.

Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Fakutas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Langsa, Dr Amiruddin Yahya Azzawy MA, Senin (23/11) saat menjadi narasumber dalam Maktab Juridiksi yang dilaksanakan Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Langsa di Fish Coffee.

“Mahasiswa mesti skeptis terhadap semua informasi yang muncul, dengan begitu mahasiswa lebih ilmiah dan objektif. Setiap bertindak harus mengerti apa persoalannya,” sebut Amiruddin Yahya Azzawiy.

Ia mengatakan, mahasiswa dikenal sebagai entitas akademis, mereka representasi dari idealisme, netralitas, objektivitas, dan intelektualitas. Semua perilaku, sikap dan cara berfikir mahasiswa mesti akademis.

Mahasiswa harus mengerti karakternya sendiri. Mereka insan akademis, cara berpikirnya konseptual, visioner dan akademis. “Mahasiswa bukan ‘pion’, tetapi ‘creator of change’. Mereka insan brilian dan ilmiah,” katanya.

Kemudian, kata pria yang akrab disapa Doktor Emi, mahasiswa tidak diperintah oleh siapapun. Mereka hanya diperintah oleh ilmu dan idealismenya.

Mahasiswa bukan pejuang berdasarkan pesanan politik, dan bukan pejuang hasrat politik orang lain. Mereka pejuang kebenaran dan kebaikan. Mahasiwa berjuang untuk Indonesia, Pancasila dan keutuhan bangsa.

Lanjutnya, saat ini, di kampus baru ada dua model organisasi, yaitu, eksekutif dan legislatif. Ke depan, ia menyarankan agar mahasiswa bentuk lembaga yudikatif supaya sistem “trias politika” bisa utuh dipelajari, tidak parsial.

Di kampus IAIN Langsa sendiri katanya ada Fakultas Syariah (hukum). Mahasiswa bisa belajar teknik persidangan dan peradilan. Dari aspek kegunaannya, lembaga yudikatif mahasiswa perlu dibentuk oleh BEM dan SEMA institut.

“Karena, banyak persoalan bisa diselesaikan lembaga yudikatif mahasiswa, seperti, sengketa pemilihan raya mahasiswa, konflik regulasi antarorganisasi, dan ketimpangan penyelenggaraan organisasi.”

Selanjutnya, kata Doktor Emi, setiap putusan lembaga yudikatif mahasiswa punya sanksi, tentu bukan sanksi pidana. Sanksi itu sifatnya administratiif dan moral.

Keanggotaan lembaga yudikatif mahasiswa adalah mahasiswa fakultas syariah, tetapi setelah diseleksi oleh panitia penjaringan yang dibentuk oleh BEM dan SEMA institut.

“Lembaga yudikatif hanya ada di institut, tidak ada di fakultas. Akan tetapi menyelesaikan semua persoalan hukum organisasi mahasiswa, baik pada institut maupun fakultas,” tandasnya.(b13)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2