Mahasiswa Abdya Gelar Aksi Kutuk Pelaku Pencabulan

Mahasiswa Abdya Gelar Aksi Kutuk Pelaku Pencabulan

  • Bagikan
Puluhan mahasiswa Abdya berorasi mengutuk keras terhadap pelaku cabul di Abdya, Kamis (26/11). Mahasiswa Abdya gelar aksi kutuk pelaku pencabulan. Waspada/Syafrizal
Puluhan mahasiswa Abdya berorasi mengutuk keras terhadap pelaku cabul di Abdya, Kamis (26/11). Mahasiswa Abdya gelar aksi kutuk pelaku pencabulan. Waspada/Syafrizal

BLANGPIDIE (Waspada): Puluhan mahasiswa dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP), juga mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Muhammadiyah, Aceh Barat Daya (Abdya), Kamis sore (26/11), sekira pukul 15:30, menggelar aksi turun ke jalan, untuk mengutuk pelaku pencabulan atau pelecehan seksual, terhadap anak di bawah umur, yang baru-baru ini terjadi di daerah setempat.

Para mahasiswa memulai aksinya dari Lapangan Persada Blangpidie, menuju simpang Cerana, hingga tugu Bank Aceh, kawasan Mesjid Baitul Adhim, pusat Kota Blangpide.

Dalam aksinya, para mahasiswa mengingatkan kepada para orang tua, untuk selalu menjaga anak mereka dari bentuk kekerasan atau prilaku tidak senonoh, yang dapat merusak mental anak.

Di tengah guyuran hujan yang melanda Abdya dan sekitarnya sejak siang itu, para mahasiswa berjas almamater merah maron itu, terus berorasi silih berganti. Hingga ada sejumlah mahasiswa yang membaca puisi, sebagai bentuk kutukan atas perbuatan bejat, yang dilakukan oleh pelaku pencabulan di Abdya.

Hendra Yusribar, selaku Koordinator Lapangan (Korlap), dalam orasinya mengutuk tindakan kekerasan dan pelecehan seksual, terhadap anak di bawah umur yang terjadi di Abdya. Utuk itu, mendorong Pemkab Abdya melalui instansi terkait, agar dapat mewujudkan Abdya sebagai wilayah yang layak bagi tumbuh kembang anak.

Dalam penanganan kasus pelecehan seksual, pihaknya meminta agar dapat mengacu pada kepentingan terbaik untuk korban, tercapainya pemenuhan serta pelindungan terhadap korban.

Selain itu, mereka juga mendorong Pemkab Abdya, agar berkoordinasi dengan unit P2TP2A, untuk membuat SOP kebijakan perlindungan anak, yang dapat digunakan sebagai acuan demi perlindungan anak itu sendiri.

Penegak hukum juga harus berpihak pada kepentingan anak sebagai korban kejahatan, serta memastikan supaya kasusnya cepat diproses, sehingga, terduga pelaku cabul dapat dihukum atas perbuatan yang telah dilakukannya.

Mahasiswa juga mendorong tokoh agama, masyarakat dan lembaga adat yang ada di Abdya, agar dapat mesosialisasikan nilai-nilai agama dan kearifan lokal, yang menghargai dan melindungi hak anak dari tindakan tidak bermoral.

Aksi itu berlangsung tertib, juga tetap mematuhi protokol kesehatan, dengan tetap menjaga jarak dan memakai masker.(b21)

 

 

 

  • Bagikan