Waspada
Waspada » Koptan Usulkan Ke Bupati Bangun Pabrik Pengolahan Ubi Di Aceh Singkil
Aceh

Koptan Usulkan Ke Bupati Bangun Pabrik Pengolahan Ubi Di Aceh Singkil

SINGKIL (Waspada): Kelompok Tani di Kecamatan Gunung Meriah Kabupaten Aceh Singkil minta dukungan bupati untuk mencari investor membangun pabrik pengolahan ubi kayu.

Sebelum rencana membangun pabrik pengolahan ubi, Kelompok Tani (Koptan) Punaga Cahaya Mas Rakyat (PCMR) juga meminta Pemkab Aceh Singkil agar mendorong masyarakat untuk memanfaatkan lahan tidur dengan mengembangkan tanaman varietas jenis ubi racun.
Ketua Koptan PCMR Zainuddin Lubis, usai panen perdana ubi racun oleh Bupati Dulmusrid bersama unsur Forkopimda Aceh Singkil mengatakan, saat ini Koptan yang dikelolanya sedang menggalakkan budidaya jenis ubi racun.
Sebab selain biaya yang relatif murah dikeluarkan, hasilnya juga bisa dinikmati setelah usia tanam 10 bulan.
Disamping itu hama maupun hewan tidak mau makan jenis ubi ini, katanya dihadapan Bupati, Ketua DPRK, Kapolres, Dandim serta Ketua DPRK Aceh Tenggara dan Kadis Tanaman Pangan H Kuatno di Desa Lae Butar Kecamatan Gunung Meriah Aceh Singkil, Rabu (9/12).
Dengan demikian hasil yang diperoleh lebih menguntungkan dan lebih cepat dari kelapa sawit.
Dibeberkannya, banyak dan beragam manfaat dari komoditi ubi racun. Seperti untuk bahan baku kosmetik, obat-obatan, bahan baku kertas, Biotanol dan bahan bakar alternatif.
Serta bisa dimanfaatkan menjadi Mocaf (modified cassava flour) atau pengganti tepung terigu serta berbagai olahan lainnya, sebutnya.
Dijelaskannya, saat ini Koptan Punaga telah mengelola lahan seluas 60 ha didua kecamatan untuk budidaya ubi tersebut. “Ini merupakan salah satu program dalam rangka mendukung ketahanan pangan daerah, tambahnya.
Apalagi bahan baku ubi ini banyak dibutuhkan untuk ekspor mancanegara. Seperti Cina, mereka membutuhkan sebanyak 33 ribu ton setiap bulannya. Kemudian Negara Jepang dan Korea Selatan.
Sebelumnya Koptan telah empat kali ekspor lokal ke Dolok Masihul Kabupaten Serdang Bedagai Sumatera Utara (Sumut). “Harga perkilogram Rp800, mengalami penurunan selama Covid-19. Sebelumnya sampai Rp1.300. Ongkos angkut perkilogramnya Rp260,” sebutnya.
Prospek untuk budidaya ubi ini sangat bagus dikembangkan. Sebab jika mampu budidaya diatas lahan seluas 4 ribu ha, Aceh Singkil sudah bisa mencari investor untuk membangun pabrik pengolahan.
Dengan dibangun pabrik pengolahan tersebut, tidak perlu ekspor. Namun bisa mengayakan daerah sendiri tidak mengayakan negara lain. Karena sudah tentu bisa lebih sangat menguntungkan dan bermanfaat membuka lapangan kerja masyarakat banyak, terang Zainuddin.
Dalam kesempatan itu Bupati Dulmusrid berpesan, agar Koptan bisa bersinergi dengan Dinas Tanaman Pangan dan Dinas Perkebunan untuk menghidupkan bidang ekonomi dan budidaya pangan.
Ini merupakan inovasi yang bagus, komoditi baru yang dikembangkan ini harus terus dilanjutkan. Sehingga bisa menampung tenaga kerja. “Jadi tidak ada lagi masyarakat yang menganggur, semua harus bekerja,” ucap Dulmusrid.
Dulmusrid juga berpesan agar Koptan tidak hanya mengembangkan satu jenis bahan pokok saja. Namun bisa kembangkan seperti jagung, kedelai dan lainnya. “Semoga ini menjadi semangat bercocok tanam dalam meningkatkan ketahanan pangan di Aceh Singkil,” ujarnya.
“Untuk hasil yang diperoleh masih kurang maksimal. Dinas terkait tolong terus dibina, apakah harus pakai pupuk, atau solid agar hasil perbatangnya bisa lebih maksimal,” tandas Dulmusrid. (B25)


Foto: Bupati bersama Ketua DPRK, Dandim 0109, Kapolres, Ketua KTNA, Kadis Tanaman Pangan menunjukkan ubi yang sudah dipanen. Foto: Arief H

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2