Komisi IV Mulai Buka Suara Soal Polemik Di RSUD Tgk Chik Ditiro

Komisi IV Mulai Buka Suara Soal Polemik Di RSUD Tgk Chik Ditiro

  • Bagikan
Gedung Diagnostic Center RSUD Tgk Chik Ditiro, Sigli, Kabupaten Pidie dilihat dari areal parkir, Jumat (8/1). Komisi IV Mulai Buka Suara Soal Polemik Di RSUD Tgk Chik Ditiro. Waspada/Muhammad Riza
Gedung Diagnostic Center RSUD Tgk Chik Ditiro, Sigli, Kabupaten Pidie dilihat dari areal parkir, Jumat (8/1). Komisi IV Mulai Buka Suara Soal Polemik Di RSUD Tgk Chik Ditiro. Waspada/Muhammad Riza

SIGLI (Waspada): Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Pidie yang sebelumnya bungkam, kini mulai buka suara menanggapi polemik di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tgk Chik Ditiro, Sigli, Kabupaten Pidie. Jumat (8/1).

Seperti diberitakan sebelumnya, RSUD Tgk Chik Ditiro, Sigli, Kabupaten Pidie belakangan ini terus mendapat sorotan masyarakat. Pasalnya, sejak 2020 sampai sekarang, berbagai masalah di rumah sakit milik Pemkab Pidie itu, terus menuai masalah. Berawal dari dugaan penerapan Logbook yang pilih-pilih kasih antara sesama tenaga medis.

Lalu tentang penilaian jam kerja yang diduga dilakukan tidak transparan sehingga berimbas pada terlantarnya para pasien akibat para dokter spesialis enggan masuk tugas karena memilih praktik di rumah sakit-rumah sakit swasta yang ada di Kota Sigli.

                                             

Belum lagi persoalan manajemen yang disebut-sebut amburadul. Di mana, tenaga bakti di rumah sakit tersebut dapat kepercayaan menduduki posisi Kepala Gudang. Masalah lainnya juga disebut-sebut pada sektor pembangunan kanopi di bekas gedung Kampus Akper Pemda.

Pembangunan kanopi di bekas gedung Akper Pemda tersebut dinilai banyak kalangan, itu sia-sia dan menghambur-hamburkan uang. Pasalnya, Gedung Akper tersebut saat ini sedang dalam proses Bovalen.

Artinya, dalam waktu tidak lama lagi, bangunan gedung Akper Pemda Pidie yang letaknya persis di depan Gedung Diagnostic Center akan dirubuhkan.

Begitu juga penggunaan gedung Pidie Convention Center (PCC) oleh manajemen RSUD Tgk Chik Ditiro, Sigli. Penggunaan gedung tersebut dinilai tidak respresentatif. Sejatinya manajemen RSUD Tgk Chik Ditiro, Sigli idealnya dapat memanfaatkan lantai II gedung Diagnostik Center.

Dengan adanya manajemen di gedung Diagnostic Center. Direktur dan semua staf manajemen RSUD Tgk Chik Ditiro, Sigli bisa mengawasi pelayanan yang ada di Poliklinik karena letaknya tidak jauh. Selain itu, manajemen bisa dengan mudah melakukan akses komunikasi dengan pihak yang membutuhkan.

Begitu juga halnya dengan pemanfaatan sarana Magnetic Resonance Imaging (MRI) atau pencitraan resonansi magnetik. Penggunaan alat yang bisa menampilkan gambar struktur dan organ dalam tubuh manusia ini, disebut-sebut belum punya jadwal untuk difungsikan.

Masalahnya, akses dari ruang rawat pasien ke ruangan MRI sampai sekarang ditengarai belum siap digunakan. Salah satunya selasar yang menghubungkan gedung MRI dengan ruangan pasien.

Buka Suara

Sementara Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Pidie yang sebelumnya enggan dan menolak berkomentar terkait masalah di RSUD Tgk Chik Ditiro, Sigli, mulai buka suara. Melalui Wakil Ketua Komisi IV DPRK Pidie, Muhammad, mengirim rilis ke WhatsApp (WA) redaksi Waspada.id.

Dalam rilis tersebut, Muhammad menulis, akan memanggil direktur RSUD Tgk Chik Ditiro, Sigli. “Menanggapi santernya komentar miring terkait pengelolaan RSUD Tgk Chik Ditiro Sigli, terutama menyangkut Pembagian Jasa Medis (Jasmed), Logbook dan pasien terlantar, Komisi IV DPRK Pidie akan memanggil direktur rumah sakit,” tulis Muhammad, Jumat (8/1) pagi.

Kata dia, DPRK Pidie akan melakukan rapat untuk kemudian memanggil pihak rumah sakit. Namun sebelum itu, pihaknya perlu melakukan musyawarah untuk mendalami persoalan.

Persoalan di RSUD Tgk Chik Ditiro, Sigli, imbuh politisi Partai Aceh (PA) Kabupaten Pidie tersebut, sejatinya persoalan keterjaminan kesehatan bahkan nyawa masyarakat, sehingga manajemen RSUD Tgk Chik Ditiro sangat diwajibkan bisa bekerja lebih profesional serta bisa memberikan pelayanan terbaik dan lebih maksimal kepada masyarakat.

“Sedangkan pelayanan yang baik kepada pasien hanya bisa dilakukan oleh manajemen yang berkualitas dari rumah sakit itu sendiri,” tandasnya. (b06)

 

 

 

  • Bagikan