Waspada
Waspada » Ketua IDI Pidie: Semua Pasien Masuk RS Perlu Screening
Aceh Headlines

Ketua IDI Pidie: Semua Pasien Masuk RS Perlu Screening

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Pidie, dr Arika Husnayanti Aboebakar, SpOG (K) saat berbicara pada rapat ketua bidang Gugus Tugas COVID-19 Kabupaten Pidie di Oproom Kantor bupati setempat, Selasa (4/8). Ketua IDI Pidie: Semua Pasien Masuk RS Perlu Screening. Waspada/Muhammad Riza
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Pidie, dr Arika Husnayanti Aboebakar, SpOG (K) saat berbicara pada rapat ketua bidang Gugus Tugas COVID-19 Kabupaten Pidie di Oproom Kantor bupati setempat, Selasa (4/8). Ketua IDI Pidie: Semua Pasien Masuk RS Perlu Screening. Waspada/Muhammad Riza

SIGLI (Waspada): Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Pidie, dr Arika Husnayanti Aboebakar, SpOG (K) berharap semua rumah sakit yang ada di daerah itu perlu membangun posko untuk menyaring pasien-pasien dengan COVID-19 (screening).

“Selanjutnya baru kita lakukan, termasuk pasien masuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD). Bukan hanya sebatas pasien IGD, pasien yang berobat di poliklinik juga harus kita screening. Ini penting dilakukan supaya tidak terpapar COVID-19,” kata dr Arika Husnayati Aboebakar, dalam acara rapat Ketua Bidang Gugus Tugas COVID-19 Kabupaten Pidie di Oproom Kantor bupati setempat, Selasa (4/8).

Ketua IDI Pidie: Semua Pasien Masuk RS Perlu Screening. Waspada/Muhammad Riza
Ketua IDI Pidie: Semua Pasien Masuk RS Perlu Screening. Waspada/Muhammad Riza

Dalam kesempatan itu, dr Ika juga berharap Pemerintah Kabupaten Pidie perlu memperkuat rumah sakit, khususnya RSUD Tgk Chik Ditiro yang merupakan salah satu rumah sakit rujukan. “Semua penanganannya, mulai dari Alkes, sampai ke tim medisnya harus sesuai standar rumah sakit COVID-19,” katanya.

Harus Ada Persiapan Rumah Sakit

Kata dr Ika, sampai 3 Agustus 2020, RSUD Tgk Chik Ditiro merawat lima pasien kasus positif COVID-19. Sebanyak tiga orang dirawat ke rumah sakit di Banda Aceh dan satu orang positif isolasi mandiri di rumah, serta satu pasien positif COVID-19 sembuh.

“Di rumah sakit kita, ada lima pasien suspect COVID-19 dirawat. Yang harus kita pikirkan, apakah ini harus ada persiapan rumah sakit Covid, dan rumah sakit non Covid,” katanya.

Bagaimanapun, lanjut dr Ika, pasien-pasien yang non Covid, harus tetap diperhatikan. Misalnya, ibu hamil yang harus memeriksakan dirinya tiap bulan karena pandemi ini, ataupun pasien-pasien dengan penyakit lainnya , seperti hypertensi, diabetes, dan sebagainya.

“Virus Corona ini dapat menyerang manusia melalui udara. Jadi kalau kita penderita COVID-19 dapat menularkan 200.000 partikel sekali dia bicara, dalam lima menit kalau kita duduk berdekatan dengan orang penderita Covid, kemudian kita berbicara maka akan mudah tertular apalagi tidak pakai masker. Apalagi kalau pasiennya batuk, langsung tertular,” ungkapnya menjelaskan.

Persoalan COVID-19, kata dia, tidak boleh diabaikan, tidak mematuhi protokol kesehatan maka mau tidak mau siapapun akan mudah tertularkan COVID-19.

Advokasi Masyarakat Sangat Penting

Karena itulah dr Arika Husna Yanti Aboebakar, SpOG (K), ini berharap pemerintah perlu mempersiapkan berbagai hal. Baik dari sisi Alat Pelindungan Diri (APD) untuk tenaga medis yang berada di garda terdepan. Misalkan petugas di IGD, laboratorium dan rawat inap yang benar-benar tekanan negatif, itu yang paling perlu dipersiapkan.

Selain memperkuat rumah sakit, advokasi kepada masyarakat dinilainya juga sangat penting. Semua pihak dalam hal ini TNI, Polri, Dinkes dan semua SKPK harus bersatu untuk mengadvokasi masyarakat.

“Kita tidak bisa salahkan masyarakat karena pasien berbohong, sebenarnya bukan berbohong. Pasien mungkin tidak mengerti, jadi tugas kita semua untuk mengadvokasi masyarakat agar mereka tahu bagaimana cara penularan virus corona dan cara menghentikan penularannya,” katanya. (b06)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2