Kawasan Nelayan Jagu, Objek Wisata Alternatif Di Tengah Pandemi

  • Bagikan
Sejumlah warga sedang menjual makanan ringan kepada pengunjung di lokasi proyek penataan kawasan nelayan Kampung Jawa dan Hagu (Jagu), Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe. Suasan lokasi yang jauh dari kerumunan warga, telah menjadi objek wisata alternatif di masa pandemi Covid-19. Waspada/Ist
Sejumlah warga sedang menjual makanan ringan kepada pengunjung di lokasi proyek penataan kawasan nelayan Kampung Jawa dan Hagu (Jagu), Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe. Suasan lokasi yang jauh dari kerumunan warga, telah menjadi objek wisata alternatif di masa pandemi Covid-19. Waspada/Ist

PENYEBARAN Covid-19 masih mengkhawatirkan di Lhokseumawe dan sekitarnya. Satgas Covid-19 masih membatasi kerumunan warga. Aktivitas kafe, pusat perbelanjaan dan lokasi wisata juga masih dipantau.

Sementara untuk mengisi waktu luang bersama keluarga, masyarakat memilik objek wisata alami yang lokasinya lebih luas. Pantai dan kawasan hutan, menjadi pilihan warga mengisi masa liburan. “Warga menghindari kerumunan untuk mencegah penyebaran virus Corona,” jelas Ridwan, 45, salah seorang warga yang menetap di pemukiman nelayan Hagu Selatan, Lhokseumawe.

Menurutnya, lokasi proyek penataan kawasan nelayan di Kampung Jawa dan Hagu (Jagu), Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe, sekarang sering dikunjungi warga. Pemerintah pusat sedang membangun tanggul sepanjang pantai Jagu. Meskipun pembangunan tanggul belum selesai, namun lokasi itu sering didatangi warga untuk menikmati suasana pantai. Proyek penataan kawasan nelayan Jagu telah menjadi objek wisata alternatif di tengah pandemi Covid-19.

Dari atas tanggul pantai Jagu, pengunjung bisa melihat hamparan laut Selat Malaka. Aktivitas nelayan di laut yang menggunakan boat berbagai ukuran, juga menarik perhatian pengunjung. “Berkunjung ke sini gratis, selain itu tanggul sangat panjang, sehingga tidak menimbulkan kerumunan,” tambah Ridwan.

Sepanjang tanggul Jagu, mereka bisa melihat kegiatan nelayan menangkap ikan, dengan menggunakan pukat darat. Aktivitas ‘tarek pukat‘ biasanya hanya bisa dinikmati melalui tarian tradisional. Namun, di lokasi tanggul proyek penataan kawasan nelayan Jagu, pengunjung bisa melihat langsung kegiatan tarek pukat.

Para nelayan, menggunakan tali untuk menarik alat tangkap ikan. Mereka berdiri berjajar, sambil melangkah serentak di sepanjang tanggul Jagu. Gerakan mereka hampir sama dengan gerakan dalam tarian. “Gerakan nelayan pukat darat sangat indah dan serentak,” sebut salah seorang pengunjung. Semenjak tanggul dibangun, pemandangan tersebut semakin sering terlihat di sepanjang pantai.

Sejumlah warga nelayan, juga memanfaatkan kunjungan tersebut untuk menjual makanan ringan. Meskipun pengunjung tidak terlalu ramai, namun usaha mereka bisa meraup keuntungan.

Proyek penataan kawasan nelayan di Lhokseumawe diperkirakan panjangnya 1.000 meter lebih. Sebelumnya, kawasan itu sulit dilintasi. Sepanjang pantai dipenuhi batu gajah, untuk antisipasi abrasi pantai. Akibatnya, keindahan pantai tidak bisa dinikmati warga.

Namun setelah dibangun tanggul Jagu, warga semakin mudah mencapai kawasan pantai. Ketika kondisi pandemi Covid-19, menurut warga setempat, sangat cocok menikmati kawasan pantai. Tidak terjadi kerumunan serta suasana lebih alami. WASPADA/Zainal Abidin

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.