Kasus Hepatitis Akut Di Langsa Tidak Diketemukan

  • Bagikan
Kadinkes Kota Langsa, dr Muhammad Akbar. Waspada/Rapian
Kadinkes Kota Langsa, dr Muhammad Akbar. Waspada/Rapian

LANGSA (Waspada) : Kasus Hepatitis Akut di Kota Langsa belum diketemukan atau zore di mana yang kini tengah booming terjadi di Pulau Jawa maupun Sumut, Selasa (11/5).

Demikian penegasan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Langsa, dr M Akbar, melalui Kabid P2P Dinkes Langsa, Betti Muharni, SKM, MKM, mengatakan bahwa hingga saat ini dipastikan belum ada kasus Hepatitis Akut di Langsa.

Dijelaskan kembali bahwa dugaan tersebut muncul karena serupa dengan penularan Rotavirus dan Adenovirus yang menyebabkan diare.

Meski demikian, hingga saat ini belum ada penemuan pasti mengenai penyebab penyakit yang menyerang anak-anak usia di bawah 16 tahun tersebut.

“Secara umum hepatitis akut ini kan, terutama A dan E, itu penularan lewat saluran cerna, fekal oral juga, mirip dengan diare Rotavirus,” ujarnya.

Lanjut, Betti, lantaran ditransmisikan melalui fekal oral, artinya virus yang menyebabkan hepatitis akut tersebut menular melalui tangan, air, makanan yang tercemar, hingga alat makan seperti sendok dan piring.

“Lalu yang Adenovirus yang diduga (menjadi penyebab hepatitis akut) masih belum pasti, yang ada di beberapa kasus itu juga, belum pasti, itu lewat saluran cerna,” katanya.

Oleh karena itu, ia meminta orang tua untuk mewaspadai penularan virus penyebab hepatitis akut tersebut, salah satunya dengan menjaga kebersihan asupan makanan anak-anak, kualitas air, serta lingkungan sebagai langkah pencegahan dari penyakit hepatitis akut.

Selain itu, ia meminta orang tua untuk tetap disiplin protokol kesehatan yang selama ini telah diterapkan sebagai langkah pencegahan dari Covid-19.

Adapun Ciri-ciri anak terkena hepatitis akut, ciri dari anak yang tertular hepatitis akut adalah tingginya tingkat serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT) dan serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT) di atas 100.

Adapun SGOT adalah enzim yang biasanya ditemukan di organ hati (liver), jantung, ginjal hingga otak, sementara SGPT adalah enzim yang banyak dijumpai di dalam hati.

Untuk itu, bila anak mengalami demam, segera periksakan ke fasilitas kesehatan terdekat.

“SGPT dan SGOT itu normalnya di level 30-an. Kalau udah naik agak tinggi lebih baik refer ke fasilitas layanan kesehatan terdekat,” terangnya.

Di samping itu, Betti meminta masyarakat untuk melakukan tindak pencegahan dengan rajin mencuci tangan dan memastikan kesehatan asupan makanan setiap anak-anak

Sebab, virus yang menyebabkan penyakit hepatitis akut, menular lewat asupan makanan, terutama anak-anak di bawah 16 tahun.

“Jadi kita pastikan apa yang masuk ke anak-anak kita untuk bersih, karena ini menyerang di bawah 16 tahun dan lebih banyak lagi di bawah lima tahun,” ungkapnya.

Pun demikian, lebih lanjut, Betti, melakukan screening triple eliminasi pada ibu hamil di awal kehamilan (k1) jd terdeteksi sejak awal penyakitnya.

“Kasus hepatitis B selama ini di ibu hamil, karena bumil sasarannya,” jelasnya.

Selain itu ada pemeriksaan anti HCV (hepatitis C) juga , tapi untuk sasaran kelompok beresiko (odhiv, penasun, wbp dll) di Puskesmas dan RS tertentu.

Direktur RSUD Langsa, dr. Helmiza Fahri, Sp.OT. Waspada/Rapian

Hal senada juga diungkapkan oleh Direktur RSUD Langsa, dr. Helmiza Fahri, Sp.OT, bahwa hingga saat ini belum ada tercatat pasien Hepatitis Akut yang masuk RSUD Langsa dan berharap tidak adanya kasus ini.

“Kita harus mewaspadai kasus Hepatitis Akut dan jangan sampai ada di Kota Langsa, jauh lebih baik mencegah daripada harus mengobatinya,” tukas Helmiza yang juga Ketua IDI Kota Langsa itu. (crp).

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *