Waspada
Waspada » Karena Sengketa Tanah Dua Kelompok Dipenjara
Aceh Headlines

Karena Sengketa Tanah Dua Kelompok Dipenjara

PARA tersangka pidana penganiayaan dan pembakaran, ketika dilangsungkan temu pers di Mapolres Aceh Tengah, Rabu (23/12). Karena Sengketa Tanah Dua Kelompok Dipenjara. Waspada/Bahtiar Gayo
PARA tersangka pidana penganiayaan dan pembakaran, ketika dilangsungkan temu pers di Mapolres Aceh Tengah, Rabu (23/12). Karena Sengketa Tanah Dua Kelompok Dipenjara. Waspada/Bahtiar Gayo

TAKENGON (Waspada): Kedua belah pihak saling mengklaim tanah, walau secara hukum tanah itu milik Pemda Aceh, di Blang Bebangka, Paya Sangor, Pegasing, Aceh Tengah. Kasusnya panjang hingga kedua belah pihak ada yang mendekam dalam penjara.

“Dua tersangka penganiayaan dan dua tersangka pembakaran rumah. Hari ini tersangka dan barang bukti akan diserahkan ke Kejaksaan,” sebut Kapolres Aceh Tengah, AKBP Heri Sandy Sinurat, melalui Kasat Reskrim Polres Aceh Tengah, AKP Ahmah Arief Sanjaya, ketika dilangsungkan temu pers di Mapolres setempat, Rabu (23/12).

“Keempat tersangka itu dengan kasus berbeda dari dua kelompok, namun awalnya sengketa dipicu dari saling mengklaim tanah,” sebut Kasat Reskrim. Berkas para tersangka sudah P21 dan hari ini akan dilimpahkan ke kejaksaan.

Satu kelompok melakukan penganiayaan, kelompok korban tidak terima dan membuat laporan polisi. Namun bukan hanya sampai di situ, kelompok korban juga melakukan pembakaran rumah. Dua kelompok jadi tersangka akibat sengketa tanah.

Kejadian itu bermula pada 21 Oktober lalu, sekitar pukul 16:00 WIB. Awalnya terjadi cekcok saling mengklaim sebagai pemilik tanah. “Walau secara hukum dan bukti otentik tanah itu milik Pemda Aceh,” sebut Kasat Reskrim.

Tersangka MF, 32, pekerjaan IRT penduduk Kampung Uning dan SP, 86, tani, penduduk Kampung Paya Jeget, kedua dari Kecamatan Pegasing Aceh Tengah, melakukan penganiayaan kepada korban ZD dan WA yang sedang memagari kebunnya di tanah saling mengklaim itu.

Korban yang mengalami luka-luka akibat benturan benda keras melaporkan kasus itu kepada pihak penyidik Polsek Pegasing, tak jauh dari lokasi kejadian. Mendapat laporan, aparat kepolisian menjemput tersangka. Korban dilarikan ke RSU untuk mendapatkan pelayanan medis.

Namun ketika penyidik menjemput pelaku SP, di kediamannya sudah ramai massa dari kelompok lain. Polisi meminta massa bubar, namun massa tetap tidak mau bubar. Polisi mengamankan SP ke Polsek Pegasing.

Selang dua menit polisi sampai di Polsek, sebut Kasat Reskrim, didapatkan informasi rumah SP bersama isinya musnah terbakar. Tiga unit sepeda motor yang ada dalam rumah hangus jadi arang. Tak terima dengan insiden itu, giliran keluar SP yang membuat pengaduan ke polisi. Mereka mengalami kerugian yang ditaksir senilai Rp350 juta.

Polisi mengembangkan kasus yang sempat memanas dari dua kubu ini, bahkan sempat berlangsung demo ke DPRK meminta pemerintah menyelesaikan persoalan sengketa tanah itu. Karena masyarakat mengklaim tanah itu merupakan tanah adat.

Akhirnya polisi menetapkan enam tersangka kasus pembakaran rumah, dari enam tersangka itu baru dua yang berhasil diamankan, sementara empat lainya dinyatakan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO).

Tersangka pembakaran rumah semuanya warga Kung, Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah. Dua tersangka yang mendekam di Mapolres Aceh Tengah, KD, 55 dan RD, 48. “Para tersangka baik penganiayaan dan pembakaran hari ini akan dilimpahkan ke jaksa, beserta barang bukti, karena kasusnya sudah P 21,“ sebut Kasat Reskrim.

Dalam temu pers itu, Kasat Reskrim juga menghadirkan seorang tersangka penganiayaan di Toweren, Kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah yang menghilangkan nyawa Hengky, pemilik Cafe Lhong.

Walau kasus penganiayaan itu disebutkan massa, pihak penyidik hanya menetapkan dua tersangka karena sulitnya pembuktian. Tersangka PZ, 35, warga Toeweren Uken, Aceh Tengah sudah diamankan, namun tersangka AKF, 19, warga yang sama kini menjadi DPO. (b27)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2