Waspada
Waspada » Kampung Babo Wacanakan Tidak Anggarkan BLT
Aceh

Kampung Babo Wacanakan Tidak Anggarkan BLT

Datok Kampung (Kepala Desa-red) Babo,Paimin. Waspada/Ist
Datok Kampung (Kepala Desa-red) Babo,Paimin. Waspada/Ist

ACEH TAMIANG (Waspada): Kampung Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang dikabarkan tidak menganggarkan uang Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari Alokasi Dana Desa (ADD) untuk disalurkan bagi warga yang terdampak COVID-19 selama tiga bulan.

Paimin, Datok Kampung (Kepala Desa-red) Babo, Kecamatan Bandar Pusaka kepada Waspada Jum’at (24/4) mengatakan, pihaknya mengambil langkah tidak mengalokasi BLT dari dana desa karena uangnya tidak cukup, bahkan tak menutup kemungkinan terjadinya kecemburuan di kalangan masyarakat kampungnya.

“Bicara dampak COVID-19, saya rasa semua masyarakat sekarang ini mengalaminya baik secara langsung maupun tidak sehingga bila munculnya bantuan tidak mungkin diberikan secara pilih memilih,” ujar Paimin seraya mengatakan, kebijakan pemilahan terhadap sasaran yang akan menerima BLT akan menimbulkan kecemburuan sosial antar warga sehingga dikhawatirkan berujung terjadinya konflik horizontal di tengah masyarakat dan juga di pemerintahan kampung.

Disebutkannya, untuk Kampung Babo terdapat 227 Kepala Keluarga (KK) dari 732 KK yang masuk pendataan dan belum penetapan.

“Setiap KK menerima BLT senilai Rp600 ribu perbulan dan berlangsung selama tiga bulan,” jelas Paimin seraya mengatakan, apalagi wabah COVID-19 sangat berdampak pada distribusi logistik kebutuhan pangan warga karena semuanya bergantung pada moda transportasi tertentu.

Sedangkan kondisi saat ini, jalur transportasi banyak terganggu, jika ini terus berlanjut, maka berpengaruh besar terhadap keberadaan logistik untuk memenuhi kebutuhan pangan warga.

Program Penyiapan Ketahanan Pangan

Pemerintah mungkin belum fokus pada penyiapan ketahanan pangan pada masing-masing daerah, apalagi pada tingkat desa (kampung). Sebab itu, pemerintahan Kampung Babo berinisiatif mengajukan program penyiapan ketahanan pangan tingkat kampung dengan membuat kebijakan dukungan pada pertanian intensif di kampung.

“Melalui penanaman padi atau penggantinya secara massif dan penanaman sayur-mayur secara massif untuk mencukupi kebutuhan seluruh warga kampung serta adanya putaran ekonomi bila hasil panennya mampu memenuhi kebutuhan pasar di kecamatan serta pasar di kawasan perkotaan seperti pasar Kuala Simpang,” ungkap Paimin.

Menurutnya, keuntungan dari produksi pertanian ini akan memberikan manfaat besar bagi warga bila COVID-19 berkepanjangan, terutama untuk makanan pokok secara intensif ditingkat kampung. “Dipastikan bahan makanan pokok ini tidak terkontaminasi oleh virus COVID-19,” tegas Paimin.

Harus diingat, kata Paimin, program pertanian ini dapat berkelanjutan, tidak hanya sekali waktu saja, seperti pada saat pemberian bantuan, tetapi ini akan lebih menjamin ketahanan pangan yang berkelanjutan khususnya di tingkat kampung.

“Terlebih jika BLT tetap diberikan, sedangkan stok pangan tidak tersedia, maka hal itu akan terkesan sia-sia serta tidak ada efeknya dari bantuan tersebut,” demikian Paimin.(cri/B)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2