Waspada
Waspada » Kadinkes Aceh Utara Klarifikasi Soal Rapid Test
Aceh Features

Kadinkes Aceh Utara Klarifikasi Soal Rapid Test

Kadinkes Aceh Utara, Amir Syarifuddin. Waspada/Ist
Kadinkes Aceh Utara, Amir Syarifuddin. Waspada/Ist

SELASA (7/4) pukul 22:30, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Utara, Amir Syarifuddin kepada Waspada mengklarifikasi jawabannya terkait berita Rapid Test Kiriman Provinsi Aceh Tak Layak. Persoalannya, Amir Syarifuddin mengaku tidak tahu sasaran pertanyaan Waspada, karena pertanyaan itu ditanyakan kepadanya saat dirinya sedang berjalan.

“Saya tidak tahu sasaran pertanyaan, karena bagaimana saya mengatakan rapid test provinsi tidak layak pakai, terima barangpun belum. Kecuali barang sudah saya terima, ini barang belum saya terima. Dan belum pernah kita buat permohonan untuk meminta rapid test, karena kita sudah mengusulkan untuk membeli sendiri dengan anggaran sendiri. Bukan rapid test tetapi VTM alat sejenis swab. Sudah kita beli, cuma belum sampai. Kita order melalui pihak ke tiga,” terang Amir Syarifuddin melalui telepon.

Kemudian, Amir Syarifuddin juga menyebutkan, selain tidak mengetahui sasaran pertanyaan dari Waspada, juga mengaku kalau dirinya tidak tahu jenis barang yang ditanyakan itu. Meskipun Waspada telah mengatakan kepadanya, bahwa sengaja menunggu dirinya di Op Room selesai rapat khusus ingin bertanya tentang rapid test.

Yaa…loen pih karena pruet deuk. Ie beungoeh golom keunong. Poh pih ka 12:30. Peu tatanyoeng teuma (yaa..saya pun karena perut sudah lapar. Sarapan pun belum. Jam sudah pukul 12:30-red),” sebutnya.

Melalui telepon, Amir juga menerangkan, Dinas Kesehatan Aceh Utara baru menerima tiga jenis barang dari Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, namun Amir tidak menyebutkan ketiga jenis barang tersebut. Ketika ditanya apakah rapid test baru dikirim oleh provinsi setelah ada permohonan.

Nyan hana tatuoeh syit. Sebab meunoe geutanyoe. Geutanyoe barang-brang lagee nyan. Maksud loen meunoe. Lab geutanyoe koen hana lengkap di Puskesmas, sehingga barang-barang yang butuh lab, nyan geutanyoe han tateujeut lakee, karena geutanyoe hana lab yang stadar loem. Standar WHO. Mungken yang na lakee rapit test nyan RSUD Cut Mutia, nyan pih mungken. Untuk Puskesmas hana geutanyoe (Itu kita tidak tahu juga. Sebab begini, kita barang-barang seperti itu. Maksudnya kita begini. Lab kita kan tidak lengkap di Puskesmas, sehingga barang-barang yang membutuhkan lab itu kita tidak berani minta, karena kita tidak punya lab standar WHO. Mungkin yang minta rapid test itu RSUD Cut Mutia, itupun mungkin. Untuk Puskesmas tidak ada permintaan-red),” kata Amir Syarifuddin dengan Bahasa Aceh.

Kemudian, Amir Syarifuddin kembali menegaskan, kalau pihaknya tidak pernah meminta rapid test ke Dinas Kesehatan Aceh. Pihaknya juga tidak melakukan pengadaan rapid test. “Inti jih talakee u provinsi hana, yang tabloe keudroe pih hana rapid test nyan, yang tablo keudroe teuh VTM. Koen rapit test (intinya kita minta ke provinsi tidak, yang kita beli sendiripun tidak ada rapid test, yang kita beli bukan rapid test tapi VTM-red),” ujarnya.

Ditanya berapa banyak VTM yang diorder, Amir mangaku untuk tahap pertama mencukupi, tetapi VTM itu belum sampai hingga sekarang. Ditanya mengapa begitu sulit melakukan pengadaan barang tersebut. “Itupun saya tidak tahu, sebab begini, barang yang kita order tersisa dua macam lagi yang belum sampai yaitu masker dan VTM bukan rapid test, yang lain sudah. Masker dan VTM sampai saat ini belum sampai,” sebutnya.

Ditanya bagus mana antara rapid test dengan VTM, kemudian berapa banyak VTM yang diorder, Amir Syarifuddin kepada Waspada mengatakan. “Kurang tahu juga, karena itu semua sama mereka (anak buahnya).”

Terkait Dana Alokasi Khusus (DAK) Rp2 Miliar Untuk COVID-19

Terkait pengalihan dana alokasi khusus (DAK) Dinas Kesehatan Aceh Utara senilai Rp2 miliar untuk dipergunakan sebagai dana tanggap darurat penangangan COVID-19, Amir Syarifuddin menyebutkan tidak ada proyek fisik yang hilang, karena dana yang diambil dari non fisik.

“Tidak ada proyek fisik yang hilang karena anggaran yang kita ambil dari non fisik. Hana tabloe barang nyan ka tabloe barang corona saban syit (tidak kita beli barang itu, kita beli barang corona, kan sama juga-red),” urainya.

Ditanya jenis barang yang sudah dibeli dengan anggaran Rp2 miliar itu, Amir Syarifuddin mengatakan, pertama pihaknya sudah membeli cairan disinfektan dan alat semprot, APD untuk penyemprotan, APD untuk penanganan COVID-19 lengkap.

Kemudian, kata Amir, masker dan VTM yang belum sampai hingga hari ini. “APD untuk penangan COVID-19 sudah sampai 100 persen dari rekanan, jumlahnya 320 sudah lengkap. Seluruh Puskesmas sudah terima.” ujarnya

Masker Khusus Diorder Untuk Tenaga Medis

Terakhir, Waspada kembali bertanya dengan jelas dan berulang-ulang agar Amir Syarifuddin tidak salah sasaran dengan pertanyaan itu. Berapa jumlah masker yang diorder melalui pihak ke tiga.

“Masker memang terbatas, karena orderan dari kita memang belum masuk. Kita mengorder masker seluruhnya 800 kotak. Belum masuk sama sekali. Sementara masker yang kita bagi kemarin bersumber dari provinsi, dari BPBD Aceh Utara kemudian ada stok masker dari dinas,” terangnya, yang juga mengaku tidak mengetahui kapan persisnya masker itu akan diterima pihaknya dari rekanan.

“Masker kita order melalui pihak ketiga sama sekali belum sampai, karena untuk pengadaan masker paling cepat 25 hari atau 30 hari baru sanggup dibuat pengadaan.” kata Amir Syarifuddin.

Ditanya jumlah masyarakat yang akan menerima masker bantuan Dinas Kesehatan, Amir Syarifuddin mengatakan masker yang diadakan itu bukan untuk dibagi kepada masyarakat, tetapi khusus diorder untuk tenaga medis di seluruh Puskesmas, agar mereka memakai masker tersebut saat monitor ODP di lapangan.

“Masker yang kita order khusus untuk tenaga kesehatan dalam rangka mengawasi masyarakat terkait COVID-19. Mungkin desa punya dana sendiri untuk pengadaan masker buat masyarakat,” terkanya. Waspada/Maimun Asnawi

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2