Jamaah Panjatkan Doa Ke Deklarator GAM Hasan Tiro - Waspada
banner 325x300

Jamaah Panjatkan Doa Ke Deklarator GAM Hasan Tiro

  • Bagikan
Ketua Panitia, Zubir Peudawa (kiri) ikut memanjatkan doa bersama jamaah dalam rangka Haul Ke-10 Deklarator GAM Hasan Tiro di Meunasah Gampong Meunasah Jeumpa, Kec. Idi Timu, Kab. Aceh Timur, Rabu (3/6) malam. Waspada/M. Ishak
Ketua Panitia, Zubir Peudawa (kiri) ikut memanjatkan doa bersama jamaah dalam rangka Haul Ke-10 Deklarator GAM Hasan Tiro di Meunasah Gampong Meunasah Jeumpa, Kec. Idi Timu, Kab. Aceh Timur, Rabu (3/6) malam. Waspada/M. Ishak

IDI (Waspada): Puluhan jamaah memperingati Haul Deklarator Gerakan Aceh Merdeka (GAM) AlmarhumTeungku Hasan Muhammad di Tiro. Haul berupa zikir dan doa itu dipanjatkan secara bersama dan dipusatkan di Meunasah (surau–red) Gampong Meunasah Jeumpa, Kecamatan Idi Timu, Kab. Aceh Timur, Rabu (3/6) malam.

Doa dipimpin Tgk. Fadli atau akrap disapa Abiya Idi Cut. Hadir antara lain Tgk. Iskandar dari Lhok Asahan, Tgk. Marzuki dari Seuneubok Kuyuen, dan Abu Yus dari Sama Dua.

Kegiatan yang digagas pemuda dan masyarakat Gampong Meunasah Jeumpa itu bertujuan untuk mengingat perjuangan dan jasa Teungku Hasan Muhammad Tiro terhadap Aceh, sehingga masyarakat bisa menikmati berbagai hasil dari perjuangan GAM itu.

“Dengan zikir, tahlil dan doa yang kita panjatkan ini, semoga tersampaikan kepada Almarhum Teungku Hasan Muhammad di Tiro, selaku Deklarator GAM di Aceh,” ujar Ketua Panitia Pelaksana Haul Ke-10 Teungku Hasan Muhammad di Tiro, Zubir, kepada Waspada, Kamis (4/6).

Zubir berpendapat, kedamaian yang dirasakan masyarakat saat ini dianggap tidak terlepas dari perang gerilya yang dimulai Hasa Tiro sejak 1976 di Gunung Halimun, Pidie. Perjuangannya sejak itu berakhir dengan kedamaian antara Pemerintah RI-GAM, 15 Agustus 2005 silam. Tak tanggung-tanggung, dalam perdamaian itu terlibat mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari.

“Berkat perjuangan beliau (Hasan Tiro), saat ini masyarakat Aceh sudah bisa mencalonkan diri sebagai calon eksekutif baik bupati/wakil bupati dan gubernur/wakil gubernur dari partai lokal (parlok). Begitu juga dengan legislatif baik calon DPRK ataupun DPR Aceh,” sebut Zubir.

Setelah selesai doa dan tausiah, dilanjutkan dengan makan malam bersama diiringi dengan penyantunan. Kegiatan tersebut sengaja digelar secara sederhana mengingat pandemi global COVId-19 masih mengancam.

“Kapasitas meunasah ini 350 orang. Tapi karena wabah ini, maka kita hanya menghadirkan jamaah sekitar 50 orang. Namun tetap mengikuti protokol kesehatan sebagaimana prosedur new normal,” demikian Zubir. (b11).

  • Bagikan