Waspada
Waspada » Jalan Proklim Abdya Memprihatinkan
Aceh Headlines

Jalan Proklim Abdya Memprihatinkan

KONDISI jalan Proklim kawasan Kecamatan Manggeng, Abdya, Senin (18/1). Jalan Proklim Abdya Memprihatinkan. Waspada/Syafrizal
KONDISI jalan Proklim kawasan Kecamatan Manggeng, Abdya, Senin (18/1). Jalan Proklim Abdya Memprihatinkan. Waspada/Syafrizal

BLANGPIDIE (Waspada): Kondisi jalan perkebunan Program Kampung Iklim (Proklim) di Kecamatan Manggeng, Aceh Barat Daya (Abdya), sangat memprihatinkan. Jalan yang menjadi akses vital para pekebun dari sejumlah desa di kecamatan itu, saat ini dalam kondisi rusak berat. Di sejumlah titik, jalan itu sudah putus dan tidak bisa dilalui lagi.

Di samping itu, jalan Proklim dimaksud, sudah ditumbuhi semak belukar dan membentuk hutan kecil sepanjang jalan, juga kiri-kanan jalan. Akibatnya, jalan yang senantiasa digunakan tiap hari para pekebun dari Desa Ladang Panah, Desa Lhok Puntoi, Desa Padang dan sejumlah desa lainnya di Kecamatan Manggeng itu, rawan gangguan binatang buas, seperti ular dan babi hutan.

Kondisi jalan yang seharusnya terawat dengan baik karena menjadi andalan penunjang dalam menggenjot perekonomian penduduk itu, sangat disayangkan para pegiat lingkungan, khususnya dari Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Bineh Rimba, Desa Padang, Kecamatan Manggeng.

Kelompok peduli lingkungan di Abdya itu, sangat menyesalkan jika Pemkab bersikap tutup mata dengan akses jalan Proklim yang pernah mendapat penghargaan predikat utama, dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pada akhir 2020 lalu.

“Dari jalan ini, nafas kehidupan penduduk dalam sejumlah desa di kawasan ini bisa berlanjut. Haruskah kita tutup mata dengan kondisi ini,” ungkap TM Daod Yuska, dari Garda Madina Institute, selaku inisiator lahirnya KSM Bineh Rimba.

Didampingi Devi Zulrafli, Ketua KSM Bineh Rimba, Daod Yuska berharap, Pemkab setempat dapat segera memperbaiki jalan itu agar bisa dilalui kendaraan. Di mana, para pekebun dari Desa Padang, Desa Ladang Panah dan Lhok Puntoy, juga sejumlah desa lainnya, saban hari menggunakan jalan itu sebagai sarana transformasi dalam mengangkut hasil panen.

Daod Yuska juga mengatakan, saat ini jalan perkebunan menembus kawasan pegunungan Ladang Panah dan Lhok Puntoy, hingga Gunung Sabi itu, sudah sulit dilalui masyarakat. Bukan saja kendaraan, pejalan kaki saja sudah kesulitan untuk menginjak jalan harapan hidup itu, karena sudah terjal akibat longsor, pasca dibangun pada tahun 2012 lalu.

“Badan jalan banyak yang putus. Ada beberapa titik perlu dibangun jembatan, karena tidak mungkin lagi dilalui, sebab sudah lama tidak ada peningkatan pasca selesai dibangun,” sebutnya.

Ditambahkan, jika jalan itu diperbaiki, dipastikan akses ke kebun warga sudah semakin dekat dan tidak memakan waktu lama. “Kita prihatin, ada warga harus mencari jalan alternatif lain, hingga berputar-putar ratusan meter. Terkadang ada juga warga yang terpaksa melintasi semak belukar. Bahkan, sempat melalui tempat persembunyian babi hutan, untuk mencapai ke kebunnya,” pungkas Daod Yuska.(b21)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2