Waspada
Waspada » HKTI Desak Dinas Pantau Kebutuhan Petani
Aceh

HKTI Desak Dinas Pantau Kebutuhan Petani

Sejumlah pekerja sedang menurunkan pupuk subsidi di Kecamatan Nisam, Aceh Utara, Senin (27/1).Waspada/Zainal Abidin
Sejumlah pekerja sedang menurunkan pupuk subsidi di Kecamatan Nisam, Aceh Utara, Senin (27/1).Waspada/Zainal Abidin

LHOKSUKON (Waspada): Pupuk Iskadar Muda (PIM) mulai menyalurkan pupuk bersubsidi kepada petani di Aceh Utara, Senin (28/1). Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Aceh Utara mendesak dinas pertanian setempat turun ke lapangan, untuk memantau langsung keluhan petani dalam penyaluran pupuk bantuan pemerintah tersebut.

Ketua HKTI Aceh Utara Darkasyi kepada Waspada menegaskan, pihaknya prihatin dengan kondisi penyaluran pupuk bantuan pemerintah pusat. Belum sampainya pupuk subsidi kepada petani, menurut Darkasyi merupakan permasalahan serius.

“Kepala dinas terkait jangan tunggu informasi di kantor, mestinya turun ke lapangan untuk bisa mengetahui keluhan masyarakat,” tegas Ketua HKTI Aceh Utara.

Darkasyi juga menyebutkan, pihak berwenang juga harus menyelidiki mengapa pupuk subsidi terlambat disalurkan di Aceh Utara.

“Saya minta PT. PIM diselidiki oleh pihak berwenang, kemana dibawa pupuk,” katanya. Ketika masuk musim tanam, PIM belum juga menyalurkan pupuk bersubsidi.

Sebelumnya, Hafifuddin, 50, petani Menasah Glok, Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara mengatakan, petani setempat mulai memindahkan tanaman padi dari persemaian. Ketika memindahkan tanaman padi ke lahan tanaman, petani sangat membutuhkan pupuk untuk penyuburan tanaman padi.

Namun mereka kecewa, pupuk subsidi semakin sulit didapatkan di kios-kios penyaluran pupuk resmi. Sementara pupuk non-subsidi harganya lebih tinggi, sehingga memberatkan petani setempat.

Kelangkaan tersebut menurut Hafifuddin terjadi sejak tanaman padi masih di persemaian. Namun bibit padi di persemaian belum membutuhkan banyak pupuk, sehingga kelangkaan pupuk tidak terasa.

“Ketika padi masih dipersemaian, pupuk subsidi sudah langka, tapi ketika itu belum perlu banyak pupuk,” tambahnya. Saat ini tanaman padi mulai dipindahkan dari persemaian, sehingga mereka membutuhkan pupuk urea dan SP36 dalam jumlah tidak sedikit.

Akibat kelangkaan pupuk subsidi, para petani terpaksa mengeluarkan biaya lebih besar. Kondisi tersebut sangat merugikan, karena petani masih butuh banyak biaya untuk kebutuhan anti hama selama perawatan padi.

Menurut beberapa petani, harga urea non-subsidi di kawasan itu mencapai Rp280.000 per zak. “Sedangkan yang subsidi hanya Rp110.000,” kata Hafifuddin kembali.

Penyaluran Terlambat Akibat e-RDKK

Sementara itu Manajer Humas PIM mengakui pupuk subsidi mulai disalurkan ke sejumlah kecamatan di Aceh Utara. Diantaranya, Kecamatan Sawang, Muara Batu dan Nisam. Menurut Nikman.

Keterlambatan penyaluran akibat terlambat rekap nama-nama penerima melalui e-RDKK (elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok).

“Sekarang sistemnya e-RDKK yang dibuat kelompok tani didampingi oleh penyuluh pertanian di Kecamatan,” jelas Nikman. Selanjutnya secara berjenjang disetujui Dinas Pertanian di kabupaten dan kota. Namun karena e-RDKK merupakan sistem baru dalam penyaluran pupuk bersubsidi, sehingga butuh banyak waktu.

“Belum semuanya dapat direkap oleh dinas pertanian. Setelah rekap tersebut selesai, PIM baru bisa menyalurkan pupuk bersubsidi.(b15)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2