Hentikan Replanting Sawit, Usut Kematian Gajah

  • Bagikan
Direktur Eksekutif WALHI Aceh, Muhammad Nur. Waspada/Ist
Direktur Eksekutif WALHI Aceh, Muhammad Nur. Waspada/Ist

IDI (Waspada): Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh meminta aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kematian gajah betina yang diperkirakan masih berusia dua tahun di lokasi replanting sawit di Desa Alue Meuraksa, Teunom, Aceh Jaya.

“Kita minta replanting sawit dihentikan dan kematian gajah betina di Aceh Jaya itu perlu diusut tuntas,” kata Direktur Eksekutif WALHI Aceh, Muhammad Nur, Rabu (17/11).

Dalam siaran persnya, WALHI menilai Pemerintah Aceh bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat tidak serius dalam melakukan perlindungan terhadap satwa kunci, sebab hampir setiap tahun terjadi kematian gajah akibat terjerat dan racun.

“Pemkab Aceh Jaya mendapatkan kuota replanting sawit seluas 1.425 hektar di tahun 2019 dan tersebar di berbagai titik, diantaranya Desa Alue 453 hektar, Masen dan Pante Kuyun Kecamatan Darul Hikmah – Setia Bakti 130 hektar, Desa Gampong Baroh 50 hektar, Desa Gunong Buloh 289 hektar, Desa Ranto Saboh 287 hektar,” sebutnya.

Menurut dia, luas kawasan peremajaan sawit sudah mengganggu jalur lintas gajah hingga terancam punah satwa kunci di Aceh yang masih kaya hutan. “Akibat kegiatan perluasan peremajaan sawit di Aceh Jaya, maupun di daerah lain membuktikan pemerintah tidak peduli jalur/koridor gajah,” timpanya.

Harusnya, lanjut dia, jalur gajah sumatera tidak diganggu atas nama bisnis/ekonomi sektor sumberdaya alam. “Untuk itu kita minta Dinas Perkebunan Aceh menghentikan sementara waktu kegiatan peremajaan sawit sampai adanya penjelasan lebih rinci terkait kawasan yang boleh digunakan untuk replanting hingga tidak lagi mengganggu habitat gajah dan spesies kunci lainnya di Aceh,” terang Muhammad Nur.

Disisi lain, pihaknya juga meminta BKSDA Aceh untuk mengusut tuntas kasus matinya anak gajah yang terjerat di lokasi peremajaan sawit. Terjeratnya satu individu anak gajah hingga akhirnya mati tidak bisa dibiarkan begitu saja, sebab jeratan gajah ini hampir setiap tahun ditemukan, akan tetapi tidak memberikan efek jera kepada pelaku yang tertangkap,” timpa Muhammad Nur.

Selain itu, pihaknya juga meminta Kementerian LHK RI untuk mengevaluasi capaian program TFCA terkait dengan perlindungan gajah sumatera. Ketika melihat angka kematian gajah meningkat setiap tahun menunjukan bahwa BKSDA tidak serius memberikan perlindungan terhadap Gajah Sumatera hampir punah,” demikian Muhammad Nur.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, satu individu anak gajah usia dua tahun mati setelah ditemukan dalam kondisi kritis di Aceh Jaya, Minggu (14/11). Meskipun sempat dirawat setelah dievakuasi ke PLG Saree, Aceh Besar, namun kurang dari 2X24 anak gajah mati. (b11)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *