Waspada
Waspada » Hendak Larikan Pengungsi Rohingya, Tiga Tersangka Trafficking Diringkus TNI/Polri
Aceh Sumut

Hendak Larikan Pengungsi Rohingya, Tiga Tersangka Trafficking Diringkus TNI/Polri

Lhokseumawe (Waspada): Karena ketahuan hendak membawa kabur pengungsi Rohingya di tempat penampungan Kantor BLK Meunasah Mee Kandang Kec. Muara Satu Kota Lhokseumawe, akhirnya tiga tersangka human trafficking berhasil diringkus Polres Lhokseumawe bersama Kodim 0103/Acut.

Masing-masingnya DA, 25 merupakan warga Kota Medan, ZK, 20 warga Rohingya yang menetap di Hotel Pelangi Kota Medan dan BS, 45 warga Tangerang.

Hal itu, diungkapkan Kapolres Lhokseumawe AKBP Eko Hartanto dan Kasat Reskrim Iptu Yoga Prasetya, Minggu (22/11), dalam konfrensi pers yang digelar di Gedung Serba Guna Mapolres setempat.

Dikatakannya Sebelumnya TNI/Polri berhasil meringkus sejumlah warga pendatang, dan setelah melalui proses pemeriksaan maka ditetapkanlah sebanyak tiga tersangka yang terlibat kasus perdagangan manusia.

Ketiga tersangka memiliki modus operandi yang berbeda-beda namun tetap memiliki tujuan yang sama yakni membawa kabur para pengungsi Rohingya sesuai pesanan orang luar negeri.

“Berkat kesigapan dan kerjasama antara Polres Lhokseumawe dengan TNI kita berhasil mengamankan sejumlah orang. Lalu dalam proses pemeriksaan menetapkan tiga diantara sebagai tersangka perdagangan manusia,”paparnya.

Dirincikan, DA, 25 merupakan warga Kel.kota Matsum IV Kec. Medan Area Kota Medan dalam pemeriksaan keterangannya kepada polisi mengaku dirinya mendapat pesanan dari tantenya yang berada di Negara Malaysia untuk membawa kabur dua orang pengungsi Rohingya di Kota Lhokseumawe.

Bila berhasil membawa orang yang ditarget ke luar daerah Aceh, maka DA diberikan upah sebesar Rp 1 juta perjiwa, maka dengan harapan mendapatkan uang total Rp2 juta.

Selanjutnya ZK, 20 merupakan warga Rohingya yang menetap di Hotel Pelangi Kota Medan kepada polisi mengaku mendapat suruhan dari orang di Negara Malaysia untuk membawa kabur pengungsi Rohingya di Kota Lhokseumawe. Bila berhasil maka ZK akan mendapatkan upah senilai Rp2 juta perjiwa.

Kemudian, BS, 45 merupakan warga Tangerang yang diduga memiliki jaringan sindikat perdagangan manusia mendapat perintah dari MA yang kini menjadi DPO, untuk membawa kabur pengungsi Rohingya di Kota Lhokseumawe.

Bila berhasil maka BS akan mendapatkan upah yang lebih besar yakni Rp6 juta perjiwa.
Kapolres menyebutkan ketiga tersangka itu merencanakan strategi untuk kabur bersama para korban warga Rohingya dengan cara berbeda-beda dan masing-masing.

Sehingga dalam pemeriksaan barang bukti berupa Hand Phone para tersangka, maka ditemukan jejak percakapan dengan sebanyak 18 warga Rohingya yang menjadi target akan dibawa kabur. Namun berkat kesiagaan petugas TNI/Polri 18 warga Rohingya itu berhasil diselamatkan dari cengkraman para pelaku bisnis haram Traffiking Human.

Kapolres mengaku pihaknya masih terus menelusuri sejauh mana sudah aksi yang pernah dilakukan ketiga tersangka. Meski ketiga sama-sama ingin memboyong warga Rohingya ke Negara Malaysia, Namun belum mengetahui apakah mereka berada dalam satu sindikat atau justru berbeda.

Kapolres menilai, bila melihat dari modus operandi ketiga tersangka berbeda-beda, maka kemungkinan mereka memiliki jaringan berbeda-beda atau dikatagorilan lebih dari satu sindikat perdagangan manusia.

Atas perbuatannya itu, ketiga tersangka dikenakan pasal 120 ayat satu dan ayat dua UU.RI no.6 tahun 2011 tentang keimigrasian subs pasal 10 UU RI no. 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan manusia dengan ancaman hukuman pidana penjara paling lama 15 tahun dan paling singkat lima tahun atau tiga tahun. (b09)

Teks dan foto
Waspada/Zainuddin Abdullah

Kapolres Lhokseumawe AKBP Eko Hartanto berdialog dengan tiga tersangka kasus perdagangan manusia, Minggu (22/11) yang ditangkap hendak bawa kabur pengungsi Rohingya.

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2