Waspada
Waspada » Harga Daging Turun Rp100.000 Per Kilogram
Aceh

Harga Daging Turun Rp100.000 Per Kilogram

Pedagang memasarkan daging sapi kampung (sapi Aceh--red) di pasar daging musiman saat perayaan tradisi meugang Ramadhan 1442 hijriyah di Idi Cut, Kec. Darul Aman, Aceh Timur, Senin (12/4). Waspada/M. Ishak

 

IDI (Waspada): Harga daging selama perayaan tradisi meugang di Aceh bervariasi, mulai dari Rp150 ribu, Rp170 ribu hingga Rp200 per kilogram, 11-12 April. Pasca perayaan tradisi meugang, harga daging turun ke angka Rp100 ribu per kilogram.

“Meugang pertama harga daging Rp150 ribu per kilogram. Menjelang siang sudah mulai dijual Rp160 ribu-Rp170 ribu per kilogram. Meugang kedua juga demikian, tapi siang sampai sore harga daging tembus Rp200 ribu per kilogram,” kata Mustafa, warga Idi Cut, Aceh Timur, Selasa (13/4).

Kondisi tersebut kabarnya merata di Kabupaten Aceh Timur, mulai dari Simpang Ulim, Julok, Idi Cut, Idi Rayeuk dan Peureulak.

“Tingginya harga daging sejak siang hari meugang kedua akibat stok daging yang mulai menipis dan permintaan daging masih tinggi,” ujar Mustafa.

Beberapa pedagang daging musiman bahkan harus memotong beberapa ekor sapi untuk menutupi kebutuhan daging.

“Ketika stok menipis, permintaan tinggi, maka otomatis harga meningkat. Ini sudah menjadi ‘hukum pasar’ saat perayaan tradisi meugang di Aceh, baik meugang Ramadhan, Idi Fitri dan Idul Adha,” tambah A. Rahman, pedagang daging di Idi Cut.

Daging yang dipasarkan di Aceh, rata-rata daging dari sapi kampung atau sapi Aceh. Pasalnya, masyarakat Aceh kurang selera dengan daging impor, karena rasa kurang manis.

“Lumo droe teuh, seubab rasa sie jih mameh—Lembu kita, sebab rasa dagingnya manis,” kata Nuriman, salah seorang IRT asal Idi.

Turun Harga

Pasca perayaan tradisi meugang, harga daging di Aceh turun ke angka Rp100 ribu per kilogram setelah terjadi tawar-menawar antara pedagang dengan pelanggan.

“Harga daging dijual Rp120 ribu per kilogram. Tapi jika kita tawar paling Rp100 ribu per kilogram,” sebut Sulaiman, pembeli daging asal Peudawa.

Dia mengaku sengaja tidak terlalu banyak membeli daging pada hari pertama dan kedua perayaan tradisi meugang, karena harga daging dipastikan mahal.

“Jika kita beli daging hari ini harganya bisa lebih murah, jadi saat murah beli terus yang banyak, bisa dijadikan stok selama Ramadan, karena keluarga kami memang suka makan daging,” ujar Sulaiman. (b11).

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2