Waspada
Waspada » Hardiknas Di Lhokseumawe Diwarnai Demo Mahasiswa
Aceh Pendidikan

Hardiknas Di Lhokseumawe Diwarnai Demo Mahasiswa

Kadis Pendidikan Kota Lhokseumawe Ibrahim menyambut baik aksi damai puluhan mahasiswa SMUR Aceh di Kantor Disdik setempat, Senin (3/5). Waspada/Zainuddin Abdullah
Kadis Pendidikan Kota Lhokseumawe Ibrahim menyambut baik aksi damai puluhan mahasiswa SMUR Aceh di Kantor Disdik setempat, Senin (3/5). Waspada/Zainuddin Abdullah

 

LHOKSEUMAWE (Waspada) : Mengisi momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei, puluhan mahasiswa barisan Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat ( SMUR) Aceh berdelegasi ke Kantor Dinas Pendidikan Kota Lhokseumawe guna menuntut pengangkatan guru honorer yang sudah lama berbakti.

Puluhan mahasiswa SMUR Aceh itu mulai menggeruduk Kantor Dinas Pendidikan Kota Lhokseumawe sekira pukul 15:30 WIB, Senin (3/5), dan langsung memenuhi halaman depan Kantor Dinas Pendidikan setempat.

Seiring dengan itu, pasukan Polres Lhokseumawe juga telah tiba ditempat guna mengamankan situasi dan kondisi demo agar berjalan lancar tanpa menimbulkan kerusuhan.

Meski dilingkari pasukan pagar betis polisi, namun para mahasiswa tetap bersuara lantang menyampaikan yel-yel dan orasinya tentang dunia pendidikan Kota Lhokseumawe.

Kedatangan para mahasiswa itu justru disambut hangat oleh Kadis Pendidikan Kota Lhokseumawe Ibrahim dan Sekretarisnya Ikhwan yang mendengar dengan seksama orasi yang disampaikan mahasiswa.
Ketua SMUR Aceh dan koordinator aksi Nanda Risky mengatakan pihaknya mengajukan tiga tuntutan yang dirasa penting untuk mewarnai moment Hardiknas. Antara lain Dinas Pendidikan kota Lhokseumawe harus mempublikasikan Rencana strategis (Renstra) terkait Pendidikan di kota Lhokseumawe.

Berikutnya, menuntut kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Lhokseumawe Ibrahim dan Wali Kota Lhokseumawe Suadi Yahya agar merekomendasikan guru honorer yang sudah lama mengabdi di lingkup kota Lhokseumawe supaya segera diangkat menjadi PNS.

Terakhir, terkait hal itu mahasiswa juga memberikan estimasi waktu selama 1- minggu kerja, dan dibuktikan melalui pemberitaan di media cetak, elektronik dan online.

Dijelaskannya, momentum Hardiknas selalu dirayakan oleh seluruh rakyat Indonesia, namun dengan melihat situasi dan kondisi pendidikan di Aceh malah masih sangat jauh dengan kata layak.

Sehingga pendidikan masih menjadi barang langka di kalangan masyarakat miskin dan pendidikan menjadi mahal dan tak terjangkau bagi kalangan bawah.

Hal itu terjadi karena konsekuensi atas penerapan neoliberalisme, IMF (International Monetary Fund) dan World Bank telah meluncurkan paket kebijakan menyokong pendidikan di negara-negara berkembang.

Indonesia sendiri termasuk yang mengalami penyesuaian tersebut, Indonesia sebagai anggota World Trade Organization (WTO) terpaksa menandatangani General Agreement on Trade Service (GATS) yang mengatur liberalisasi perdagangan di 12 sektor jasa dan salah satunya ialah sektor pendidikan.

Kemudian untuk Aceh sendiri terhadap sektor pendidikannya mendapatkan alokasi dana dari Otsus sebesar 20%, angka tersebut bukanlah sedikit melainkan sangat besar untuk menunjang proses pendidikan lebih baik.

Hal itu mengacu kepada UU Non14 tahun 2008 terkait keterbukaan informasi publik,dan dengan melihat realita di dinas pendidikan kota Lhokseumawe sampai sekarang tidak mempublikasikan rencana strategis (Renstra), untuk mengukur dan menjadi penunjang pendidikan dapat dipergunakan dengan selayaknya.

Pada kesempatan itu, Kadis Pendidikan Kota Lhokseumawe Ibrahim mengatakan pihaknya merespon dengan baik kegiatan mahasiswa SMUR Aceh yang bersifat positif dan membangun dunia pendidikan.

Namun terkait pengangkatan guru honorer menjadi PNS tentu bukan kewenangannya di Dinas Pendidikan, karena semua itu harus melalui regulasi dan sistem yang berlaku.

Namun pihak Disdik Lhokseumawe bersedia menandatangani kesepakatan tuntutan yang diajukan mahasiswa SMUR Aceh.

Ibrahim juga meminta semua pihak terutama mahasiswa dapat memberìkan saran, masukan yang bersifat membangun dunia pendidikan Kota Lhokseumawe.

Aksi itu pun berakhir dengan damai dan suasana pejabat Disdik setempat pun mencair bersama mahasiswa yang membubarkan aksinya dengan tertib dan aman. (b09)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2