HAkA: Stop Perburuan Satwa Dilindungi

HAkA: Stop Perburuan Satwa Dilindungi

- Aceh
  • Bagikan
SIDANG PERKARA SATWA: Lima terdakwa dihadirkan dalam sidang perdana perkara pembunuhan satwa di PN Idi, Aceh Timur, Kamis (21/10). Waspada/M. Ishak
SIDANG PERKARA SATWA: Lima terdakwa dihadirkan dalam sidang perdana perkara pembunuhan satwa di PN Idi, Aceh Timur, Kamis (21/10). Waspada/M. Ishak

IDI (Waspada): Pegiat lingkungan dari berbagai lembaga konservasi berharap agar menghentikan perburuan satwa dilindungi, seperti gajah, harimau dan lainnya. Sebab, perburuan satwa secara terus menerus akan mengancam keseimbangan alam dan terjadinya konflik satwa.

“Kita harap tidak ada lagi perburuan satwa, sehingga setiap kasus kejahatan lingkungan kita harap tuntas sampai di meja hijau dan vonisnya nanti mampu memberikan efek jera terhadap pelaku,” kata pegiat lingkungan dari Yayasan Hutan, Alam dan lingkungan Aceh (HAkA) Nurul Ikhsan, kepada Waspada.id, Jumat (22/10).

Dia mengaku pembunuhan gajah sumatera sebagaimana yang terjadi baru-baru ini di Kabupaten Aceh Timur, sehingga menjadi perhatian dunia konservasi. “Kita juga berharap dinas terkait melakukan pencegahan-pencegahan preventif, sehingga keseimbangan alam tidak lagi terganggu,” timpa Nurul Ikhsan.

Tugas dan tanggung jawabnya tersebut tidak sebatas di pihak dinas dan lembaga-lembaga konservasi, tapi kewajiban mutlak semua pihak dan elemen sipil dalam menjaga dan melestarikan alam dan habitat di dalamnya.

“Kita harus bersyukur, daerah ini (Aceh Timur—red) bersyukur, sebab memiliki empat satwa kunci yaitu gajah sumatera, harimau sumatera, orangutan dan badak sumatera,” kata pegiat HAkA ini.

Dirinya mengaku, dia bersama dengan sejumlah pegiat lingkungan lain terus mengawal proses hukum perkara pembunuhan gajah sumatera yang kini masih dalam tahap persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Idi. “Kita akan kawal kasus pembunuhan gajah ini sampai vonis,” demikian Nurul Ikhsan.

Sebagaimana diketahui, seekor gajah jantan usia 8-10 tahun ditemukan mati dengan kepala terpenggal di HGU Bumi Flora, Desa Jambo Reuhat, Banda Alam, Aceh Timur, Sabtu (10/7) lalu.

Berdasarkan hasil nekropsi, gajah jantan itu mati setelah memakan dua bungkusan racun. Polisi lalu melakukan penyelidikan dan berhasil menangkap lima tersangka, baik pembunuh gajah, pembeli gading gajah dan pedagang aksesoris. (b11)

  • Bagikan