Galian C Diduga Ilegal Tak Kunjung Ditertibkan

Galian C Diduga Ilegal Tak Kunjung Ditertibkan

  • Bagikan
SALAH satu alat berat milik galian C diduga ilegal masih beroperasi di bantaran Krueng (sungai) Baru, kawasan Desa Suak Lokan, Kecamatan Labuhan Haji Barat, Aceh Selatan, Senin (28/12). Galian C Diduga Ilegal Tak Kunjung Ditertibkan. Waspada/Syafrizal
SALAH satu alat berat milik galian C diduga ilegal masih beroperasi di bantaran Krueng (sungai) Baru, kawasan Desa Suak Lokan, Kecamatan Labuhan Haji Barat, Aceh Selatan, Senin (28/12). Galian C Diduga Ilegal Tak Kunjung Ditertibkan. Waspada/Syafrizal

BLANGPIDIE (Waspada): Meskipun dikecam berbagai kalangan, hingga Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh menyuarakan keresahan terkait pengerukan material galian C yang diduga ilegal di bantaran Krueng Baru, perbatasan wilayah Aceh Barat Daya (Abdya) dengan Kabupaten Aceh Selatan, karena berdampak pada lingkungan pemukiman penduduk di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Baru, namun operasional galian C diduga ilegal di bantaran sungai yang dikenal ganas itu, tak kunjung ditertibkan pihak berwenang.

Pantauan Waspada.id, Senin (28/12), pengerukan pasir material galian C diduga ilegal, tetap dilakukan sejumlah alat berat jenis eksavator (beko), di sejumlah titik bantaran Krueng (sungai) Baru, lintasan lima desa dalam dua wilayah kabupaten. Masing-masing, Desa Geulanggang Batee, Desa Kuta Paya dan Desa Ujung Tanah, Kecamatan Lembah Sabil, Abdya. Serta, Desa Suak Lokan dan Desa Pulo Ie, Kecamatan Labuhan Haji Barat, Kabupaten Aceh Selatan.

Sebagaimana yang terlihat di lokasi tanggul batu gajah pengaman tebing sungai kawasan Desa Suak Lokan, Kecamatan Labuhan Haji Barat, Aceh Selatan. Di mana, satu unit eksavator beroperasi mengeruk pasir di bantaran sungai, kemudian dimuat ke dalam puluhan truk jenis Hercules yang mengantri untuk kepentingan material proyek di sejumlah daerah.

                                             

Akibatnya, pengikisan tebing sungai kian meresahkan. Di mana, sisa-sisa galian kian mempersempit pantai dan menciptakan arus sungai kian berbelok dan mengganas. Sebelumnya, belokan arus ganas, juga telah memporakporandakan puluhan hektar areal perkebunan produktif milik penduduk, di sepanjang DAS.

Kapolres Aceh Selatan AKBP Ardanto Nugroho, melalui Kasat Reskrim Iptu Bima Nugraha Putra STK, dimintai tanggapannya melalui saluran WhatsApp mengatakan, pihaknya sudah menurunkan tim untuk cek lokasi galian C yang diduga ilegal dimaksud.

Menurutnya, berdasarkan penelusuran yang dilakukan anggotanya, galian C yang diduga ilegal itu, beroperasi masuk ke dalam wilayah hukum Abdya. Sementara yang beroperasi di wilayah hukum Aceh Selatan katanya, sudah mengantongi izin. Bahkan, pihaknya juga sudah memegang izin dari galian C dimaksud. “Ke depan, kami juga akan awasi kembali proses kerja mereka,” katanya.

Sayangnya, Kasat Reskrim Bima tidak bisa menjelaskan bentuk izin dikantongi galian C, yang beroperasi di wilayah hukum Aceh Selatan dimaksud. Apa berupa izin prinsip yang dikeluarkan Pemkab Aceh Selatan, ataupun Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produktif Komoditas Batuan Sirtu, yang dikeluarkan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Satu Pintu, Pemprov Aceh.

Sementara itu, Kapolres Abdya AKBP Muhammad Nasution SIK, melalui Kasat Reskrim AKP Erjan Dasmi terpisah membantah alat berat galian C diduga ilegal yang beroperasi di bantaran Krueng Baru itu, masuk wilayah hukum Abdya. Akan tetapi katanya, alat berat yang beroperasi itu masuk wilayah hukum Aceh Selatan.

“Itu wilayah hukum Aceh Selatan. Kita tidak bisa masuk ke sana untuk menertibkan karena beda wilayah hukum. Kita sangat tau yang mana wilayah kita dan yang mana wilayah orang lain. Jadi, jangan lempar tanggung jawab ke kita dong,” ungkapnya.

Ditambahkah Kasat Reskrim Erjan, pihaknya bersama anggota rutin melakukan patroli operasional galian C. Bahkan katanya, Minggu (27/12) lalu, pihaknya bersama belasan anggota Reskrim Polres Abdya, melakukan patroli dari muara Krueng Baru Desa Ujung Tanah, hingga ke hulu kawasan Dusun Alue Trieng Gadeng, Kecamatan Lembah Sabil.

Dalam operasi itu lanjutnya, tidak ditemukan satupun galian C diduga ilegal. Yang ada beroperasi katanya, hanya satu galian C yang sudah mengantongi izin resmi dan beroperasi di kawasan muara Krueng Baru, Desa Ujung Tanah, Kecamatan Lembah Sabil.

Galian C yang sudah mengantongi izin tersebut, atas nama CV Karya Tangan Lembah, komoditas batuan (kerikil berpasir alami/sirtu), luas quarry 1 hektar, kode wilayah 2111125402019336, tahap operasi produksi, lokasi Desa Ujung Tanah, Kecamatan Lembah Sabil, Abdya. Di mana, izin dimaksud berdasarkan Keputusan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Pemerintah Aceh nomor: 540/DPMPTSP/2775/IUP-OP/2020 tanggal 22 September 2020, tentang pemberian Izin Usaha Pertambangan (IUP) operasi produksi komoditas batuan (kerikil berpasir alami/sirtu). Ditanda tangani oleh Kepala Dinas Dr Aulia Sofyan. “Selain perusahaan ini, tidak ada yang kita ketahui mengantongi izin,” demikian Kasat Reskrim Erjan Dasmi.(b21)

 

  • Bagikan