Waspada
Waspada » Fakultas Pertanian Unsam Latih Kelompok Tani Garam Rakyat
Aceh Pendidikan

Fakultas Pertanian Unsam Latih Kelompok Tani Garam Rakyat

Tim Fakultas Pertanian Unsam (Universitas Samudra) saat melakukan pelatihan produksi bersih dan manajemen usaha kepada Kelompok Usaha Garam Rakyat Putik Meulu, di Desa Kuala Idi Cut Kabupaten Aceh Timur, Rabu (5/8). Waspada/dede
Tim Fakultas Pertanian Unsam (Universitas Samudra) saat melakukan pelatihan produksi bersih dan manajemen usaha kepada Kelompok Usaha Garam Rakyat Putik Meulu, di Desa Kuala Idi Cut Kabupaten Aceh Timur, Rabu (5/8). Waspada/dede

LANGSA (Waspada): Fakultas Pertanian Unsam (Universitas Samudra) melakukan pelatihan produksi bersih dan manajemen usaha kepada Kelompok Usaha Garam Rakyat Putik Meulu, di Desa Kuala Idi Cut Kabupaten Aceh Timur.

Ketua Tim Fakultas Pertanian Unsam, Dr. Iswahyudi, SP, MSi didampingi anggota Muslimah, S.Si, MSi dan Abdurrachman, SP, M.MA, Jumat (7/8) mengatakan, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini didanai melalui DIPA Program Dana Hibah Pengabdian Kepada Masyarakat di lingkungan Universitas Samudra tahun 2020.

Tim Fakultas Pertanian Unsam (Universitas Samudra) saat melakukan pelatihan produksi bersih dan manajemen usaha kepada Kelompok Usaha Garam Rakyat Putik Meulu, di Desa Kuala Idi Cut Kabupaten Aceh Timur, Rabu (5/8). Waspada/dede
Tim Fakultas Pertanian Unsam (Universitas Samudra) saat melakukan pelatihan produksi bersih dan manajemen usaha kepada Kelompok Usaha Garam Rakyat Putik Meulu, di Desa Kuala Idi Cut Kabupaten Aceh Timur, Rabu (5/8). Waspada/dede

Dikatakan, ada dua permasalahan yang ditemukan di lokasi pengabdian, yaitu produksi yang mencakup teknologi, peralatan produksi dan gudang tempat penyimpanan (belum memenuhi standar Good Manufacturing Practices).

Kemudian, sambungnya, permasalahan manajemen usaha yang mencakup manajemen pembukuan, manajemen pemasaran dan manajemen keuangan.

Masih Tradisional

Apalagi, peralatan produksi yang digunakan mitra selama ini terbilang sangat sederhana. Seperti, bajak kayu (untuk membolak-balikkan tanah pada lahan garam), inong terbuat dari endapan tanah salin (untuk menghasilkan air tua yang nilai salinitasnya tinggi), tong plastik (tempat menyimpan air tua), drum bekas minyak goreng (untuk merebus air bahan baku garam), kotak kayu yang dilapisi seng (tempat penyimpanan garam) dan peralatan sederhana pendukung lainnya.

“Usaha garam mitra masih dijalankan secara tradisional, sehingga belum ada standarisasi dalam proses produksi. Untuk kontrol proses produksipun, dilakukan berdasarkan pengalaman, misalnya untuk mengetahui bahwa air tua salinitasnya sudah tinggi dan bisa digunakan untuk direbus sebagai bahan baku garam dilihat menggunakan telur yang direndam ke dalam genangan air tua,” urainya.

Kemudian, apabila telurnya mengambang, maka air tersebut sudah dapat direbus, sebaliknya apabila telurnya tenggelam maka airnya belum dapat direbus untuk menjadi garam.

Tim Fakultas Pertanian Unsam (Universitas Samudra) saat melakukan pelatihan produksi bersih dan manajemen usaha kepada Kelompok Usaha Garam Rakyat Putik Meulu, di Desa Kuala Idi Cut Kabupaten Aceh Timur, Rabu (5/8). Waspada/dede
Tim Fakultas Pertanian Unsam (Universitas Samudra) saat melakukan pelatihan produksi bersih dan manajemen usaha kepada Kelompok Usaha Garam Rakyat Putik Meulu, di Desa Kuala Idi Cut Kabupaten Aceh Timur, Rabu (5/8). Waspada/dede

Kemasan Garam

Selain itu garam yang dihasilkan mitra belum memiliki kemasan yang menarik dan merk. Garam yang dijual hanya dimasukkan ke dalam karung beras berukuran 15 kg.

“Apabila ada orang yang membeli maka akan dikemas menggunakan kantong kresek berwarna hitam. Konsumen yang menggunakan produk garam ini kebanyakan dari masyarakat yang mempunyai usaha pembuatan Asam Thoe (belimbing sayur yang dikeringkan dan dicampur garam sebagai pengawet).

Mereka hanya menggunakan garam produksi mitra untuk usahanya, karena apabila mereka menggunakan garam meja produksi perusahaan besar maka kualitas Asam Thoe yang dihasilkan sangat jelek (warna menjadi hitam dan kadar airnya tinggi).

Adapun target luaran dari kegiatan pengabdian ini adalah tersedianya peralatan produksi garam yang sesuai GMP, tersedianya sumberdaya manusia yang mampu memproduksi garam sesuai GMP dan meningkatnya produksi garam.

Terbuka Hubungan Dengan Pemkab

Dalam kegiatan pengabdian ini juga dihadirkan pemateri dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kabupaten Aceh Timur, Nazarina, SE, MM yang menyampaikan materi pelatihan tentang pentingnya aspek produksi, manajemen dan pemasaran untuk mendukung pengembangan usaha kecil menengah yang dilakukan oleh masyarakat.

Hasil dari kegiatan pengabdian ini adalah terbukanya hubungan antara kelompok tani garam rakyat Putik Meulu dengan pihak pemerintah dalam hal ini Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kabupaten Aceh Timur.

Produk Unggulan

Kelompok tani ini mendapatkan akses informasi tentang produksi, manajemen dan pemasaran dan juga telah dibuat komitmen bersama untuk melakukan pendampingan kepada kelompok tani garam rakyat Putik Meulu agar garam yang dihasilkan lebih berkualitas, higienis, bebas dari najis, mempunyai legalitas dan dapat bersaing dipasaran dengan kompetitor yang lain.

“Selain itu produk garam rakyat di Desa Kuala Idi Cut ini dapat menjadi salah satu unggulan daerah Kabupaten Aceh Timur pada masa yang akan datang,” tandasnya.(b13)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2