DPRA: Pengingkaran MoU Berarti Merusak Damai Aceh

- Aceh
  • Bagikan
PIDATO: Anggota DPR Aceh, Iskandar Usman Al Farlaky, ketika berpidato pada Milad GAM Ke-45 di Lapangan Blang Bitra, Peureulak, Aceh Timur, Rabu (4/12). Waspada/M. Ishak
PIDATO: Anggota DPR Aceh, Iskandar Usman Al Farlaky, ketika berpidato pada Milad GAM Ke-45 di Lapangan Blang Bitra, Peureulak, Aceh Timur, Rabu (4/12). Waspada/M. Ishak

PEUREULAK (Waspada): Anggota DPR Aceh, Iskandar Usman Al-Farlaky, mengatakan, tidak semua butir-butir MoU tertuang dalam UUPA. Di sisi lain juga banyak butir-butir MoU yang diturunkan dalam UUPA tidak aplikatif, karena otoritas kekuasaan sering kali abai terhadap UUPA.

“Butir-butir MoU Helsinki tidak semua tertuang dalam UUPA, bahkan pasal demi pasal dalam UUPA juga belum dilaksanakan secara utuh. Konon lagi sekarang DPR-RI dalam prolegnas-nya sudah mengusulkan perubahan,” kata Anggota DPR Aceh, Iskandar Usman Al Farlaky, S.HI, Rabu (8/12) di Idi.

Dia mengajak mantan kombatan untuk kembali merapatkan barisan, karena damai Aceh tidak cukup sebatas mengawal, melainkan wajib dilibatkan dalam perubahan UUPA ini. “Ini tujuannya agar perubahan yang dilakukan nantinya harus dalam bingkai MoU dan tidak menghilangkan makna substansialnya,” terang Al Farlaky, sapaan Iskandar Usman.

Dia menambahkan, pengingkaran terhadap MoU merupakan upaya merusak perdamaian Aceh. “Jadi, keberadaan kita adalah untuk melibatkan diri dalam urusan ini, kita harus dilawan,” kata legislatif yang dikenal vokal berbicara soal kekhususan Aceh ini.

Hal tersebut sempat diutarakan di depan mantan gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) saat Milad GAM Ke-45 yang diselenggarakan Komite Peralihan Aceh (KPA) Daerah I Peureulak di Gampong Blang Bitra, Peureulak, Aceh Timur, Sabtu (4/12) lalu.

Di depan ratusan mantan GAM saat itu, Al Farlaky sempat mengajak seluruh tamu dan undangan yang hadir untuk mengenang jasa para syuhada yang telah berkorban selama konflik di Aceh, terutama di wilayah Peureulak. “Mari kita sama-sama mengenang saudara kita para syuhada yang telah berkorban untuk Aceh,” demikian mantan aktivis mahasiswa ini. (b11)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *