DPR-RI Sepakat Mabes Polri Turun Selidiki Dugaan Keracunan Warga

  • Bagikan
PENGUNGSI: Warga yang sebelumnya mengungsi akibat kekhawatirannya terhadap bau busuk yang diduga berasal kebocoran gas medco, kembali ke rumahnya ke Desa Panton Rayeuk T, Banda Alam, Aceh Timur, Selasa (29/6) sore. Waspada/Ist.
PENGUNGSI: Warga yang sebelumnya mengungsi akibat kekhawatirannya terhadap bau busuk yang diduga berasal kebocoran gas medco, kembali ke rumahnya ke Desa Panton Rayeuk T, Banda Alam, Aceh Timur, Selasa (29/6) sore. Waspada/Ist.

 

IDI (Waspada): DPR-RI sepakat Timsus Mabes Polri turun ke Aceh Timur, untuk melakukan penyelidikan dugaan keracunan warga yang diperkirakan berasal dari kegiatan operasional PT Medco EP Malaka di Blok A.

“Kita sepakat dengan permintaan lembaga YARA agar Mabes Polri membentuk tim melakukan penyelidikan dugaan keracunan warga di Blok A, sehingga hal serupa tidak terulang,” kata Anggota DPR-RI, H M Nasir Djamil, M.Si, kepada Waspada.id, Rabu (30/6).

Dalam hal penyelidikan, timsus nantinya tentu akan melibatkan beberapa dinas dan pihak terkait, seperti Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK), dan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, serta Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA).

“Kita prihatin dengan kondisi yang dialami masyarakat di sekitar lokasi operasional Medco di Aceh Timur, baik di Indra Makmu, maupun di Banda Alam. Kejadian yang berulang-ulang ini perlu diselidiki, sehingga hal serupa tidak terulang,” jelas Nasir.

Politisi PKS ini mengaku sangat sepakat dengan investasi di Aceh, khususnya investasi migas di Aceh Timur. Tetapi kenyamanan dan keamanan warga lingkar tambang perlu dijaga, sehingga aktivitas masyarakat tidak terganggu.

“Kita tidak mengetahui kenapa muncul bau busuk, baik yang terjadi di Indra Makmu, bulan Mei 2019. Lalu, bau busuk akibat aktivitas flaring Sumur AS-11 juga tercium hingga menumbangkan belasan warga Banda Alam, 9 April lalu. Kini, tiga hari yang lalu kembali terjadi hal yang sama hingga mengakibatkan sejumlah warga juga tumbang dan terpaksa dirawat,” jelas Nasir.

Oleh karenanya, dia sepakat dengan gagasan YARA meminta Mabes Polri untuk turun menyelidiki. “Ini aneh, kenapa bisa terjadi keracunan secara berulang, apakah human error atau ada sistem yang tidak berjalan. Kita harap persoalan ini tuntas dan tidak terulang,” demikian Nasir Djamil.

Pengungsi Kembali

Sementara itu, ratusan warga Desa Panton Rayeuk, yang mengungsi di tenda penampungan sementara di halaman Kantor Kecamatan Banda Alam, sejak Minggu, 27 Juni 2021, kini telah kembali ke rumah masing-masing.

Warga kembali pulang setelah Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Aceh Timur dan pihak aparat kepolisian melakukan monitoring terhadap kualitas udara di beberapa titik yang sebelumnya diduga tercium bau gas.

“Hasil survei tidak ditemukan adanya gas yang menyebabkan timbulnya bau. Satu dari dua warga yang dirawat juga sudah kembali ke rumah, sehingga tidak ada warga yang dirawat di rumah sakit,” kata VP Relations & Security Medco E&P Arif Rinaldi, dalam siaran persnya.

Survei tersebut dilakukan oleh kedua instansi pemerintah tersebut, Selasa (29/6). Kedua instansi melakukan survei di beberapa titik, terutama lokasi yang dikabarkan warga terdapat bau, Minggu (27/6) malam. “Di lokasi ini tidak ditemukan adanya gas yang menimbulkan bau,” kata Arif Rinaldi.

Perusahaan berterima kasih atas dukungan Pemerintah Provinsi Aceh, Pemerintah Kabupaten Aceh Timur, BPMA, DLH, TNI/Polri, dan semua pihak terkait. “Sehingga penanganan kejadian ini dapat berjalan dengan aman dan cepat,” demikian Arif Rinaldi. (b11).

 

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.