Waspada
Waspada » Direktur RSUD TCD Pidie Dinilai Otoriter
Aceh Headlines

Direktur RSUD TCD Pidie Dinilai Otoriter

Praktisi hukum Muharamsyah, SH.MH saat ditemui Waspada di salah satu coffee di Sigli, Selasa (14/7). Direktur RSUD TCD Pidie dinilai otoriter. Waspada/Muhammad Riza
Praktisi hukum Muharamsyah, SH.MH saat ditemui Waspada di salah satu coffee di Sigli, Selasa (14/7). Direktur RSUD TCD Pidie dinilai otoriter. Waspada/Muhammad Riza

SIGLI (Waspada): Penerapan sistem logbook di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tgk Chik Ditiro, Sigli, Kabupaten Pidie menunjukkan bahwa Direktur RSUD TCD Pidie dinilai otoriter karena bentuk pemaksaan kehendak, dari sikap pemimpin.

“Peraturan Direktur (Perdir), ini mengatur hal-hal teknis. Hal-hal teknis, inikan dibahas secara bersama-sama. Artinya, bukan direktur secara ujuk-ujuk langsung membuat Perdir, langsung disahkan, dan kemudian langsung dijalankan. Ini namanya otoriter,” kata praktisi hukum Muharamsyah, SH, MH, saat ditemui Waspada, Selasa (14/7).

Pernyataan ini disampaikan Muharamsyah, menanggapi kisruh penerapan sistem logbook di RSUD TCD Sigli, Kabupaten Pidie.

Dia menilai penerapan Logbook, ini sangat bagus karena banyak diterapkan dan digunakan oleh Badan Layanan Umum (BLU), bukan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

Khusus untuk BLUD, RSUD Tgk Chik Ditiro Logbook, ini merupakan sistem baru, di mana sebelumnya rumah sakit kebanggaan masyarakat Pidie tersebut menggunakan sistem visite dan konsultasi.

Selanjutnya sebut Muharamsyah, pada saat penerapan keputusan Bupati Pidie 2015, tentang remunerasi, itu diatur secara terperinci dalam surat keputusan (SK) bupati tersebut.

Lalu 2020 bupati mengeluarkan peraturan bupati tentang remunerasi. Hanya saja dalam Perbup 2020 tersebut diatur secara umum. Selanjutnya Perbup itu memberi amanah pada Pasal peralihan, menyebutkan bahwa hal-hal teknis itu bisa diatur dengan Peraturan Direktur (Perdir).

Perdir tentang remuneriasi, itu jelas Muharamsyah sudah ada dan lahir pada tahun 2019. “Makanya direktur pada saat membayar Jasmed bulan November, Desember 2019, itu menggunakan Perdir 2019 yang didalamnya mengatur tentang Logbook,” uangkap Muharamsyah,

Seraya berujar pada sisi lain, Perdir tersebut juga tidak merujuk pada Perbup 2020. “Masak Perbup 2020, Perdir-nya 2019″. Artinya lanjut Muharamsyah. Peraturan (Perdir) 2019 tentang Remunerasi yang merupakan amanah dari Perbup 2020, dan itu telah mendahului Perbup 2020. “Seharusnya Perdir itu lahir di 2020 juga,” katanya.

Kalau dilihat dari kelahiran Perdir, ini ada kesan dipaksakan. “Kita tidak tahu mengapa Direktur RSUD TCD Sigli, memaksakan apa yang ada dalam pikirannya. Yaitu tentang sistem logbook, ini. Apakah ini bagian dari mimpi dia atau memang kesepakatan semua karyawan rumah sakit,” jelas Muharamsyah.

Sebab, lanjut dia, dari beberapa informasi yang diketahuinya Peraturan Direktur (Perdir) tentang Logbook, itu tidak pernah dibahas dengan para karyawan. Padahal Perdir ini mengatur hal tenis, seperti menyangkut pembagian Jasmed, nilai-nilai dan poin-poin, serta rumusan-rumusan sehingga menghasilkan jumlah jasa medis yang diterima oleh semua karyawan.

Artinya sebut dia lagi, ini juga menyangkut dengan kesejahteraan perawat dan dokter serta semua karyawan yang ada di rumah sakit milik Pemkab Pidie tersebut. Mestinya Perdir ini sebut dia dibahas bersama-sama. Dia mentamsilkan konsep pemerintah dalam membahas suatu qanun tentang organisasi pemerintahan dengan qanun Parkir.

“Kalau pembahasan qanun Parkir di DPRK, maka dewan harus membuat Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU). Mengapa itu harus dilakukan, karena yang diatur adalah masyarakat. Ambil uang dari masyarakat, kan begitu. Tetapi kalau Qanun tentang organisasi kan tidak demikian, tidak perlu RDPU. Mengapa, karena yang diatur itu benda mati,” katanya Muharamsyah.

Sedangkan Logbook, jelas Muharamsyah lagi, itu harus dibicarakan dengan para karyawan karena nantinya semua mereka yang akan terkena dampak. Perdir ini mengatur hal-hal teknis.

Sebelumnya Direktur RSUD TCD Sigli dr Muhammad Yassir, SpAn mengungkapkan, dengan menggunakan sistem Logbook, kini mulai terungkap siapa-siapa saja oknum karyawan dari rumah sakit tersebut yang bolos kerja, dan kata dia jelas terlihat di logbook, itu. “Dulu masuk kantor atau tidak tetap terima Jasmed,” katanya.(b06)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2