Dewan Minta Jangan Anaktirikan Kecamatan Leuser

- Aceh
  • Bagikan

KUTACANE (Waspada): Anggota dewan dari Fraksi Hati Nurani Rakyat, meminta Pemkab Aceh Tenggara jangan menganaktirikan Kecamatan Leuser yang merupakan wilayah paling terpencil di bumi sepakat segenep.

Permintaan tersebut disampaikan Luhut Panjaitan, juru bicara Fraksi Hanura pada rapat Paripurna penyampaian pendapat akhir Fraksi menanggapi Rancangan Qanun APBK Aceh Tenggara 2022 yang berlangsung, Selasa (30/11) petang.

Kecamatan Leuser yang terletak di bagian paling selatan bumi sepakat segenep, merupakan wilayah paling terpencil dan terisolir di Aceh Tenggara, padahal wilayah tersebut merupakan sentra pertanian dan perkebunan.

Namun sayangnya, hasil dan potensi yang dihasilkan Kecamatan Leuser, sama sekali tak sebanding dengan saran, prasarana dan kue dan program pembangunan yang diterima wilayah hasil pemekaran Kecamatan Babul Makmur tersebut.

Ketertinggalan tersebut, mulai dari jalan kabupaten penghubung antar puluhan desa yang kondisinya saat ini rusak berat karena mash berlapiskan tanah. 

Bahkan ketika memasuki musim penghujan, mobil barang yang biasa mengangkut hasil pertanian dan perkebunan petani, tak bisa diagkut keluar kecamatan.

Akibatnya, kerapkali hasil pertanian dan perkebunan warga Leuser membusuk karena tak bisa diangkut keluar dari desa dan kecamatan, namun kondisi jalan rusak berat tersebut, sebaliknya membat harga kebutuhan pokok langka.

Selain jalan rusak berat yang menghubungkan Lau Tawar-Gunung Nias- Gunung Pakpak, Suka Damai, Kane Mende, Bunbun Alas, Bunbun Indah, Ukhat Peseluk, Sade Ate dan beberapa desa lainnya, sambung Timbul Hasudungan, anggota dewan lainnya, minimnya jaringan internet, tak adanya air bersih di kecamatan yang berbukit dan berada di atas punggung bukit barisan tersebut, juga menjadi masalah yang membuat Leuser semakin jauh teriosilr  tertinggal dibandingkan dengan 15 kecamatan lainnya.

Agar wilayah segi tiga yang berbatasan dengan Kabupaten Dairi dan Kabupaten Karo tersebut, tidak semakin tertinggal,terisolir dan terkebelakang, Pemkab seharusnya mencurahkan perhatian dan mengalokasikan dana yang besar bagi pemeliharaan maupun pembangunan jalan dan jembatan.

Kita berharap tambah T.Dedi Paisal Selian, akses jalan menuju Leuser terbuka dan lancar, agar bidang pendidikan, kesehatan, perekonomian dan sektor perdangangan di daerah sentra pertanian dan perkebunan penghasil sawit, jagung, kemiri, kakao dan berbagai jenis tanaman hortikultura semakin berkembang dan semakin berkembang serta sama seperti warga di 15 kecamatan lainnya.

“Jujur saja, jika pun ada kute yang jalannya berlapiskan aspal, hanya pada kute (desa) yang berada di jalur ruas jalan Provinsi seperti Bintang Alga Musara (Kampung Gayo), Bukit Meriah, Tanjung Sari, Kane Mende,Bukit Bintang Indah dan sebagian kecil Kute Permata Musara, sedangkan jalan kabupaten menuju desa lainnya hanya berlapiskan tanah,” sindir Paisal.(b16)

Mobil dinas milik Pemkab Aceh Tenggara terlihat berjuang melewati jalan berlubang dan berlubang mirip bak kubangan kerbau, di ruas jalan Kabupaten di Kecamatan Leuser. Waspada/Ali Amran

Pengguna kenderaan bermotor terlhat susah payah melewati jalan berlubang dan berlumpur bak kubangan kerbau di ruas jalan kabupaten di Kecamatan Leuser Aceh Tenggara.Waspada/Ali Amran

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *