Bupati Abdya: Adat Jangan Beratkan Masyarakat

- Aceh
  • Bagikan

BLANGPIDIE (Waspada): Bupati Aceh Barat Daya (Abdya), Akmal Ibrahim SH menegaskan, penerapan adat dalam kehidupan sehari-hari, jangan sampai memberatkan masyarakat dan melenceng dari ajaran agama Islam.

Penegasan itu disampaikan Bupati Akmal Selasa (30/11), saat membuka kegiatan Musyawarah Besar (Mubes) I, Majelis Adat Aceh (MAA) Abdya. Bertempat di aula Masjid Agung Baitul Ghafur, Blangpidie.

Menurutnya, sejauh ini pelaksanaan adat di Abdya dinilai telah jauh dari ajaran agama, serta terkesan banyak yang memberatkan masyarakat. Dicontohkan, seperti adat kenduri yang terlalu banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bahkan tambahnya, ada yang menyebutkan jika pelaksanaan kenduri itu bagian dari bersedekah. Hal itu tentu sangatlah berbeda.

Dalam agama Islam katanya, bersedekah itu dilakukan tanpa pamrih. Sedangkan kenduri, dilaksanakan dengan mengharapkan kehadiran tamu yang diundang, yang pastinya membawa buah tangan sebagai imbalan.

“Sudah terlalu banyak kenduri. Hal ini sudah jauh melenceng dari ajaran agama. Kalau dikatakan untuk sedekah, itu sudah salah. Bersedekah itu tampa pamrih. Banyak kenduri sekarang ini, sudah sangat memberatkan masyarakat. Hitung saja berapa banyak kenduri yang dilakukan di Abdya saat ini,” urai Bupati Akmal.

Bupati Akmal menyebutkan, adat itu juga penting dari bagian kehidupan. Namun, dalam pelaksanaannya jangan sampai memberatkan masyarakat.

Untuk itu, MAA Abdya diharapkan dapat mengkaji ulang penerapan adat di Abdya, juga koordinasi dengan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), agar penerapan adat tidak melenceng dari ajaran Agama Islam.

Atas nama Pemkab Abdya, Bupati Akmal mengaku siap membuat Peraturan Bupati (Perbup) terkait hal itu. Dalam pelaksanaannya nantinya, akan diawasi oleh pihak Kecamatan, hingga Kepala Desa.

“Tujuannya bukan untuk membatasi adat. Namun kaji kembali aturan-aturan adat yang sudah ada. Mana yang baik lanjutkan, jika merugikan banyak orang silahkan perbaiki. Sesuaikan dengan ajaran agama, juga dengan kemampuan masyarakat,” paparnya.

Sebagaimana diketahui selama ini lanjut Bupati Akmal, banyak warga yang harus menjual tanah, sawah dan lainnya, hanya untuk memenuhi kebutuhan adat seperti kenduri. Bahkan, masyarakat mengabaikan kebutuhan wajib di dalam rumah tangga, seperti kebutuhan istri dan anak.

Pada dasarnya bekerja itu wajib, namun jika terlalu banyak kenduri, mana mungkin hasil dari bekerja itu bisa disimpan untuk kebutuhan anak dan istri.

“Sebagai contoh, banyak orang karena gensi dan mengutamakan adat, dia rela membiarkan anak dan istrinya makan tanpa lauk pauk, yang memadai di rumah.”

“Inikan tidak baik dan melenceng dari ajaran agama. Maka dari itu, pesan saya kepada MAA, segera carikan solusinya, agar penerapan adat ini tidak semakin menyimpang,” katanya.

Bupati Akmal mengharapkan, melalui Mubes MAA Abdya I ini, nantinya dapat melahirkan kesepakatan-kesepakatan yang konstruktif dan positif, yang dapat menggiring tatanan hidup masyarakat, agar jauh lebih tertata secara adat dan budaya, serta tidak menyimpang dari ajaran agama.(b21)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *