Waspada
Waspada » Boy, Mempertahankan Usaha Tahu Di Tengah Kondisi Covid-19
Aceh Features

Boy, Mempertahankan Usaha Tahu Di Tengah Kondisi Covid-19

Putri Julianti, mahasiswi Program Studi Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, IAIN Langsa yang menjadi peserta KPM Tematik 2021 saat mendampingi Boy Muhamad Ali di tempat usaha tahunya. Boy, Mempertahankan Usaha Tahu Di Tengah Kondisi Covid-19. Waspada/dede
Putri Julianti, mahasiswi Program Studi Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, IAIN Langsa yang menjadi peserta KPM Tematik 2021 saat mendampingi Boy Muhamad Ali di tempat usaha tahunya. Boy, Mempertahankan Usaha Tahu Di Tengah Kondisi Covid-19. Waspada/dede

BERTAHAN di tengah gonjang-ganjing keterpurukan ekonomi akibat pandemi Covid-19, Boy Muhamad Ali, 53 bersama sang istri Sulastri, 33, terus berjuang mempertahankan produksi tahunya demi mempertahankan perekonomian keluarganya.

Bang Boy, begitu sapaan akrabnya yang terus optimis di balik berdirinya usaha rumahan pembuatan tahu di rumahnya Gampong Blang, Langsa Kota. Namun sebelum ia menetap di sana, ia telah membangun sebuah usaha pembuatan tahu yang hingga kini terletak di Jl. Hamzah Fanzuri, Lorong 4, Gampong Seulalah, Kecamatan Langsa Lama.

Seorang Mahasiswi Program Studi Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, IAIN Langsa yang menjadi peserta KPM Tematik 2021, Putri Julianti saat mendampingi keluarga Bang Boy, mengaku usaha tahu yang ditekuninya bermula tahun 2005 hingga sekarang membuatnya cukup dikenal di gampong tempat dia tinggal

“Alasan mengapa Bang Boy memilih usaha produksi tahu, kerana pada masa itu tak banyak para pelaku usaha pembuatan tahu di sekitar Desa Gampog Seulalah. Kemudian dengan keunikan dan kemampuan manajemen bisnis dalam dirinya memulai usaha produksi tahu sebagai usaha rumahan,” sebut Putri Julianti.

Selain itu, Bang Boy yang semula hanya anak muda biasa dengan modal seadanya, berani memulai usaha pabrik produksi tahu karena ingin menciptakan solusi dalam persoalan ekonomi yang dihadapinya.

Namun siapa sangka, pabrik produksi tahu yang telah berdiri dari tahun 2005 masih berdiri hingga sekarang, memproduksi tahu yang tersebar di berbagai pasar sekitaran Kota Langsa hingga luar kota.

 

 

Bang Boy yang tadinya hanya pemuda yang baru memulai usahanya secara mandiri, kini sudah dikenal oleh banyak relasi bisnisnya. Tempat usaha tahu yang diproduksinya menjadi pabrik yang lumayan besar meski seiring berjalanannnya waktu, segala sesuatu terkait dunia bisnis ini tak serta merta berjalan dengan lancar.

Diungkapkan Putri Julianti, pada proses produksi tahu, bahan utama yang sangat dibutuhkan Bang Boy adalah kacang kedelai, di mana cara pembuatannya sendiri melalui kacang kedelai yang telah difermentasi.

Untuk senantiasa menjaga produknya agar tetap menghasilkan apa yang dicari oleh pasar dan dapat bersaing dalam kualitas hingga harga, Bang Boy memilih mendatangkan kedelai yang diimpor dari Amerika dan Brazil, karena lebih mudah didapat dan harganya murah dibandingkan kedelai lokal.

Namun di balik proses pengadaan bahan baku, terjadi kelangkaan bahan baku kacang kedelai. Bang Boy sempat merasa kesulitan akan keadaan ini, bahkan hingga sekarang kelangkaan kacang kedelai pun masih terjadi dan membuat proses produksi tahu menjadi terkendala.

Menyikapi keadaan ini, Bang Boy sempat mengambil inisiatif untuk menanam sendiri kacang kedelai agar ia dapat lebih mudah memperoleh kacang kedelai, karena dalam sehari untuk proses pembuatan tahu Bang Boy membutuhkan 100 kg kacang kedelai. Tentu jumlah yang tak sedikit apalagi dalam kelangkaan bahan yang akan menyulitkan proses produksi.

Namun misi ini tidak berjalan lancar, karena perlu ketelatenan dalam membudidayakan kacang kedelai. Bang Boy lagi-lagi mendapatkan hambatan karena bibit yang terbilang mahal, pupuk dan perawatan yang juga memakan modal yang besar. Untuk itu, sulit bagi Bang Boy menghasilkan bahan baku sendiri.

Inilah yang melatar belakangi mengapa bahan baku pembuatan tahu perlu didatangkan dari luar negeri, karena memang pada dasarnya kacang kedelai merupakan hal yang langka di Indonesia sendiri karena pemerintah hanya memberikan sedikit bibit kedelai yang bisa didapati oleh para petani. Hal yang sangat bertentangan dengan kebutuhan produksi tahu yang membutuhkan kacang kedelai yang banyak.

Melalui bahan baku itu tahu diproduksi menjadi beberapa jenis tahu yang kemudian tersebar di pasar seperti tahu sayur, tahu kuning, tahu kosong dan tahu sumedang.

Di samping itu, Bang Boy memasarkan tahu produksinya mencapai Kutacane. Kini dengan adanya Bang Boy yang mempelopori usaha tahu di desa tersebut, membuat banyak warga yang berada di lingkungan sama, juga ikut menekuni usaha tersebut. Dampak semakin ramainya rumah produksi di lingkungannya, tahu Bang Boy mengalami penurunan omset penjualan mencapai 50 persen, konon lagi di tengah kondisi pandemi Covid-19 akhir-akhir ini.

Dengan banyaknya usaha yang sama di tengah kebutuhan pasar yang bisa dikatakan menurun hingga pengadaan bahan baku yang masih terbilang murah ini membuat Bang Boy mengalami kendala dalam memasarkan produksi tahunya.

Hingga tahu yang tadinya masih tersebar di seputaran Kota Langsa kini harus mencari pasar baru sebagai target pemasaran, maka dari itu Bang Boy memilih memasarkan tahunya keluar kota yaitu Kutacane.

Sementara itu, Bang Boy berharap agar dapat memasarkan tahunya lebih luas lagi, bukan hanya ke Kutacane, namun ke berbagai daerah yang terdapat di penjuru Aceh agar omset penjualan kembali stabil.

Hingga kini dirinya masih terus mencari agar produksi tahunya mengalami peningkatan, dengan berbagai upaya salah satunya dalam meningkatkan proses produksi, memperluas relasi bisnis hingga tetap bertahan dalam keadaan yang sulit.

Lanjutnya, pada tahun lalu pengaruh dari adanya wabah Covid masih terasa hingga sekarang, sejak saat itu permintaan pasar menurun. Dikarenakan adanya lockdown yang membuat sebagian besar pelaku usaha mengalami kesulitan, termasuk Bang Boy

Namun meski demikian, ia berusaha untuk tetap berdiri di tengah keadaan yang menyulitkan, dibuktikan dengan tetap berlangsungnya proses produksi tahu di pabrik tahu miliknya hingga saat ini.

Ditambahkan Putri Julianti, ini adalah hal yang patut dijadikan panutan bagi siapapun yang ingin memulai usaha, seperti halnya Bang Boy yang pada tahun 2005 memulai usahanya sendiri meski dengan bantuan dan dukungan dari orang tua secara non materi.

Bahkan di tengah keadaan yang sulit mulai dari kesulitan bahan baku, penurunan pesanan pasar, tingginya pesaing, pengurangan omset dagang hingga wabah Covid yang berakibat sampai sekarang, Bang Boy tetap memproduksi tahu dan memilih untuk memasarkannya meski harus ke luar kota karena di Kota Langsa sendiri pesanan tahu mengalami penurunan.

Dirinya berharap usaha Bang Boy dapat lebih berkembang dan mampu keluar dari situasi yang sulit seperti apa yang pernah menjadi pengalamannya yaitu jatuh bangun di dunia usaha. Tentu hal itu akan turut serta seiring adanya berbagai dinamika namun mental seorang pengusaha akan menghadapi itu dengan terus berdiri.

Tentu perjalanannya yang panjang terhitung sejak tahun 2005 membuat Bang Boy paham betul apa yang harus ia lakukan dalam menyikapi persoalan yang ada pada bisnisnya.

Semoga keadaan dapat membaik, mulai dari meningkatnya jumlah pesanan agar tahu bisa semakin tersebar luas dan memperbaiki keuntungan serta bahan baku yang tidak sulit lagi agar para pelaku bisnis seperti Bang Boy tak perlu memesan jauh hingga mencapai luar negeri.

“Bagaimanapun hendaknya pemerintah menyediakan solusi lain terkait suatu barang yang langka agar siapapun yang membutuhkan tetap dapat menjangkaunya. Pada nyatanya pelaku usaha rumahan seperti pabrik produksi tahu milik Bang Boy ini sebenarnya adalah hal yang perlu dikembangkan karena ini membantu perekonomian warga hingga mampu menciptakan lapangan pekerjaan,” tandasnya. WASPADA/dede

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2