BKSDA Kembali Lepas Liar Harimau Ke TNGL

- Aceh
  • Bagikan

IDI (Waspada): Untuk menjaga kelestarian dan populasinya tidak terancam punah, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, melepasliarkan harimau sumatera ke Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Kecamatan Trumon, Kabupaten Aceh Selatan, Rabu (17/11).

“Pemilihan lokasi TNGL sebagai lokasi pelepasliaran setelah melalui survey dan kajian kelayakan daya dukung habitat bersama dengan mitra, diantaranya kajian populasi, ketersediaan pakan, dan ancaman habitat,” kata Kepala BKSDA Aceh, Agus Arianto, S.Hut, kepada Waspada, Kamis (18/11).

Individu harimau betina yang diberi nama ‘Putroe Kapho’ itu sebelumnya merupakan lokasi harimau sumatera tersebut dievakuasi, Rabu (10/11) lalu. Sebelum dievakuasi, Putroe Kapho sering terlihat di beberapa desa antara lain Desa Seuleukat, Desa Simpang, Desa Krueng Batee, dan Desa Gunung Kapho. “Terakhir terlihat di Desa Panton Bili,” katanya.

Dari beberapa kemunculannya, lanjut Agus, berdasarkan hasil rapat teknis bersama tim medis bahwa diduga harimau sumatera tersebut menunjukan adanya perilaku diluar kondisi normal sebagaimana terlihat dari rekaman video warga yang beredar dan sempat viral.

“Sebagai upaya pengamanan baik bagi masyarakat sekitar dan harimau sumatera itu sendiri, BKSDA Aceh bersama mitra melakukan penyelamatan Putroe Kapho untuk dilakukan observasi di CRU Trumon. Dari hasil observasi dan pemeriksaan medis lengkap terhadap Putroe Kapho selama di CRU Trumon, harimau sumatera tersebut menunjukan kondisi sehat dan normal,” jelas Agus.

Diagnosa lebih lanjut terhadap kesehatan harimau sumatera tersebut, pihaknya juga sempat melakukan pengambilan sampel darah (serum) dan swab (mulut dan mata) sebagai bahan untuk dilakukan pemeriksaan hematologi, tes Covid-19, dan juga test CDV (Canine Distemper Virus).

“Hasil pemeriksaan darah rutin dan kimia darah menunjukan kondisi harimau sumatera tersebut dalam kondisi normal dan sehat, hal ini juga terlihat dari hasil uji COVID-19 serta CDV menunjukan hasil negatif,” tutur Agus.

Kepala BKSDA Aceh itu melanjutkan, setelah melalui proses observasi dan pemeriksaan medis lengkap serta kajian kelayakan lokasi pelepasliaran, Putroe Kapho akhirnya dilepasliarkan kembali ke habitatnya di TNGL.

“Proses pelepasliaran, Putroe Kapho terlihat sangat bersemangat menyusuri kawasan TNGL,” timpa Agus, seraya berharap Putroe Kapho dapat beradaptasi dengan cepat dan berkembang biak sehingga dapat menambah populasi di alam.

Sebagaimana diketahui, harimau sumatera (panthera tigris sumatrae) merupakan salah satu jenis satwa yang dilindungi di Indonesia berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar yang Dilindungi.

Terancam

“Berdasarkan The IUCN Red List of Threatened Species, satwa yang hanya ditemukan di Pulau Sumatera ini berstatus Critically Endangered atau spesies yang terancam kritis, beresiko tinggi untuk punah di alam liar,” tambah Agus Arianto.

Dihimbau masyarakat untuk turut serta menjaga kelestarian habitatnya dengan cara tidak merusak hutan yang merupakan habitat berbagai jenis satwa, serta tidak menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup ataupun mati.

“Kami ingatkan sekali lagi, jangan pernah memasang jerat, racun, pagar listrik bertegangan tinggi yang dapat menyebabkan kematian satwa liar dilindungi,” demikian Agus Arianto. (b11)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *