Waspada
Waspada » Bidang Perlindungan Anak Beberkan Kasus Anak Meningkat Setahun Terakhir
Aceh

Bidang Perlindungan Anak Beberkan Kasus Anak Meningkat Setahun Terakhir

SINGKIL (Waspada): Sejak setahun terakhir, persoalan dan kekerasan terhadap anak di Kabupaten Aceh Singkil mengalami peningkatan dari tahun 2019.
Tahun 2020 Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) mencatat, ada sebanyak 11 kasus anak yang menjadi korban kekerasan, dan berujung hingga laporan kekantor tersebut.
Kabid Perlindungan Anak (PA) Munira didampingi Kasi Pemenuhan Hak Anak Deni Kurniawan Putra dikonfirmasi Waspada di ruang kerjanya, Rabu (13/1) mengatakan, persoalan anak hingga kekerasan terhadap anak dengan kasus yang berbeda mencapai 11 kasus.
Berdasarkan laporan yang masuk hingga Desember 2020 tercatat ada 11 kasus anak yang dilaporkan oleh orang tua asuhnya kekantor DP3AP2KB.
Meliputi, 1 kasus pembulian, kemudian pelecehan seksual 1 kasus, pemerkosaan ada 2 kasus dan penelantaran terhadap anak ada 7 kasus terlapor.
“Jumlah ini yang masuk laporan kekantor DP3AP2KB ada juga yang langsung melapor ke Polres, dan tidak terdata disini,” beber Marina.
Namun katanya, sejauh ini ada juga kasus pemerkosaan yang tidak dilaporkan ke Bidang PA. “Lantaran kasus pemerkosaan ini dianggap aib bagi korban, sehingga enggan melapor. Dan ada pula yang langsung melapor ke Polres,” bebernya.
Selanjutnya untuk penanganannya katanya, Bidang Perlindungan Anak yang tergabung dalam Tim P2TP2 (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) turut mendampingi dalam penanganan pemulihan psikis trauma korban, serta pendampingan proses hukum, dan Polres Aceh Singkil sebagai penanganan hukum.
Dari jumlah kasus tersebut, sampai saat ini sudah tertangani 80 persen, dan 20 persen lagi sedang proses penyelesaian, tambahnya.
Sementara itu kasus 2019 persoalan anak yang masuk laporan ada 9 kasus. Dirincikannya, untuk kasus pemerkosaan terhadap anak tahun lalu lebih tinggi, yakni mencapai 6 kasus. Kemudian pembulian 1 kasus dan penelantaran ada 2 kasus.
Begitupun Munira menyampaikan, sejauh ini katanya, Bidang Perlindungan Anak kewalahan dalam masalah penanganan psikis terhadap korban.
Sebab saat ini Bidang PA belum memiliki tenaga ahli spesialis Sarjana Psikologi. Sehingga jika tidak tertangani, pihaknya terpaksa merujuk ke RSUD Tapaktuan dan rumah sakit Banda Aceh.
Disamping itu, untuk penanganan pemulihan psikis tersebut, Bidang PA selama ini tidak mendapat anggaran untuk itu.
Sehingga ke depan diharapkan bisa masuk dalam anggaran untuk sosialisasi serta pendampingan pemulihan psikis korban anak dan perekrutan tenaga ahli spesialis psikologi sebanyak 5 orang yang dibutuhkan. “Selama ini anggaran sosialisasi dan pengiklan kena coret,” keluh Munira. (b25)

Kabid PA Munira didampingi Kasi PHA Deni Kurniawan dikonfrimasi di Kantor DP3AP2KB Aceh Singkil.

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2