Waspada
Waspada » “Biarkan Aku Mati Saja”
Aceh Headlines

“Biarkan Aku Mati Saja”

Waka Polres Kota Lhokseumawe, Kompol Ahzan, Senin (20/1) pagi di Mapolres setempat dalam konferensi pers menerangkan kronologis kejadian kasus pelecehan terhadap santri di Kecamatan Dewantara, Aceh Utara. Waspada/Maimun Asnawi
Waka Polres Kota Lhokseumawe, Kompol Ahzan, Senin (20/1) pagi di Mapolres setempat dalam konferensi pers menerangkan kronologis kejadian kasus pelecehan terhadap santri di Kecamatan Dewantara, Aceh Utara. Waspada/Maimun Asnawi

DALAM naskah pers yang dibagikan dan dikeluarkan oleh Polres Lhokseumawe pada kegiatan konferensi pers, Senin (20/1) pagi, disebutkan telah terjadi perkara dugaan jarimah pelecehan seksual terhadap anak Desember 2019 di salah satu pesantren di Kecamatan Dewantara. Perkara tersebut sesuai dimaksud dalam pasal 47 Qanun Aceh No 6 tahun 2014 tentang Hukum Jinayat.

Pelaku dalam kasus ini berinisial MZF, 26. Dia merupakan petugas bagian prasarana di dayah bersangkutan. Sedangkan korban berinisial AZ,13, dan MFM, 14. Ke dua remaja ini merupakan santri dayah bersangkutan. Peristiwa tersebut terjadi di kamar santri. Dalam siaran pers situ, AZ menjelaskan pelesehan seksual terhadap dirinya dilakukan oleh MZF lima kali.

Kejadian pertama Minggu (10/11) tahun 2019, sekira pukul 03:00. Saat itu korban AZ sedang terlelap tidur di kamarnya. Dan saat kejadian korban merasa seperti ada seseorang yang meraba-raba kemaluannya hingga menyebabkan dia terkejut dan terjaga dari tidurnya. Korban mengaku melihat pelaku berada di sampingnya dan melakukan perbuatan tidak bermoral.

Hal ini disampaikan Waka Polres Kota Lhokseumawe, Kompol Ahzan pada konferensi pers di Mapolres setempat. Dalam siaran pers itu, Waka Polres Lhokseumawe juga menyebutkan, bahwa pelaku berhasil menjalan misi jahatnya terhadap korban hingga korban tidak berkutik.

Kejaidna ke dua diperkirakan terjadi akhir bulan November 2019 sekira pukul 01:30 di kamar yang sama. Saat itu korban juga dalam posisi tertidur pulas. Pada kejadian ke dua kalinya, pelaku langsung tidur di samping dan memeluk korban hingga korban diperlakukan tidak senonoh. Kali ini korban juga tidak berkutik hingga misi pelaku berakhir.

Kejadian ke tiga sekitar Desember 2019 sekira pukul 04:00 di kamar yang sama, juga pada saat itu korban sedang dalam kondisi tidur. Pada saat itu korban kembali meraskan seperti ada seseorang yang sedang meraba-raba dirinya di bagian kemaluan. Kejadian ke tiga kalinya, korban melihat pelaku sudah berada di sampingnya.

Kejadian ke empat kalinya pada tanggal 14 Januari 2020 sekitar pukul 02:30 langsung masuk dan tidur di samping AZ. Pelaku juga langsung memeluk AZ hingga melaklukan perbuatan tidak bermoral. Misi ke lima kalinya juga berhasil dilakukan pelaku hingga tuntas. Dan kejadian ke lima kalinya, Kamis tanggal 16 Januari 2020 pukul 01:30, pelaku MZF mencium dan memegang kemaluan korban.

Korban lainnya berinial MFM, 14. Kepada polisi dia mengaku mengalami pelecehan seksual dari MZF lebih dari lima kali. Pertama terjadi sekitar Desember 2019 sekitar pukul 03:00. Korban terbangun dan melihat pelaku sedang melakukan perbuatan menyimpang terhadap dirinya.

Kejadian ke dua selang seminggu setelah kejadian pertama. Pelaku masuk ke dalam kamar korban dan memperlakukan korban dengan perbuatan tidak bermoral.Kejadian ke tiga selang tiga hari dari kejadian ke dua, juga di kamar yang sama. Kejadian ke empat dank e lima, korban tidak ingat hari dan tanggalnya tetapi selang seminggu setelah kejadian ke tiga. Korban saat itu sedang terlelap tidur. Sedangkan kejadian terakhir, pada Kamis tanggal 16 Januari 2020 sekitar pukul 01:30, pelaku melakukan pelecehan seksual terhadap MFM dengan cara memasukkan tangannya ke dalam sarung dan meremas kemaluan korban.

“Pada, Kamis (16/1) pukul 05:30 ke dua korban bersama 9 santri lainnya melarikan diri dari dayah menuju Polres Lhokseumawe untuk melaporkan kejadian tersebut. Dan, Kamis (16/1) pukul 13:00 tersangka menyerahkan diri ke Polres Lhokseumawe dengan didampingi wakil pimpinan dayah,” terang Waka Polres Lhokseumawe, Kompol Ahzan dalam konferensi pers kemarin.

Menjawab wartawan, Kompol Ahzan menyebutkan, pelaku dijerat dengan pasal 47 Qanun Aceh No 6 tahun 2014 Tentang Hukum Jinayat. “Setiap orang dengan sengaja melakukan jarimah pelecehan seksual, sebagaimana dimaksud dalam pasal 46 terhadap anak-anak dengan uqubat ta’zir cambuk paling banyak 90 kali atau denda 900 gram emas murni atau penjara paling lama 90 bulan.”

Sekarang ini, kasus pelecehan seksual sudah dalam penangan pihak kepolisian dan tersangka sudah diamankan di Mapolres Kota Lhokseumawe untuk proses hukum lebih lanjut. Di informasikan, pelaku melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak bawah umur berjenis kelamin laki-laki.

Diakhir kegiatan konferensi pers, Kompol Ahzan menyebutkan, kalau pihaknya juga mengambil buka catatan harian korban. Dalam buku tersebut korban menuliskan kalau dirinya meminta kepada Allah Swt untuk mencabut nyawanya karena dia telah melakukan dosa. “Biarkan aku mati saja ya Allah, karena aku telah melakukan dosa,” sebut Kompol Ahzan sesuai yang dibaca dalam diari korban.
Maimun Asnawi

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2