Waspada
Waspada » Barang Bukti Kulit Harimau Dikembalikan Ke Balai KSDA
Aceh Headlines

Barang Bukti Kulit Harimau Dikembalikan Ke Balai KSDA

Kajari Aceh Timur, Abun Hasbulloh Syambas (baju putih) memperlihatkan barang bukti kulit harimau sumatera ketika berlangsung serah terima barang bukti (BB) kasus satwa dilindungi di Kantor Kejari, Selasa (13/10). Barang bukti kulit harimau dikembalikan ke Balai KSDA. Waspada/M. Ishak
Kajari Aceh Timur, Abun Hasbulloh Syambas (baju putih) memperlihatkan barang bukti kulit harimau sumatera ketika berlangsung serah terima barang bukti (BB) kasus satwa dilindungi di Kantor Kejari, Selasa (13/10). Barang bukti kulit harimau dikembalikan ke Balai KSDA. Waspada/M. Ishak

IDI (Waspada): Barang bukti kulit harimau dikembalikan ke Balai KSDA. Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Timur mengembalikan barang bukti (BB) perkara perdagangan satwa dilindungi ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh. Pengembalian dan penyerahan berlangsung di Kantor Kejari Aceh Timur di Idi, Selasa (13/10).

Hadir antara lain Kajari Aceh Timur Abun Hasbullah Syambas, SH, MH, didampingi Kasi Pidum Ivan Najjar Alavi, SH, Kasi Barang Bukti Hanita Azriza, SH, dan Kasi Intel Andi Zulanda, SH. Hadir juga Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fajar Adi Putra, SH. Sementara pihak Balai KSDA Aceh dihadiri, drh. Taing Lubis selaku ahli satwa dilindungi.

Kepala Kejari Aceh Timur, Abun Hasbulloh Syambas, MH, dalam kesempatan itu mengatakan, pengembalian barang bukti ke Balai KSDA Aceh menyusul inkrahnya kasus perdagangan satwa dilindungi. Keempat tersangka juga sudah menerima putusan Pengadilan Negeri (PN) Idi dengan vonis masing-masing terdakwa 3 tahun penjara.

“Awalnya kita masih pikir-pikir, namun karena melihat putusan sudah di atas 2/3 dari tuntutan, maka kita juga menerima dengan putusan majelis hakim,” kata Abun seraya berharap, masyarakat untuk tidak lagi memburu dan memperdagangkan satwa dilindungi, baik harimau sumatera, beruang madu, gajah, dan orangutan.

Koordinator Ahli Satwa Liar BKSDA Aceh, drh. Taing Lubis, mengapresiasi tuntutan JPU dalam kasus perdagangan satwa dilindungi dengan yakni 4 tahun 6 bulan terhadap masing-masing terdakwa. “Tuntutan dan putusan aparat penegak hukum ini kita nilai sudah maksimal. Mudah-mudahan akan memberi efek jera terhadap keempat pelaku yang terlibat dalam aksi perdagangan kasus satwa dilindungi ini,” kata Taing Lubis.

Diharapkan, kasus serupa tidak terulang di Aceh khususnya di Kabupaten Aceh Timur. “Perburuan harimau sumatera masih terjadi di Aceh dan sebagian besar kulit dan tulang belulang harimau ini dijual ke luar Aceh dengan harga yang menggiurkan. Namun harapan kita aksi perburuan dan perdagangan satwa dilindungi ini tidak lagi terulang. Mudah-mudahan kasus ini menjadi kasus yang terakhir di Aceh Timur,” demikian Taing Lubis. (b11).

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2