“Bantu Kami Pak Presiden”

“Bantu Kami Pak Presiden”

  • Bagikan
Puluhan guru dan tenaga pendidik honorer non kategori usia 35 tahun ke atas foto bersama. “Bantu Kami Pak Presiden”. Waspada/Ist
Puluhan guru dan tenaga pendidik honorer non kategori usia 35 tahun ke atas foto bersama. “Bantu Kami Pak Presiden”. Waspada/Ist

MENUNGGU adalah pekerjaan yang membosankan. Begitulah kalimat yang banyak dilontarkan oleh orang-orang. Namun kalimat itu sepertinya tidak berlaku bagi 250 orang guru dan tenaga pendidik honorer non kategori (GTKHNK) yang usianya telah melampaui 35 tahun dan bahkan ada yang sudah mencapai usia 58 tahun di Kota Lhokseumawe.

Kalimat itu tidak berlaku bagi mereka, mungkin disebabkan menjadi guru bukanlah sebuah pekerjaan tetapi lebih kepada panggilan jiwa. Buktinya, walau hanya dibayar dengan jerih di bawah standar, mereka tetap bertahan.

“Walaupun demikian kami ini tetaplah manusia biasa yang membutuhkan sandang, pangan dan papan. Kami menyadari bahwa usia kami telah lebih dari 35 tahun dan sudah tidak mungkin mengikuti tes CPNS. Karena itu kami membutuhkan perhatian pemerintah untuk memberikan kesempatan bagi kami untuk menjadi ASN,” ucap Dra Nurhasanah yang telah berusia 55 tahun.

Mungkin, setelah diangkat menjadi ASN sebut Nurhasanah, dirinya dan teman-teman seumuran dengannya akan langsung menjalani masa pensiun. “Itu bukan masalah bagi diri kami. Itulah kado terindah yang akan kami terima dari pemerintah untuk masa tua kami nantinya. Kami tetap berharap dan terus menunggu kesempatan itu datang untuk perubahan hidup kami yang lebih baik ke depan,” ucap guru SD Negeri 8 Banda Sakti itu.

Selain Dra Nurhasanah, hal sama juga diutarakan Zuraini, S.Pd yang sudah berusia 51 tahun. Guru SD Negeri 12 Muara Dua ini menyebutkan, diangkat menjadi ASN bukan hanya menjadi harapan dirinya semata, melainkan harapan seluruh anak-anaknya.

“Sudah puluhan tahun kami mengabdi dan jujur kami tidak pernah mengeluh. Setiap hari rutinitas kami sebagai guru, kami jalankan sepenuh hati. Namun seperti yang dikatakan teman kami tadi, Dra Nurhasanah, usia kami sudah tidak muda lagi. Barangkali pemerintah mau berbaik hati untuk mengangkat kami menjadi ASN untuk terakhir kali,”kata Zuraini kepada Waspada.id, Senin (8/3) sore.

Ketua Guru dan Tenaga Pendidik Honorer Non Kategori (GTKHNK) 35+ Kota Lhokseumawe, Taufan, S.Pd saat ditemui membenarkan, jumlah guru dan tenaga pendidik honorer non kategori usia di atas 35 tahun dalam wilayah Kota Lhokseumawe jumlahnya mencapai 250 orang.

“Rata-rata masa bakti mereka lima hingga sepuluh tahun. Namun tidak sedikit yang telah bekerja puluhan tahun seperti Dra Nurhasanah dan Zuraini, S.Pd. Saya sendiri merupakan satu dari 250 orang guru tersebut. Hingga saat ini kami belum mendapatkan perhatian dari pemerintah,” kata Taufan.

Ditanya mengapa mereka tidak masuk dalam kategori 1 dan kategori 2 pada saat pemerintah melakukan pemutihan untuk para guru honorer yang sudah bekerja terhitung 1 Januari 2005. Taufan mengatakan, kalau pihaknya banyak yang tidak tahu akan hal itu. Dan mereka menyebutkan informasi pemutihan sangat tertutup waktu itu.

“Terkait K1 dan K2 saya pikir tidak usah kita bahas lagi. Itu sudah berlalu. Yang menjadi perhatian kami adalah bagaimana caranya agar kami yang sudah berusia di atas 35 tahun bisa diangkat menjadi ASN. Untuk mengutarakan hal ini kami buat lembaga yang kami sebut Guru dan Tenaga Pendidik Honorer Non Kategori (GTKHNK) 35+,” katanya.

Lembaga GTKHNK 35+ini kata Taufan sebagai tempat para guru dan tenaga pendidik honorer menyampaikan aspirasi kepada pemerintah dengan harapan mendapat respon positif dengan memberikan penghargaan kepada guru dan tenaga pendidik honorer untuk diangkat menjadi ASN.

Kepada Waspada.id, Taufan menyebutkan, selama ini pihaknya telah membuat pendekatan dengan Pemerintah Kota Lhokseumawe untuk mendapatkan surat mengeluarkan rekomendasi. GTKHNK juga menjalin hubungan silahturahmi dengan DPRK, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Kemenag.

“Alhamdulillah Pak Wali Kota, Suaidi Yahya sudah mengeluarkan surat rekomendasi yang kami butuhkan. Beliau sangat serius dan mendukung penuh usaha yang sedang kami laksanakan. Surat rekomendasi tersebut sudah kami teruskan kepada Bapak Presiden, Menpan RB dan BKN,” sebut Taufan.

Kiriman surat rekomendasi itu, kata Taufan telah mendapat respon dari Pemerintah Pusat dan pemerintah meminta pihaknya untuk membentuk Panja Honorer 35+ untuk diakomodir menjadi ASN. Namun jika anggaran tidak terpenuhi diangkat sebagai ASN, para honorer itu berharap pemerintah mau mengakomodir mereka sebagai PPPK.

“Persoalan ini bukan hanya kami di Lhokseumawe yang menyuarakannya, namun seluruh guru honorer non kategori usia 35+ di Indonesia melakukan hal yang sama. Kami semua terhimpun dalam lembaga GTKHNK untuk itu bantu kami pak presiden,” pinta Taufan mewakili 250 guru dan tenaga pendidik honorer non kategori di Kota Lhokseumawe itu.  WASPADA

Maimun Asnawi, S.Hi.,M.Kom.I

 

  • Bagikan