Baitul Mal Abdya Hibah Rp 800 Juta Ke Bank Gala

Baitul Mal Abdya Hibah Rp 800 Juta Ke Bank Gala

  • Bagikan
Bupati Abdya Akmal Ibrahim SH, saat menyerahkan dana pinjaman Bank Gala secara simbolis, kepada salah seorang petani, dalam acara launching Bank Gala dan penyerahan ZIS. Bertempat di aula Masjid Agung Baitul Ghafur, Blangpidie, Kamis (10/12). Baitul Mal Abdya hibah Rp 800 Juta ke Bank Gala. Waspada/Syafrizal
Bupati Abdya Akmal Ibrahim SH, saat menyerahkan dana pinjaman Bank Gala secara simbolis, kepada salah seorang petani, dalam acara launching Bank Gala dan penyerahan ZIS. Bertempat di aula Masjid Agung Baitul Ghafur, Blangpidie, Kamis (10/12). Baitul Mal Abdya hibah Rp 800 Juta ke Bank Gala. Waspada/Syafrizal

BLANGPIDIE (Waspada): Baitul Mal Aceh Barat Daya (Abdya), Kamis (10/20), mengucurkan anggaran dalam bentuk hibah sebesar Rp800 juta, kepada Baitul Qirath Gala Muamalah, di ‘Nanggroe Breuh Sigupai’ disebut dengan Bank Gala (Bank Gadai).

Anggaran senilai Rp800 juta yang dihibahkan Baitul Mal Abdya ke Bank Gala tersebut, digunakan untuk membantu petani miskin yang terjerat gadai atau gala sawah pada pihak lain, dalam mendukung kegiatan pertanian. Dana yang dihibahkan Baitul Mal itu, adalah sebagai dana guna membantu petani miskin di daerah setempat, agar dapat mengambil pinjaman tanpa bunga, melalui Bank Gala.

Dalam acara penyerahan dana hibah dari Baaitul Mal ke Bank Gala, bertempat di aula Mesjd Agung Baitul Ghafur hari itu, Bupati Abdya, Akmal Ibrahim dalam sambutannya mengatakan, adat gala sawah yang selama ini berjalan di tengah masyarakat, telah jauh dari nilai ajaran Agama Islam. Selama ini sawah yang telah digadai oleh pemiliknya, akan dikerjakan oleh pemegang gadai, tanpa memberi hak sedikitpun kepada pemilik sawah.

Saat telah jatuh tempo masa pengembalian sawah (tebus gadai), uang gala yang diterima pemilik sawah pada masa itu, harus dikembalikan utuh kepada si pemegang gala, yang selama ini telah berkali-kali mengambil untung.

Menurut Bupati Akmal, kondisi itu cukup berbeda dengan manajemen Bank Gala. Selain tanpa bunga dari pinjaman yang diambil petani, sawah yang sudah digadaikan ke Bank Gala bisa dikerjakan oleh pemilik sawah atau petani itu sendiri, dengan catatan setiap panen petani bisa menyicil pinjaman, sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati antara pihak Bank Gala dengan petani.

“Jika gagal panen, bisa membayar pada hasil panen berikutnya. Intinya, kita tidak menyita asset, namun hanya meminta keseriusan petani saja, agar menyicil pada saat hasil panen tiba dan tepat waktu,” ungkapnya.

Mirisnya lagi lanjut Bupati Akmal, banyak petani pemilik sawah, harus menjual sawah mereka karena tidak sanggup menebus gala kepada si pemegang gadai. “Makanya kami wujudkan visi dan misi ini, pada tiga tahun masa pemerintahan kami untuk menciptakan Bank Gala. Alhamdulillah, sudah mulai berjalan mulai hari ini,” ungkapnya.

Menurut Bupati Akmal, selama ini Bank Gala belum bisa beroperasi dikarenakan, harus dikaji lebih jeli agar tidak menabrak aturan yang berlaku. Meski agak terlambat katanya, upaya menghadirkan Bank Gala untuk petani miskin Abdya berhasil dilakukan, walaupun tidak bisa menggunakan uang daerah, tapi melalui dana hibah dari Baitul Mal.

“Jika tahap awal Bank Gala sukses, kita akan terus mengevaluasi, hingga memberikan tambahan modal yang lebih banyak ke depannya,” katanya.

Acara penyerahan hibah, sekaligus launching Bank Gala, serta penyaluran Zakat, Infaq dan Shodaqah hari itu, Bupati Akmal juga menambahkan, Bank Gala ini bukan dihitung berapa tahun batas waktu pengambilan. Namun dihitung sesuai perjanjian dengan petani, berapa kali panen sanggup mereka melunasi pinjaman kepada Bank Gala.

“Tergantung nanti, apa tiga kali panen, lima kali atau seterusnya. Tahap awal, Bank Gala hanya memberikan pinjaman maksimal sebesar Rp 10 juta, dengan syarat dan ketentuan yang berlaku,” sebutnya.

Sementara itu, Direktur Bank Gala Harmansyah menyebutkan, saat ini pihaknya sudah menerima 22 petani yang mendaftar. Dari jumlah tersebut, hanya dua yang lulus verifikasi dan memenuhi syarat, untuk menerima dan secara simbolis sudah diserahkan oleh Bupati Abdya dalam acara hari ini.

Mereka yang belum lulus verifikasi, harus melengkapi lagi syarat yang sudah ditentukan. “Yang paling penting, sawah atas nama milik perorangan bukan kelompok atau lainnya. Syarat lain, harus dibuktikan dengan surat keterangan miskin dari kepala desa, surat keterangan lahan dari Keujrun Blang (ketua adat sawah) di wilayahnya,” urai Harmansyah.(b21)

 

 

  • Bagikan