Antara Kemegahan Bangunan Islamic Centre Lhokseumawe Dengan Toilet Dan Tempat Wudhuknya

  • Bagikan
Tampak dari luar bangunan Masjid Agung Islamic Centre Kota Lhokseumawe gagah dan megah serta asri. Kondisi ini berbanding terbalik dengan pemandangan di toilet dan tempat wudhuk ICL tersebut yang kumal, kumuh, dan jorok. Waspada/Maimun Asnawi
Tampak dari luar bangunan Masjid Agung Islamic Centre Kota Lhokseumawe gagah dan megah serta asri. Kondisi ini berbanding terbalik dengan pemandangan di toilet dan tempat wudhuk ICL tersebut yang kumal, kumuh, dan jorok. Waspada/Maimun Asnawi

KEINDAHAN bangunan Islamic Centre Lhokseumawe mampu memikat setiap mata pengunjung. Mereka akan terpukau dengan keindahan bangunan yang dibangun dengan nuansa timur tengah. Bangunan yang memiliki luas 16.475 M2 saat ini telah menjadi ikon kota bekas Petro Dolar itu.

Pilar-pilar dan dinding Masjid Agung Islamic Centre Lhokseumawe didominiasi dengan perpaduan warna putih dan kuning keemasan serta dengan kubah-kubah yang menjulang tinggi ke angkasa menambah kegagahan bangunan tersebut.

Bangunan Islamic Centre Lhokseumawe (ICL) dibangun dengan tiga lantai. Dua lantai diantaranya diperuntukkan untuk areal shalat dengan daya tampung lebih kurang 6000 jama;ah untuk lantai satu dan 3000-an jama’ah di lantai dua. Masjid ini memiliki lantai basment.

Tidak hanya itu, ICL juga dilengkapi bangunan perpustakaan yang dibangun di areal seluas 3662 M2 dengann kapasitas 250 pengunjung. Perpustakaan itu sengaja dibangun sebagai penyedia buku-buku referensi untuk para peneliti atau kaum intelektual dan mahasiswa. ICL juga memiliki wisma dengan dua lantai yang dilengkapi 10 kamar tidur yang berkapasitas 2 orang per kamar.

Wisma tersebut sengaja dibuat untuk menampung para tamu dalam kegiatan dakwah di Kota Lhokseumawe. Selanjutnya terdapat Madrasah Diniyah dengan 12 ruang belajar dan dilengkapi dengan dua unit ruang laboratorium dan satu ruang perpustakaan. Madrasah Diniyah tersebut memiliki daya tampung mencapai 368 siswa. Dan ICL memiliki berbagai fasilitas lainnya.

Kalau dilihat dari luar, Masjid Agung Islamic Centre Lhokseumawe ini mampu menghipnotis semua pengunjung. Betapa tidak, halaman ICL baik dari sisi depan dan belakang maupun dari sisi kiri dan kanan dipenuhi dengan rerumputan yang telihat menghijau dan terbilang cukup bersih, ditambah dengan berbagai tumbuhan yang memanjakan mata.

Sebagian warga Kota Lhokseumawe setiap malam bersama keluarganya masing-masing sengaja datang ke halaman ICL dengan menggelar tikar untuk duduk bersantai bersama keluarga. ICL sudah menjadi destinasi wisata religius di kota itu, apalagi halaman masjid tersebut berdampingan dengan lapangan Hiraq Kota Lhokseumawe. Pemandangan ini akan semakin ramai pada malam Sabtu dan Minggu.

Namun tidak sedikit masyarakat Kota Lhokseumawe dan para warga dari luar kota itu yang mengaku kecewa ketika mengetahui tempat wudhuk dan toilet Masjid Agung Islamic Centre tersebut sangat kumuh dan jorok. Kondisinya sangat tidak terurus ditambah lagi air yang digunakan untuk berwudhuk terasa asin.

Antara Kemegahan Bangunan Islamic Centre Lhokseumawe Dengan Toilet Dan Tempat Wudhuknya

Toilet dan tempat kecing pria dalam kondisi buruk karena tidak dilengkapi dengan push kran urinoir, dan sebagian push kran tidak memiliki air. Akibatnya, tidak jarang para jamah menggerutu karena setelah kencing tidak bisa mencuci dan terpaksa keluar dari tempat tersebut untuk mencari sumber air. “Kiban masjid nyoe, na kran tapi hanya ie. Nyoe kiban cara iek kalheuh tatoeh tapi hapat tarah (bagaimana masjid ini,krannya ada tapi tidak ada airnya. Ini bagaimana lagi, sudah kencing tapi tidak tahu harus cuci di mana). Sebenarnya kita tidak tega mengatakan toilet dan WC masjid yang telah menjadi ikon Kota Lhokseumawe ini jorok, tapi kenyataannya memang jorok dan kotor,” kata beberapa pengunjung yang hendak shalat di ICL yang kebetulan berjumpa dengan Waspada beberapa waktu lalu.

Bukan hanya tempat kecing, nyaris semua WC di ICL dalam kondisi rusak; pintunya rusak, closetnya rusak, tidak ada tempat tampungan air dan terlihat kotor, kumal serta sedikit seram. “Padahal, dalam hadis riwayat Muslim disebutkan, agama (islam) dibangun dengan berasaskan kebersihan. Pemandangan di tempat wudhuk, tempat kecing pria dan WC di ICL ini jauh dari kata bersih. Pemandangan ini sangat bertolak belakang dari tampak luar bangunan yang indah dan mengah. Bahkan dari luar halaman masjid terlihat apik, bersih, indah dan cukup asri,” kata salah seorang pengnjung lainnya kepada Waspada.

Jika kebersihan dan kesucian tenpat wudhuk tidak diperhatikan, maka akan membuat para jama’ah ragu dengan kesucian tempat shalat. Persoalan ini harus menjadi perhatian Penjabat Walikota Lhokseumawe. Mengingat, pengelolaan ICL saat dini berada di bawah Dinas Syari’at Islam dalam bentuk UPTD.

“Kondisi ini akan membuat citra Kota Lhokseumawe buruk di mata warga dan bahkan warga di luar Kota Lhokseumawe yang terpikat dengan kemegahan ICL dari luar dan kecewa setelah masuk ke dalam basement,” kata sumber lainnya, seraya menambahkan, kondisi ini menggambarkan, Pj Wali Kota Lhokseumawe tidak becus dalam mengelola kota itu.

Antara Kemegahan Bangunan Islamic Centre Lhokseumawe Dengan Toilet Dan Tempat Wudhuknya

Untuk mengahadirkan berita yang berimbang, Waspada mencoba mengkonfirmasi Plt. Kepala Dinas Syari’at Islam Kota Lhokseumawe, Tengku Ikhwansyah yang notabene juga merupakan seorang khatib di sejumlah masjid dalam wilaha kota itu, termasuk di ICL via telepan.

Dari ujung telepon Ikhwansyah membenarkan bahkan kondisi toilet baik tempat kecing pria maupun WC banyak yang rusak. Untuk kebersihan, kata dia, ini menjadi persoalan yang ribet, karena ICL merupakan masjid yang tergolong besar dan luas. Sehingga dengan jumlah tenaga kebersihan yang jumlahnya sedikit tidak mampu mengatasi persoalan ini.

Ikhwansyah juga membenarkan bahwa ICL saat ini telah menjadi UPTD dan berada di bawah Dinas Syari’at Islam Kota Lhokseumawe. Dengan menjadi UPTD, kata dia, maka Pemerintah Kota Lhokseumawe telah menyiapkan anggaran rutin operasional masjid tersebut, mulai untuk pengamanan, tenaga kebersihan dan berbagai kebutuhan lainnya. Namun Ikhwan mengatakan tidak ingat berapa jumlah anggaran tersebut.

“Saya sudah menjelaskan di telepon, kalau wawancara terkait persoalan ini sebaiknya datang saja ke kantor, nanti akan saya perlihatkan datanya,” sebut Ikhansyah yang dikonfirmasi Waspada via telepon, Rabu (12/6) sore.

Selain tersedia anggaran dari Pemerintah Kota Lhokseumawe, pengelolaan dan operasional masjid tersebut juga menggunakan dana ummat. Namun Ikhwansyah mengaku tidak mengetahui jumlahnya. “Pak Maimun datang saja ke kantor, nanti akan saya terangkan panjanglebar tentang persoalan ini. Dan memang benar kalau kondisi tempat wudhuk, tempat kencing pria dan WC dalam konsisi kurang baik,” demikian Ikhwansyah kepada Waspada. WASPADA.id/Maimun Asnawi, S.Hi.,M.Kom.I


Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.

Antara Kemegahan Bangunan Islamic Centre Lhokseumawe Dengan Toilet Dan Tempat Wudhuknya

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *