“Allah Itu Satu Dalam Hitungan Dan Satu Pula Dalam Bilangan” - Waspada

“Allah Itu Satu Dalam Hitungan Dan Satu Pula Dalam Bilangan”

- Aceh
  • Bagikan

TENGKU H. Abdul Manan yang akrab disapa Abu Blang Jruen merupakan ‘ulama kharismatik Aceh. Beliau juga merupakan Ketua Majelis Permasyawaratan ‘Ulama (MPU) Kabupaten Aceh Utara. Minggu (21/11) pagi, Abu Manan, di Masjid Murtadha Simpang Mulieng, Kecamatan Syamtalira Aron, di hadapan 466 peserta kegiatan Muzakarah Masalah Keagamaan Kabupaten Aceh Utara Tahun 2021memberikan materi penting tentang hakikat keimanan kepada Allah Swt.

Kata Abu, rukun iman yang paling mendasar dalam Islam adalah keimanan kepada Allah Swt. Allah merupakan pencipta seluruh makhluk dan Allah Swt menanggung segala kebutuhan makhluk baik yang terlihat secara kasat mata maupun secara bathiniyah yang mencakup segala nikmat, rahmat, dan hidayah.

Itu merupakan keimanan yang paling pokok, maka sebagai makhluk ciptaan-Nya, kita wajib mengenal-Nya dengan sebenar-benar kenal, mengetahui eksistensi ketuhanan-Nya dan mengetahui ketentuan-ketentuan-Nya,

“Keimanan kepada Allah Swt merupakan aqidah yang paling dasar. Aqidah itu adalah keyakinan yang pasti dan keputusan yang mu’tamad. Tidak bercampur dengan karaguan. Aqidah itu adalah keimanan yang teguh tanpa disertai keraguan di dalam hati. Dan ini adalah kunci diterimanya amalan,” sebut Abu Manan di Masjid Murtadha kemarin.

Sejalan dengan apa yang disampaikannya itu, Abu Manan membacakan QS Al Kahfi ayat 110 yang artinya, Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya hendaklah dia beramal shalih dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya dalam beribadah kepada-Nya.

“Itu artinya, amalan tidak akan diterima apabila tercampuri dengan kesyirikan. Karena inilah, para rasul sangat memperhatikan perbaikan aqidah sebagai prioritas pertama dalam dakwah mereka. Para rasul menyerukan kepada kaum mereka untuk menyembah kepada Allah saja dan tidak menyembah kepada selain Allah.”

Pelan-pelan dan terdengar dengan sangat hati-hati, Abu Manan terus mengupas persoalan ketuhanan pada kegiatan muzakarah tersebut. Di 466 peserta muzakarah yang berasal dari 12 kecamatan yaitu Lhoksukon, Meurah Mulia, Syamtalira Aron, Tanah Pasir, Nibong, Matangkuli, Lapang, Pirak Timu, Paya Bakong, Samudera, dan Kecamatan Syamtalira Bayu, Abu meneruskan materinya.

Kata Abu, keimanan kepada Allah Swt yaitu meyakini semua yang ada pada Allah Swt dan meyakini semua yang tidak ada bagi Allah Swt. Semua kita wajib mengisbatkan ada pada Allah karena memang Allah Swt itu ada. Kita juga wajib mengisbatkan sesuatu yang tidak ada bagi Allah, seperti syirik dan anak, karena memang syirik dan anak tidak ada pada Allah Swt.

“Ini adalah persoalan tauhid. Tauhid itu adalah mengesakan Allah sebagai zat wajib wujud. Allah Swt itu adalah Ahad. Artinya, satu dalam hitungan dan satu dalam bilangan. Kemudian, tauhid pada Allah Swt tidak hanya membicarakan tentang Zat, tetapi mencakup tentang sifat dan Af’al,” terang Abu Manan.

Semua kita, sebut Abu, harus dengan penuh keyakinan mengesakan Allah Swt, bahwa Zat Allah Swt itu tunggal, bukan dua, tiga an seterusnya. Zat Allah Swt juga tidak terdiri dari anggota atau bagian, seperti tangan, kaki, wajah, dan sebagainya. Zat Allah Swt itu tidak serupa dengan makhluk.

“Tidak ada sesuatu pun serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat,” ucap Abu membacakan QS Asyura ayat 11.

Jika demikian, kata Abu, ketidakserupaan Zat Allah Swt menunjukkan pada kekekalan, tiada awal dan akhir. Makhluk itu ada awal dan akhirnya, serta terjadi perubahan pada manusia dari tiada menjadi ada, dari kecil menjadi tua, kemudian binasa. Atau dari hidup menjadi mati, dan dihidupkan kembali untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan mereka pada hari akhir.

“Zat Allah Swt itu merupakan satu perwujudan yang berdiri sendiri tanpa adanya ketergantungan pada zat yang lain. Kalau manusia membutuhkan Allah Swt untuk bisa hidup. Alam, malaikat, jin, dan manusia itu tercipta karena adanya akibat dari adanya Zat Allah Swt. Semua ada karena Zat yang maha Qadim. Perlu kita ketahui semua, bahwa Zat Allah Swt memiliki sifat-sifat yaitu sifat yang wajib, sifat yang mustahil bagi Allah, dan sifat yang Jaiz pada Zat Allah Swt,” terang Abu H Abdul Manan.

Lebih rinci, Abu Manan menjelaskan tentang tauhid terhadap sifat Allah. Kata Abu, Allah Swt memiliki sifat yang tidak bisa disifati oleh makhluk. Artinya, tidak ada satupun dari makhluk yang dapat menyamai dengan sifat Allah karena sifat Allah mengandung unsur Ahad (keesaan). Itu artinya, tidak ada syarikat atau sekutu bagi-Nya.

“Sifat Qudrah Allah Swt tidak dimiliki oleh manusia. Kemampuan manusia hanya sebatas apa yang diberikan oleh Allah Swt. Allah Swt juga Ahad perbuatan-Nya. Tidak ada satu makhlukpun yang dapat menyamai bahkan menandingi perbuatan Allah Swt. Perbuatan dan kejadian pada manusia telah Allah ciptakan pada Azali. Sesuai firman-Nya yang artinya, Allah telah menciptakan dan apa saja yang engkau kerjakan,” sebut Abu H Abdul Manan.

Baru dikatakan seseorang beriman, sebut Abu, apabila seseorang beriktiqat bahwa Allah Swt yang menciptakan makhluk dan Allah pula yang menciptakan perbuatan makhluk. Namun apabila seseorang beriktiqat bahwa Allah Swt yang menciptakan makhluk, sedangkan perbuatan mahkluk tidak dicipkan oleh Allah, namun makhluk itu sendiri yang menciptakannya, maka seseorang tersebut telah menjadi kafir.

Sebelum mengakhir materinya tentang hakikat keimanan kepada Allah Swt, Abu Manan sempat menjelaskan, perbuatan manusia tidak tersentuh dengan Allah Swt. Abu memberikan contoh yaitu perbuatan mencuri, itu diciptakan oleh Allah, tetapi Allah tidak melakukannya, karena perbuatan mencuri tidak tersentuh dengan Allah Swt. Yang Nampak dari perbuatan itu adalah manusia sebab manusia yang melakukannya. Allah Swt hanya menciptakannya.

Terakhir Abu Blang Jruen menyebutkan, Allah Swt memasukkan seseorang ke dalam syurga karena dia taat dan Allah Swt memasukkan orang ke dalam neraka karena maksiat. Iman seseorang sangat bernilai di sisi Allah. Nilai ibadat seukuran dengan nilai iman.

“Ketentuan Allah terhadap manusia disebut Qadar. Qadar telah ditentukan Allah pada Azali. Apakah dia kaya, miskin, bahagia, celaka, dan sebagainya. Contohnya, Allah telah mentakdirkan seseorang kaya pada masa Azali maka usaha dan doa yang dilakukan di dunia merupakan perbuatan yang menghubungkan pada Qadarullah pada Azali,” demikian Ketua MPU Aceh Utara dalam menyampaikan materi tentang hakikat keimanan kepada Allah Swt pada acara Muzakarah Masalah Keagamaan Kabupaten Aceh Utara.

Materi ini juga disampaikan Abu Manan di dua masjid lainnya yaitu Masjid Baitul Mukhlisin di Sampoinit, Kecamatan Baktya Barat, Senin (22/11). Kemudian, hal sama juga disampaikan di Masjid Nurul Falah Bungkaih Kecamatan Muara Batu, Selasa (23/11). Total jumlah peserta Muzakarah di tiga masjid tersebut mencapai 900 orang.

Maimun Asnawi, S,Hi.,M.Kom.I

Waspada/Maimun Asnawi

Ketua MPU Aceh Utara, Abu Manan Blang Jruen, Minggu (21/11) pagi di Masjid Murtadha Simpang Mulieng, Kecamatan Syamtalira Aron, menyampaikan materi pada kegiatan Muzakarah Masalah Keagamaan Kabupaten Aceh Utara tahun 2021.

  • Bagikan