Waspada
Waspada » Akses Kelas Maya Masih Terkendala Di Sekolah Terpencil Aceh Utara
Aceh Features

Akses Kelas Maya Masih Terkendala Di Sekolah Terpencil Aceh Utara

Murid SD Negeri-26 Lhoksukon, Aceh Utara di Gampong Grong-Grong sedang mencatat pelajaran sekolah, Kamis (22/2). Papan tulis, buku bacaan dan berbagai perangkat manual lainnya masih diandalakan untuh proses belajar di sekolah terpencil tersebut. Akses Kelas Maya Masih Terkendala Di Sekolah Terpencil Aceh Utara. Waspada/Zainal Abidin
Murid SD Negeri-26 Lhoksukon, Aceh Utara di Gampong Grong-Grong sedang mencatat pelajaran sekolah, Kamis (22/2). Papan tulis, buku bacaan dan berbagai perangkat manual lainnya masih diandalakan untuh proses belajar di sekolah terpencil tersebut. Akses Kelas Maya Masih Terkendala Di Sekolah Terpencil Aceh Utara. Waspada/Zainal Abidin

SEJAK pandemi Covid-19, belajar di internet semakin populer bagi pelajar di Aceh Utara. Namun sayangnya, anak-anak di sekolah terpencil kabupaten ini, masih sulit mengakses kelas maya untuk menyerap pelajaran sekolah, Kamis (22/2). Akibatnya, Belajar Jarak Jauh (BJJ) yang diprogramkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan-RI, belum mampu dijalankan di sana.

Rumah Belajar, merupakan portal BJJ yang dipersiapkan Kemendikbud untuk sekolah terpencil. Rumah Belajar diakses melalui jaringan internet. Ratusan sekolah yang berada di kawasan terpencil Aceh Utara, telah menyiapkan perangkat untuk kegiatan BJJ tersebut. Seperti, tablet PC, laptop dan infokus. Dalam petunjuk teknis realisasi dana BOS, perangkat tersebut juga dianjurkan.

SDN-17 Lhoksukon, salah satu sekolah terpencil yang telah lama mempersiapkan perangkat IT untuk BJJ. “Sejak tahun 2019, sudah dibeli tab (tablet PC),” jelas seorang guru. Ketika diterapkan belajar daring akibat pandemi Covid-19, perangkat tersebut sudah pernah digunakan, meskipun dalam kondisi jaringan internet terbatas. Namun sekarang, tablet PC menganggur, sekolah masih sulit mendapatkan jaringan internet.

Gedung SDN-17 berada di Gampong Lhok Kareueng, pedalaman Kecamatan Lhoksukon. Untuk mencapai sekolah itu, harus melintasi jalan berbatu tanpa aspal. Lokasi SDN-17 sekitar 11 kilometer dari Kota Lhoksukon, Ibukota Aceh Utara. “Sinyal internet di sini juga tidak lancar,” tambah guru lainnya.

Kondisi serupa juga dikeluhkan pengajar di SDN-26 Lhoksukon di Gampong Grong-Grong. Sekolah terpencil ini juga telah menyiapkan perangkat Tablet untuk mengakses BJJ. Akibat sulit mendapatkan sinyal internet, akses platform Rumah Belajar juga tidak mudah.

Para murid di sekolah terpencil, tetap aktif dengan belajar tatap muka. Mereka masih mengandalkan buku bacaan, papan tulis, dan berbagai perangkat manual lainnya. Meskipun Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, telah mencanangkan Program Belajar Jarak Jauh dengan anggaran yang tidak sedikit, namun belum bisa dinikmati anak-anak sekolah terpencil.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara Saifullah, MPd memahami kondisi sekolah terpencil. “Kita harapkan jaringan (internet) segera dapat menjangkau sekolah terpencil Aceh Utara,” sebutnya.

Sebelumnya dia juga mengakui, sekarang ini sekolah terpencil telah mendapat perhatian pemerintah melalui dana BOS. Selain untuk akses BJJ, kebutuhan lain di sekolah terpencil juga dapat memanfaatkan bantuan pemerintah pusat tersebut. WASPADA/Zainal Abidin

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2