AJI Demo Kecam Kriminalisasi Dan Pembakaran Rumah Wartawan

- Aceh
  • Bagikan

LHOKSEUMAWE (Waspada) : Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lhokseumawe melakukan aksi demo malam hari di Taman Riyadah Kec. Banda Sakti, Selasa (30/12) lalu, untuk menolak dan mengecam tindakan kriminalisasi wartawan Kab. Bireuen Bahrul Walidin dan menilai polisi tak serius mengusut tuntas kasus pembakaran rumah wartawan di Kab Aceh Tenggara Asnawi.

Aksi solidaritas jurnalis itu dilakukan guna memberi dukungan dan pembelaan terhadap jurnalis Bahrul Walidin di Kab. Bireuen, Aceh, dan jurnalis Asnawi di Aceh Tenggara serta jurnalis Nurhadi di Surabaya, Jawa Timur, jurnalis Muhammad Asrul di Palopo, Sulawesi.

Aksi tersebut dibuka dengan menyanyikan lagu “Darah Juang” diiringi petikan gitar, dilanjutkan pembacaan sinopsis “Potret Kebebasan Pers Indonesia”, puisi “Bunga dan Tembok”, dan puisi “Pena adalah Senjata”, yang juga diselingi alunan gitar.

Kemudian teatrikal “Indonesia Darurat Kebebasan Pers” diiringi musikalisasi puisi “Peringatan” dan “Puisi untuk Adik” karya Wiji Thukul.

Koordinator Aksi AJI Lhokseumawe Muhammad Agam Khalilullah mengatakan peristiwa dialami para jurnalis tersebut telah menambah daftar kasus kekerasan, kriminalisasi, dan teror menimpa insan pers di tanah air, sehingga semakin mencederai demokrasi dan mengguncang kebebasan pers.

Agam menyebutkan pihaknya mendesak Polda Aceh segera mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SPPP) terhadap kasus jurnalis Metro Aceh, Bahrul Walidin. Desakan tersebut sejalan dengan pernyataan sikap AJI Indonesia dan LBH Pers yang dikeluarkan beberapa hari lalu.

Pasalnya, Bahrul dilaporkan ke Ditreskrimsus Polda Aceh pada 24 Agustus 2020 atas dugaan pencemaran nama baik terhadap Rizayanti, pimpinan PT Imza Rizky Jaya Group sekaligus Ketua Partai Indonesia Terang. Jurnalis asal Bireuen itu dilaporkan menggunakan UU ITE, pasal 27 ayat (3), juncto pasal 45 ayat (3).
Pelaporan itu terjadi setelah Bahrul menulis berita berjudul “Rizayati Dituding Wanita Penipu Ulung” yang terbit di metroaceh.com pada 20 Agustus 2020. Berita tersebut mengungkap tentang dugaan Rizayati melakukan penipuan uang terhadap ratusan orang.

Dewan Pers telah menangani sengketa pemberitaan itu dengan menerbitkan Pernyataan Penilaian dan Rekomendasi (PPR) Nomor 41/PPR-DP/X/2020. Bahrul dan medianya juga telah melaksanakan rekomendasi Dewan Pers.

Namun, pada Selasa (28/09/2021), Bahrul justru menerima surat pemanggilan pemeriksaan melalui WhatsApp dari penyidik Ditreskrimsus Polda Aceh. Dari surat pemanggilan tersebut, diketahui kasus Bahrul telah dinaikkan dari penyelidikan menjadi penyidikan pada 26 Agustus 2021.

Selanjutnya mendesak Dewan Pers segera membentuk Satuan Tugas Anti-Kekerasan terhadap jurnalis Bahrul untuk mengawal penghentian kasus kriminalisasi tersebut. Dewan Pers harus aktif melakukan monitoring atas implementasi MoU antara Kapolri dan Dewan Pers. Dewan Pers juga harus proaktif mendesak Polri untuk menghentikan kasus-kasus pemidanaan karya jurnalistik.

Kemudian tentang kasus teror yang dialami Asnawi, jurnalis Kab. Aceh Tenggara yang rumahnya di Desa Lawe Loning Aman, Kecamatan Lawe Sigala-gala, Aceh Tenggara, hangus dalam kebakaran pada Selasa (30/7/2019) lalu. Hasil Laboratorium Forensik (Labfor) Mabes Polri Cabang Medan, menyatakan rumah itu bukan terbakar, melainkan dibakar.

Namun, kasus pembakaran rumah jurnalis Asnawi yang terjadi lebih dua tahun lalu itu sampai sekarang belum terungkap pelakunya. “Polda Aceh harus mengusut tuntas kasus tersebut, segera menangkap pelakunya termasuk aktor di balik kasus teror terhadap jurnalis Asnawi,” tegasnya. (b09)

Untuk memberi dukungan dan solidaritas menolak kriminalisasi wartawan, Koordinator Aksi AJI Kota Lhokseumawe M. Agam Khalilullah berorasi di taman Riyadah Jalan Merdeka Kec. Banda Sakti, Selasa (30/11) malam lalu. Waspada/Zainuddin Abdullah

  • Bagikan

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *