Waspada
Waspada » Abu Chik Diglee: Waspadai Pendangkalan Aqidah Dan Pemurtadan
Aceh Headlines

Abu Chik Diglee: Waspadai Pendangkalan Aqidah Dan Pemurtadan

Tgk Dr H Zulkarnain MA biasa disapa Abu Chik Diglee, Senin (18/1). Abu Chik Diglee: Waspadai Pendangkalan Aqidah Dan Pemurtadan.Waspada/Ist
Tgk Dr H Zulkarnain MA biasa disapa Abu Chik Diglee, Senin (18/1). Abu Chik Diglee: Waspadai Pendangkalan Aqidah Dan Pemurtadan.Waspada/Ist

LANGSA (Waspada): Akhir-akhir ini, khususnya di daerah Provinsi Aceh masyarakat diresahkan oleh beredarnya video yang mengarah kepada hal-hal yang dapat mendangkalkan aqidah, dengan mempertontonkan oknum muslim yang murtad atau konversi dari muslim ke non muslim.

“Umat Islam di Aceh harus senantiasa waspada terhadap berbagai upaya permurtadan yang dilakukan baik oleh para misionaris kristenisasi maupun aliran sesat lainnya. Dengan cara memperkuat dakwah dan memperdalam ilmu agama yang bisa diperoleh dari para ulama sehingga umat Islam memahami syari’at dengan benar,” sebut Tgk Dr H Zulkarnain MA biasa disapa Abu Chik Diglee, Senin (18/1).

Menurut Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Langsa ini, dalam ajaran Islam, menjaga dan merawat Islam pada diri umatnya adalah merupakan kewajiban bagi setiap muslim.

Apalagi, di dalam iman dan aqidah Islam, diyakini hanya Islam satu-satunya agama yang diterima di sisi Allah SWT (Surat Ali Imran ayat 19). “Bagi setiap umat Islam, telah diharamkan atas mereka perbuatan murtad atau konversi agama.”

Hal itu, lanjutnya, sesuai dengan larangan Allah SWT yang termaktub di dalam surat Ali Imran ayat 102, yang berbunyi: “Wala Tamuutunna Illa Wa Antum Muslimuun yang artinya, Janganlah kamu sekalian mati, kecuali dalam keadaan Islam”.

Kemudian di dalam surat Ali Imran ayat 85, Allah SWT berfirman, yang artinya, “siapapun yang mencari agama selain dari Islam, maka tidaklah diterima daripadanya dan dia di hari akhirat akan menjadi orang yang rugi”.

Di dalam kitab-kitab tafsir yang mu’tabar, seperti kitab tafsir al Qur’an al ‘Adzim Imam Abul Fida’ Ismail bin Katsir, “minal khaasiriin” di dalam surat Ali Imran ayat 85 itu, dimaksudkan bagi para pencari agama selain Islam, ia akan menjadi bahagian dari penghuni neraka.

Oleh karenanya, berdasarkan ayat-ayat Alqur’an di atas, umat Islam diharamkan murtad atau keluar dari agama Islam. Umat Islam yang telah murtad, di dalam ajaran Islam, jika ia tidak bertobat, yaitu kembali memeluk Islam, maka di akhirat ia akan masuk ke dalam neraka.

Upaya pemurtadan itu, menurut Abu Chik Diglee, dilakukan oleh para misionaris dengan berbagai cara yang halus dan terselubung seperti memberi bantuan sosial dan keuangan, membagikan Sembako, rentenir berkedok koperasi, memberi pelatihan atau workshop, membagi-bagikan buku dan lain sebagainya.

“Jelas, tindakan upaya pemurtadan telah melanggar hukum yang berlaku di Indonesia khususnya Qanun Syariat di Aceh yang menjamin kebebasan beragama,” tegasnya.

Selain itu, ungkap Dosen Hadist IAIN Langsa ini, dalam tatanan ketatanagaraan kita, pemerintah Republik Indonesia telah membuat sebuah regulasi yang sangat apik, yang mampu mendatangkan rasa nyaman berbagai komunitas anak bangsa yang ber-Bhineka Tunggal Ika, yaitu yang diatur di dalam Surat Keputusan Bersama Dua Menteri, Nomor 1 Tahun 1979, tentang Tatacara Pelaksanaan Penyiaran Agama dan Bantuan Luar Negeri Kepada Lembaga Keagamaan di Indonesia, khususnya Pasal 4 yang melarang dengan tegas, menyiarkan suatu agama kepada orang atau kelompok orang yang telah memiliki agama yang berbeda dengannya.

Surat Keputusan Bersama Dua Menteri itu, dikeluarkan oleh Menteri Agama pada masa itu, yaitu H. Alamsyah Ratu Prawiranegara dan Menteri Dalam Negeri era itu, yaitu H. Amir Mahmud, SKB Dua Menteri itu dikeluarkan di Jakarta pada tanggal 2 Januari 1979.

Berdasarkan SKB Dua Menteri itu, jelas tentang adanya larangan bagi orang yang tidak seagama, mengajarkan agama kepada orang atau kelompok orang yang telah beragama.

“Ini artinya, ada etika atau adab berbangsa dan bernegara yang sangat jelas, tentang penyiaran agama yang telah diatur oleh regulasi negara dalam rangka berkaitan dengan penyiaran agama bagi yang telah beragama yang tidak seagama,” tegasnya.

Oleh karenanya, diharapkan kepada semua pihak selaku anak bangsa, hendaknya memperhatikan benar dan mempedomani dengan baik, SKB Dua Menteri ini. Diharapkan kepada semua komponen anak bangsa, agar dapat dengan sungguh-sungguh mewujudkan kenyamanan beragama, dan merawat ke-Bhinekaan.

“Prinsipnya, jangan pernah mencangkul di ladang orang, tetapi mencangkullah di ladang sendiri, sepertinya masih harus terus diingatkan, agar kebersamaan, kenyamanan dan kerukunan antar ummat beragama dan antar ummat beragama dengan pemerintah dapat terus berlangsung secara mengabadi,” tandas Abu Chik Diglee.

Upaya pemurtadan itu telah membuat keresahan dalam masyarakat muslim sehingga sangat berpotensi terjadi hal-hal yang tidak diinginkan serta mengganggu kedamaian, imbuhnya.

Abu Chik Diglee berharap supaya pemerintah Aceh mampu bersikap tegas menyikapi kasus pemurtadan yang marak terjadi di Aceh selama ini dengan menindak dan memberi sanksi yang tegas kepada para pelakunya (misionaris), agar tidak terulang dan menjadi pelajaran bagi para misionaris lainnya.(b13)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2