Abu Chik Diglee: Asa Dan Nestapa Meningkatnya Kemiskinan Di Aceh
banner 325x300

Abu Chik Diglee: Asa Dan Nestapa Meningkatnya Kemiskinan Di Aceh

  • Bagikan
Dosen IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa, Dr Zulkarnain, MA biasa disapa Abu Chik Diglee. Abu Chik Diglee: Asa Dan Nestapa Meningkatnya Kemiskinan Di Aceh
Dosen IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa, Dr Zulkarnain, MA biasa disapa Abu Chik Diglee. Abu Chik Diglee: Asa Dan Nestapa Meningkatnya Kemiskinan Di Aceh

LANGSA (Waspada): Dosen IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa, Dr Zulkarnain, MA biasa disapa Abu Chik Diglee mengaku sangat pilu membaca Provinsi Aceh sebagai negeri Serambi Mekkah menjadi provinsi termiskin di Sumatera dengan angka persentasi mencapai 15,46%.

“Aceh adalah daerah subur yang memiliki banyak potensi sumber daya alam yang melimpah. Di provinsi Aceh, perkebunan sawit, sawah, ladang, tambak tambak udang dan ikan, serta potensi tambang tambang, terhampar membentang,” sebut Abu Chik Diglee yang juga Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Langsa ini.

Lanjutnya, sumber daya manusianya juga maju, terutama dari sisi pendidikan sangat signifikan, hampir di setiap jengkal tanah Aceh, berdiri sekolah, madrasah, dayah atau pesantren dan perguruan tinggi negeri maupun swasta.

Dimulai dari pesisir pantai Timur-Utara, ujung Barat dan wilayah tengah di dataran tinggi Gayo ada universitas negeri dan swasta yang menyangga pendidikan tinggi di Aceh, dan setiap perguruan tinggi di Aceh, rata rata memiliki jumlah mahasiswa yang sangat menggembirakan.

Lalu, kenapa Provinsi Aceh bisa menjadi provinsi termiskin keenam di Indonesia, dan rangking satu termiskin se Sumatera? Seperti data yang diungkapkan oleh Kepala Badan Pusat Statistik Aceh, Ihsanurrijal yang di berbagai media.

Diutarakan, angka kemiskinan di Aceh mengalami kenaikan yang fantastis dalam kurun waktu kurang lebih tujuh bulan saja. Kini angka kemiskinan di Aceh menjadi 15,43 persen. Pada bulan Maret tahun 2020, masyarakat miskin di Aceh berjumlah 814.910 orang.

“Terhitung sejak bulan September tahun 2020, masyarakat Aceh yang miskin menjadi 833.910 orang, ada kenaikan jumlah orang miskin di Aceh sebanyak 19 ribu orang imbas dari pandemi Covid 19 yang mendera negara Indonesia saat ini,” ujarnya.

Apalagi, Aceh provinsi modal bagi NKRI, penyumbang emas dan pesawat terbang, namun hari ini Provinsi Aceh bak kata pepatah “Manok mate lam eumpang breuh“. Pada saat seekor ayam mati di tempat yang berlebih makanan, maka ada beberapa analisis kemungkinan yang dapat diajukan, terhadap peningkatan kemiskinan yang terjadi di Aceh.

Pertama, bisa jadi provinsi Aceh sedang “peulemah gasen peusom kaya“. Artinya Provinsi Aceh sedang memainkan trik strategisnya, yaitu memperlihatkan kemiskinannya, dengan cara menyembunyikan kekayaan yang dimilikinya, agar kekayaan provinsi Aceh tidak ‘beralih tangan’ dan ‘bergeser,’ sehingga masyarakat Aceh sang pemilik sah kekayaan Aceh, lebih bisa menikmati apa yang memang selayaknya mereka nikmati.

Kedua, kemungkinan telah terjadi pergeseran nilai-nilai tentang mensikapi kehidupan, dari kebiasaan untuk memenuhi kebutuhan hidup, menjadi kebiasaan untuk memenuhi gaya hidup. Ketiga, etos kerja yang menurun karena menjamurnya tempat-tempat santai, sehingga banyak yang kehilangan etos kerja keras, kreativitas dan terjebak kepada pola hidup hedonistik.

Keempat, faktor pandemi Covid 19 yang membuat banyak orang kehilangan lapangan pekerjaan. Kelima, patut diduga ada salah kelola kucuran dana yang besar dari dana bagi hasil otonomi khusus di Aceh, yang telah berlangsung lama, mengingat jumlah APBA begitu besar angkanya.

Keenam, bisa jadi kurangnya keberpihakan pengampu kekuasaan terhadap masyarakat akar rumput, dalam bentuk ‘kail’ dan ‘skill’ yang proporsional. Ketujuh, barangkali banyak program yang realisasinya tidak atau kurang tepat sasaran. Kedelapan, perencanaan yang tidak berbasis data kebutuhan, melainkan barangkali lebih mengedepankan kepentingan dan keuntungan sepihak.

Kesepuluh, boleh jadi juga ada nuansa tertentu, yang sedang menggiring Provinsi Aceh, sebagai provinsi termiskin se Sumatera, sehingga dapat melahirkan kesan, bahwa syari’at Islam yang diterapkan di Aceh telah ‘gagal’ membangun karakter kreatif dan kerja keras pada ummatnya, padahal Islam sendiri mengajarkan “Yaddul ‘ulya khairun min yaddil suflaa” Artinya, tangan yang di atas, lebih baik dari tangan yang di bawah.

Provinsi Aceh memiliki karakter dan tradisi memberi, bukan menerima. Oleh karenanya, perlu pencermatan yang serius, menyangkut dengan meningkatnya angka kemiskinan di provinsi Aceh. Manakah diantara sepuluh faktor di atas yang paling dominan?

“Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu adanya kajian yang lebih intens. Dari sisi theologis, Allah SWT telah memberikan taujihat (arahan) yang jelas (al Qashas ayat 77) berkaitan dengan bagaimana umat Islam harus menata dirinya, agar benar dalam menyikapi kehidupan,” tandas Abu Chik Diglee lirih.(b13)

Headshoot

  • Bagikan