Abdya Bebas Dari Wabah PMK

- Aceh
  • Bagikan

BLANGPIDIE (Waspada): Hingga saat ini, wilayah Aceh Barat Daya (Abdya), bahkan sepanjang Pantai Barat Selatan Aceh (Barsela), mulai dari Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Abdya, Aceh Selatan, Subulussalam dan Aceh Singkil, masih bebas dan aman dari wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), yang menimpa ternak-ternak, sebagaimana terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten/Kota lainnya di Provinsi Aceh.

Hal itu ditegaskan Laili Suheri SP, Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) Abdya Jum’at (20/5) lalu. Ditemui diruang kerjanya, pihaknya mengatakan, amannya daerah ‘Breuh Sigupai’ khususnya dari wabah PMK diketahui dari hasil pemeriksaan ke lapangan langsung, yang dilakukan pihaknya setiap hari, sejak beberapa minggu lalu.

Dimana katanya, pemeriksaan yang dilakukan timnya, melibatkan sejumlah petugas peternakan, penyuluh, dokter hewan, juga personil polisi jajaran Polres Abdya, bersifat pemeriksaan menyeluruh untuk semua titik peternakan yang ada di Abdya, mulai dari Kecamatan Babah Rot, Kuala Batee, Jeumpa, Susoh, Blangpidie, Setia, Tangan-Tangan, Manggeng, hingga Kecamatan Lembah Sabil. “Tercatat, ada sekitar 1600 lebih ternak milik warga dan pedagang, sudah kami periksa. Hasilnya negative. Seribuan lebih ternak dimaksud dalam kondisi sehat,” ungkap Laili Suheri.

Meskipun demikian, Laili Suheri mengaku, pihaknya terus melakukan pemantauan di lapangan, dengan menyiagakan petugas kesehatan hewan dan peternakan, di setiap wilayah Kecamatan. Setiap hari katanya, laporan terkait perkembangan kondisi ternak hasil pemeriksaan selalu dihimpun, guna memastikan PMK tidak masuk ke wilayah Abdya.

Berdasarkan informasi dari instansi terkait, yang berada dalam wilayah Barsela, kasus PMK belum ditemukan di wilayah Barsela. Akan tetapi katanya, kewaspadaan petugas dilapangan dalam upaya pencegahan, terus ditingkatkan, guna meminimalisir penyebaran virus dimaksud. “Upaya pencegahan dan antisipasi terus kami tingkatkan. Mengingat, sebantar lagi hari raya Idul Adha, yang sering kita sebut hari raya qurban. Momen itu kebutuhan hewan ternak untuk qurban sangat tinggi. Dipastikan banyak pasokan hewan ternak dari luar daerah. Ini sudah kami waspadai sejak awal, dengan memantau ke semua titik keberadaan ternak, serta memantau lalulintas hewan ternak,” urainya.

Laili Suheri juga menjelaskan, PMK merupakan penyakit infeksi virus, yang bersifat akut dan sangat menular pada hewan berkuku belah, seperti sapi, kerbau, kambing dan domba. Tingkat penularan pada hewan sangat tinggi, mencapai 90-100 persen dan tingkat kematian tinggi pada ternak muda atau anakan.

Virus PMK banyak terdapat pada darah, air liur dan jeroan hewan yang sakit. Virus ini berpotensi menularkan ke hewan yang peka lainnya, melalui air cucian jeroan dan potongan sisa jeroan yang dibuang sebagai sampah, yang mungkin menular ke hewan peka lain yang memakannya.

Dalam kesempatan itu, Laili Suheri juga menyebutkan, meskipu tingkat penularan dan kematian sangat tinggi akibat wabah PMK tersebut, namun dipastikan PMK tidak menular kepada manusia. Sehingga masyarakat tetap aman, dalam mengkonsumsi daging. “PMK ternak tidak menular atau menginfeksi manusia atau tidak bersifat zoonosis. Masyarakat tidak perlu panik dan khawatir dalam mengonsumsi daging dan susu, asal diolah atau dimasak dengan benar,” katanya.(b21)

Teks foto : Laili Suheri SP, Kepala Bidang Peternakan Distanpan Abdya. Waspada/Syafrizal

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.