Waspada
Waspada » 8 Tahun Kepemimpinan UMARA: Goresan Tinta Emas Tak Bertepi
Aceh Features

8 Tahun Kepemimpinan UMARA: Goresan Tinta Emas Tak Bertepi

Wali Kota Langsa, Usman Abdullah, SE dan Wakil Wali Kota Langsa, Dr. H. Marzuki Hamid, MM. 8 Tahun Kepemimpinan UMARA: Goresan Tinta Emas Tak Bertepi. Waspada/Ist
Wali Kota Langsa, Usman Abdullah, SE dan Wakil Wali Kota Langsa, Dr. H. Marzuki Hamid, MM. 8 Tahun Kepemimpinan UMARA: Goresan Tinta Emas Tak Bertepi. Waspada/Ist

LANGSA, sebuah kota kecil di ujung Timur Provinsi Aceh yang posisinya diapit dua kabupaten yakni Aceh Timur dan Aceh Tamiang. Sebagai kota kecil yang baru memisahkan diri dari kabupaten induknya, Aceh Timur, pertumbuhan ekonomi Kota Langsa yang saat itu berstatus Kota Administratif sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 1991 tentang Pembentukan Kota Administratif Langsa masih belum banyak bergeliat.

Hingga akhirnya, Kota Administratif Langsa diangkat statusnya menjadi Kota Langsa berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 tanggal 21 Juni 2001 dan pada tanggal 17 Oktober 2001 ditetapkan sebagai hari lahirnya Kota Langsa.

Sementara Langsa, dikenal sekarang berasal dari turunan kata ‘Langsar’ yang bernotasi bahwa pasukan angsa jauh lebih besar (angsar) dari pasukan elang. Mengenang peristiwa itu maka penggunaan kata elang dikisahkan lebih dulu dinobatkan sebagai kata ‘lang’ dan ‘angsa’ sebagai pemilik toleransi tetapi memiliki pasukan yang besar dinobatkan sebagai kata ‘sar’. Di mana perpaduan dari dua kata telah dijadikan simbol bagi perdamaian dan penobatan pusat pemerintahan yaitu ‘Langsa’ yang sekarang dikenal dengan istilah ‘Langsa’.

Sejak berdiri, Kota Langsa memiliki tujuh Wali Kota dan dua Wakil Wali Kota Langsa, yakni Azhari Aziz, SH, MM (periode 2001 – Maret 2005), Alm Drs. H. Muhammad Yusuf Yahya (periode Maret – Desember 2005), Drs. Muchtar Ahmady, MBA (periode Desember 2005 – Maret 2007), Drs. Zulkifli Zainon, MM dan Drs. Saifuddin Razali, MM, M.Pd (periode Maret 2007 – Maret 2012), Pj. Walikota Drs. H. Bustami Usman, SH, M.Si, (periode Maret – Agustus 2012), Usman Abdullah, SE dan Dr. H. Marzuki Hamid, MM (periode Agustus 2012 – Agustus 2017), Plt. Walikota Kamaruddin Andalah, S.Sos, M.Si, (periode Oktober 2016 – Februari 2017) dan terakhir Usman Abdullah, SE dan Dr. H. Marzuki Hamid, MM (periode Agustus 2017 sampai saat ini).

Kemunculan Usman Abdullah, yang memenangkan Pilkada pertama periode tahun 2012-2017 bersama pasangannya Marzuki Hamid mengusung slogan pasangan UMARA (Usman Abdullah-Marzuki Hamid) terbilang fenomenal. Sejak dilantik tahun 2012, UMARA merubah mainset warga Langsa yang dikenal multietnis dengan konsep penegakan Syariat Islam dengan melarang permainan musik organ tunggal (keyboard) pada malam hari, menindak para pelaku pelanggaran Syariat Islam dan mewajibkan Aparatur Sipil Negara (ASN) mengikuti safari subuh.

Konsep itupun sukses gemilang di awal-awal kepimpinan UMARA, meskipun mendapat berbagai kritikan dari sejumlah tokoh dan masyarakat. Hingga akhirnya, pelanggaran Syariat Islam dapat diminimalisir dan Kota Langsa menabalkan diri menjadi kota berperadaban dan Islami.

Tangan dingin usungan UMARA pun tak sampai di situ, berbagai catatan tinta emas mereka lahirkan untuk melukis wajah Kota Langsa menjadi kota jasa berperadaban dan Islami. Terlebih lagi, kemunculan dua Perguruan Tinggi Negeri di Kota Langsa, Universitas Samudra dan IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa menambah khasanah Kota Langsa menjadi kota pendidikan.

Selanjutnya, bayi bernama Kota Langsa itupun semakin bergeliat dengan dibangunnya Rumah Sakit Regional untuk memberikan pelayanan kesehatan yang maksimal bagi masyarakat, meskipun proyek pembangunan proyek multiyears rumah sakit regional tersebut masih berlangsung hingga saat ini.

Bak melukis di kain kanvas, UMARA pun terus membuat warna-warna di setiap sudut kota, menyulap wajah Kota Langsa yang sebelumnya terkesan kumuh menjadi indah. Kini jalan protokol dihiasi dengan gemerlap lampu hias di setiap sudut dan taman-taman kota.

Destinasi hutan kota Langsa menjadi objek wisata andalan Kota Langsa. 8 Tahun Kepemimpinan UMARA: Goresan Tinta Emas Tak Bertepi. Waspada/ist
Destinasi hutan kota Langsa menjadi objek wisata andalan Kota Langsa. 8 Tahun Kepemimpinan UMARA: Goresan Tinta Emas Tak Bertepi. Waspada/ist

Kehadiran taman-taman kecil, buah karya dari pasangan UMARA menambah kesejukan wajah Kota Langsa menjadi tolok ukur kota jasa ini meraih piala Adipura pertama tahun 2016 yang diserahkan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla kepada Wali Kota Langsa Usman Abdullah SE di Istana Siak, Kabupaten Siak Provinsi Riau Pekanbaru.

Begitu juga dalam pengelolaan keuangan daerah, meraih Penghargaan Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksaan Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) atas keberhasilan menyusun dan menyajikan laporan keuangan selama delapan tahun berturut-turut dan meraih Anugerah Pesona Indonesia (API) 2019 kategori Ekowisata Terpopuler Manggrove Forest Park yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Demi menggapai kota impian sebagai kota jasa yang berperadaban dan Islami, UMARA pun kembali menyulap hutan mangrove di kawasan Kuala Langsa dan kawasan hutan kota menjadi destinasi wisata. Bahkan kini kedua destinasi wisata itu mulai bergeliat dan menjadi sumber pendapatan daerah, karena destinasi tersebut sudah dikenal warga Sumatera Utara dan Aceh.

Namun sekian banyak goresan tinta emas UMARA, tentunya masih banyak persoalan-persoalan yang dihadapi pasangan UMARA yang belum terselesaikan dan menjadi pekerjaan rumah di sisa masa jabatan kepemimpinan mereka, terutama mengentaskan kemiskinan dampak dari Pandemi Virus Covid 19 yang merusak sendi-sendi perekonominan warga.

Wakil Wali Kota Langsa, Dr Marzuki Hamid, MM dalam bincang-bincang bersama penulis, Minggu (31/1) malam mengakui, di awal-awal kepimpinan, mereka menghadapi 13 permasalahan besar yang saat itu harus segera ditangani UMARA dengan cepat melihat aspek sosial masyarakat Kota Langsa saat itu.

Ke 13 permasalahan itu, persoalan penegakan Syariat Islam, melakukan desentralisasi pasar, membenahi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Langsa dan memberikan pelayanan kesehatan secara maksimal, menekan anggaran pegawai, tata kelola pemerintahan dan perizinan.

Di samping itu, melakukan pendataan aset milik Aceh Timur, seperti gedung Pendopo, kantor pemerintahan Sekretariat Daerah, Gedung DPRK dan gedung-gedung lainnya untuk dihibahkan ke Langsa. Bahkan, mereka juga melakukan perehaban Masjid Raya Darul Falah, meskipun mendapat tantangan dari masyarakat karena menghilangkan artistik dan wakaf orang.

Kemudian, mengatasi persoalan banjir secara berkesinambungan yang mau mereka tuntaskan di tahun 2021 ini. Persoalan banjir ini sangat krusial dan hampir setiap tahunnya terjadi dampak dari meluapnya Krueng Langsa/Sungai Langsa yang merendam gampong-gampong di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS).

“Mengatasi persoalan banjir yang terus-menerus berlangsung, UMARA berharap bisa menuntaskannya di tahun 2021 ini. Jika melihat topografi, kondisi air yang mengenangi Kota Langsa saat ini merupakan limpahan air dari Aceh Timur dan Aceh Tamiang, meskipun persoalan sungai ini bukanlah kewenangan Pemerintah Kota Langsa, tapi kewenangan Pemerintah Pusat dan Provinsi Aceh. Kita tetap mengusulkan program-program kemasyarakatan untuk mengatasi banjir, karena jika tidak segera ditanggulangi akan membahayakan warga,” urai Marzuki Hamid.

Selanjutnya, mengatasi daerah-daerah kumuh di perkotaan yang merupakan milik PT. Kereta Api Indonesia dan warga yang tinggal di kawasan bantaran Krueng Langsa dengan mengusulkan Program KotaKu (Kota Tanpa Kumuh).

“Tindak lanjut dari persoalan itu, kita telah merelokasi 100 KK warga yang tinggal di rel PT KAI ke Gampong Timbang Langsa, ditambah 100 KK warga yang tinggal di bantaran Krueng Langsa tahun 2020. Selanjutnya, di tahun 2021 akan melakukan relokasi kembali 250 KK, jadi berarti sudah 450 KK yang kita relokasi. Insya Allah sampai tahun 2021, semua persoalan itu bisa tuntas,” sebut Marzuki Hamid.

Selain itu, permasalahan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Langsa yang masih rendah, karena Kota Langsa tidak memiliki hasil tambang, dan perusahaan industri. Kemudian mendorong dua kampus di Kota Langsa menjadi Perguruan Tinggi Negeri.

“Kedua kampus ini, baik IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa dan Universitas Samudra (Unsam) Langsa saat ini menjadi daya dongkrak ekonomi masyarakat Kota Langsa, makanya saat ini kita lihat cafe-cafe selalu ramai karena keberadaan 15.000 mahasiswa yang kuliah di dua kampus tersebut,” ungkapnya.

Bahkan, persoalan menghidupkan kembali Pelabuhan Kuala Langsa tak luput dari amatan UMARA, yang hari ini sudah mendapatkan izin ekspor impor, meskipun masih ada pihak-pihak tertentu yang belum ikhlas untuk hidupnya Pelabuhan Kuala Langsa. Apalagi sejarah pernah mencatat bahwa Pelabuhan Kuala Langsa merupakan pelabuhan tersibuk saat itu, belum lagi begitu banyak anggaran dari pusat yang digelontorkan untuk menghidupkan kembali Pelabuhan Kuala Langsa.

Destinasi hutan mangrove di Kuala Langsa menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal dan luar Aceh. 8 Tahun Kepemimpinan UMARA: Goresan Tinta Emas Tak Bertepi. Waspada/ist
Destinasi hutan mangrove di Kuala Langsa menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal dan luar Aceh. 8 Tahun Kepemimpinan UMARA: Goresan Tinta Emas Tak Bertepi. Waspada/ist

Terakhir menghidupkan sektor pariwisata dengan menciptakan wisata domestik yakni wisata hutan mangrove dan hutan kota. Hal ini dilakukan UMARA karena melihat setiap minggunya banyak warga Langsa yang selalu berpergian ke Sumatera Utara berlibur untuk berwisata.

“Tentunya ini sangat kita sayangkan, maka saat itu kita berpikir untuk menciptakan wisata domestik di Langsa agar bisa meningkatkan perekonomian masyarakat dan hasil akhirnya dapat mendongkrak pendapatan asli daerah,” katanya.

Hari ini, Alhamdulillah ternyata destinasi wisata yang telah kita ciptakan, baik itu wisata hutan mangrove dan hutan kota berbuah kebaikan, bisa dinikmati masyarakat meskipun masih banyak kekurangan di sana sini.

Berangkat dari itu semuanya, akhirnya UMARA pun menyusun empat program utama melanjutkan program sebelumnya di tahun kedua kepemimpinan UMARA sebagai kota jasa dengan melihat persoalan-persoalan di masyarakat, yakni sektor jasa pendidikan, jasa kesehatan, jasa pariwisata, jasa industri dan pelabuhan.

“Saat ini kita sedang concern menumbuhkan destinasi pariwisata, bagaimana orang Aceh dan Sumatera Utara bisa singgah ke destinasi wisata Kota Langsa dengan menciptakan wilayah kota menjadi indah, nyaman, tenang dan senang dengan kehadiran Ruang Terbuka Hijau (RTH) serta hiasan lampu-lampu sudut-sudut kota,” ujarnya.

Lalu, jasa industri dan pelabuhan, meskipun itu belum maksimal, namun upaya UMARA untuk terus menghidupkan industri rumah tangga terus dilakukan. “Daerah wisata itu akan hidup, kalau ekonominya direspon oleh masyarakatnya,” tegasnya.

Marzuki Hamid kembali lagi bercerita, visi misi UMARA menjadikan Kota Langsa berperadaban dan Islami, maksudnya maju, berkualitas, modern dengan di bingkai nilai-nilai keislaman.

“Kita tidak boleh lari dari itu, walaupun ada tahapan-tahapan tertentu tidak mungkin kita buat sekaligus kota itu menjadi Islami. Namun, tahapan-tahapan ke arah itu sedang kita persiapkan, karena tidak mungkin dengan sim salabim membangun peradaban masyarakat, harus dengan bertahap. Apalagi dasar awal kita sudah kita lakukan dengan penegakan Syariat Islam yang selanjutnya menuju ke arah itu,” tandasnya.

Dosen IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa, Dr Zulkarnain, MA biasa disapa Abu Chik Diglee dalam kesempatan terpisah menyatakan, hari ini genap satu windu atau delapan tahun pemerintahan UMARA. Artinya, bahwa telah terlampaui masa-masa kritis dinamika sebuah kepemimpinan.

Dalam hal ini, UMARA telah berhasil menanggulangi berbagai persoalan yang terjadi di Langsa, begitu juga menyangkut administrasi keuangan dengan keberhasilan meraih Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) delapan kali berturut-turut.

“Dalam bidang wisata alam, Kota Langsa berhasil meraih Anugrah Pesona Indonesia, dan dalam bidang kebudayaan mengalami kemajuan prestasi yang membanggakan,” sebut Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Langsa ini.

Kini, bayi bernama Kota Langsa itu beranjak mulai dewasa dan wajahnya pun mulai merona, tangan-tangan lentiknya siap menggapai tantangan dan prestasi yang diamanahkan di pundak UMARA.

Semoga di sisa dua tahun masa jabatan UMARA, semakin banyak torehan tinta emas yang mengores di lembaran perjalanan Kota Langsa yang tak bertepi. Selamat buat UMARA…. Waspada/Dj Rendra

              Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba karya tulis yang diselenggarakan PWI Kota Langsa menyambut HPN 2021.

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2